
Adam dan Emilia sampai di rumah sakit. Begitu sampai disana Emilia langsung ditangani oleh dokter Harris. Ini kali kedua dokter itu menangani Emilia.
Adam menunggu di luar ruangan saat dokter Harris memeriksa Emilia. Bahu kanan atasnya perlu dijahit sedikit. Lukanya tidak begitu serius tapi tetap saja dapat mengeluarkan banyak darah. Setelah selesai, Emilia segera dipindahkan ke ruang rawat inap VIP yang dulu pernah ditempatinya.
Emilia nampak terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan wajah yang pucat. Di sampingnya ada Adam yang duduk menjaganya. Efek pengaruh obat yang diberikan membuat Emilia tak sadarkan diri. Lagipula ia memang butuh istirahat yang cukup.
Adam melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Tak terasa sudah jam 5 sore saja. Kemudian ia mendengar pintu diketuk. Rupanya itu adalah orang suruhannya yang dimintanya untuk mengantarkan pakaiannya dan Emilia. Adam mengambil tas berisi pakaian itu dan meletakkannya di atas sofa. Lalu ia pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Selang 30 menit kemudian, Adam keluar dari kamar mandi. Ia terkejut melihat Emilia sudah sadar dari tidurnya. Emilia melihat Adam sudah berganti pakaian dan rambutnya masih lembab bekas habis keramas. Tapi wajahnya masih terlihat memar di beberapa bagian.
Adam berjalan mendekati Emilia dan bertanya, “Haus?”
Emilia hanya tersenyum dan mengangguk. Kejadian seperti ini sudah pernah terjadi sebelumnya. Adam pun mengambil minum dan membantu Emilia untuk meminum air itu.
“Ada lagi?” tanya Adam dengan sangat lembut.
“Lapar,” jawab Emilia dengan pelan sehingga membuat Adam terkekeh mendengarnya.
“Baiklah, aku akan menelepon seseorang untuk membawakan makanan. Kau butuh apa lagi? Biar nanti sekalian dibawakan,” tanya Adam.
Emilia menggeleng. “Tidak. Aku hanya butuh kau saja disini.”
Jawaban Emilia berhasil membuat Adam tersenyum senang. Hatinya terasa berbunga-bunga. Akhirnya Emilia tak sungkan untuk mengatakan bahwa ia membutuhkan Adam di sisinya. Tangan Adam terulur membelai lembut pipi Emilia.
“Kau tenang saja. Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan selalu di sampingmu,” ucap Adam yang senang bukan kepalang.
“Iya, kalau kau tidak disini nanti siapa yang menyuapiku? Tanganku masih sakit, agak sulit digerakkan,” kata Emilia jujur.
Jadi, kau butuh aku disini hanya karna ingin minta disuap? Aku kira karena kau tak bisa jauh dariku. Batin Adam.
“Kau kenapa?” tanya Emilia yang melihat perubahan di wajah Adam.
“Ah tidak, tidak ada,” jawab Adam dengan senyum terpaksa.
“Aku akan memesan makanan dulu sebentar,” tambah Adam lagi.
Adam mengambil handphone-nya lalu menelepon seseorang untuk membawakan makanan. Setelah menelepon ia kembali duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Ia banyak bertanya pada Emilia tentang apa yang terjadi padanya. Emilia pun menjawab tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Tak lama kemudian, makanan yang dipesan pun sampai. Siapa sangka yang mengantar makanan tersebut sampai tiga orang sekaligus, yaitu Ian, Serra dan kekasihnya Doni. Serra diberitahu oleh Ian kalau Emilia sudah ditemukan dan sedang berada di rumah sakit. Untuk itu mereka janjian ingin menjenguk Emilia.
Emilia tak menyangka Serra dan Doni akan datang juga kesana. Ia sangat senang bisa bertemu lagi dengan Serra yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
“Kak Serra..."
“Emilia...” Serra segera berlari menghampiri Emilia. Ia memeluk Emilia sekilas lalu melepaskannya karena bahu Emilia masih sakit.
“Tidak apa-apa, Kak. Sekarang aku sudah lebih baik kok, Kak. Kakak jangan khawatir, ya. Paling besok juga sudah bisa pulang,” kata Emilia menenangkan Serra yang masih terlihat panik.
“Siapa bilang besok kau bisa pulang? Memangnya kau dokternya? Dokter bilang kau butuh istirahat cukup. Kau tidak boleh kemana-mana sampai bahumu sembuh total,” kata Adam dengan sewot. Seenaknya saja dia ikut nimbrung dalam obrolan antara Emilia dan Serra.
Serra baru menyadari ada Adam di seberangnya. Ia memandangi wajah Adam dan tercengang melihatnya. Baru kali ini ia melihat wajah Adam dengan benar dari dekat.
Tampan sekali! Sudah tampan, kaya pula. Yang begini saja masih Emilia jual mahal. Kalau aku yang ditaksirnya, sudah ku ajak nikah dari awal. Hihihi. Serra bergumam dalam hati.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Adam yang tidak nyaman ditatap oleh Serra.
Doni mendekat ke arah Serra dan menyenggol lengannya. Barulah Serra tersadar dari lamunannya.
“Ah, itu...hmmm...maaf Tuan, saya hanya kaget melihat wajah Tuan yang memar. Itu pasti karena Tuan menyelamatkan Emilia, ya? Wah, Tuan hebat sekali,” kata Serra beralasan.
Sementara Adam yang dipuji hanya diam saja. Ia mengalihkan pandangannya ke Emilia lalu tersenyum. “Mau makan sekarang?” tanya Adam dengan lembut yang diangguki oleh Emilia.
“Kau mau makan, ya? Bagaimana biar aku yang suap....kan.......” Serra menggantungkan pertanyaannya saat sadar mendapatkan tatapan maut dari Adam. Ia paham Adam yang ingin menyuapi Emilia. Ia pun tak melanjutkan perkataannya lagi.
Ian dan Doni hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Serra. Sementara Emilia terkekeh di atas ranjang. Serra sendiri mundur dengan teratur. Ia hanya duduk di atas sofa diikuti oleh Doni dan Ian.
Adam mengambil makanan yang sudah dibawa Ian. Lalu menyuap Emilia dengan perlahan. Pemandangan romantis seperti ini membuat ketiga manusia yang sedang duduk di sofa menjadi iri.
“Sayang, nanti malam aku mau disuapi juga, ya,” bisik Serra pada Doni.
“Bahumu kan tidak tertembak,” jawab Doni.
“Jadi aku harus tertembak dulu baru kau mau menyuapiku? Kejam sekali!” kata Serra dengan mengerucutkan bibirnya.
Doni hanya terkekeh mendengar perkataan Serra, begitu pula Ian yang duduk di sebelah Doni. Ian mendengar pertengkaran kecil dua sejoli di sampingnya.
“Tuan, kenapa kau ikut-ikut tertawa?” tanya Serra pada Ian.
“Aku punya pistol dan aku bisa menembak. Kalau kau butuh bantuan, bilang saja,” jawab Ian yang membuat Serra tambah kesal. Doni dan Ian kembali terkekeh melihat ekspresi Serra.
“Tidak, terimakasih. Tembak saja pacar Tuan sendiri biar Tuan bisa menyuapinya. Eh, tapi, tunggu dulu! Pacar? Memang Tuan punya pacar? Tuan jomblo kan? Hahaha, masih mending tidak disuapi tapi setidaknya punya pacar. Dari pada Tuan, boro-boro mau disuapi, pacar saja tidak punya. Hahaha,” ejek Serra sambil menertawai Ian. Ia puas sekali dapat membalas Ian. Sementara Ian hanya menekuk wajahnya saja.
Sialaan nih bocah! Umpat Ian dalam hati.
“Kalian kalau mau arisan jangan disini! Berisik. Kalau sudah tidak ada keperluan lagi, pulang sana! Kalau masih mau disini, duduklah dengan tenang. Suara kalian membuat kupingku sakit,” tegur Adam yang membuat ketiganya terdiam.
Suasana hening kembali.