My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
84. Putri Kecil Yang Kuat Dan Tangguh



Bayi perempuan yang masih merah itu kini berada di ruang NICU untuk diinkubasi. Karena lahir belum cukup bulan, jadi ia butuh perawatan yang intensif sementara waktu. Sementara ibunya, Emelda, masih belum selesai dioperasi.


Darius dan yang lain hanya bisa melihat bayi mungil itu dari balik dinding kaca luar ruang ruangan. Bayi mungil itu sesekali nampak menggerakkan kaki dan tangannya. Sungguh pemandangan yang sangat menyejukkan hati. Tampak seulas senyum terukir di bibir Darius saat melihat darah dagingnya menggeliat seperti minta digendong.


“Putri kecil, Daddy. Daddy tidak sabar ingin menggendongmu, Nak,” ucap Darius pelan tapi masih didengar oleh yang lain.


“Kau sudah punya nama untuknya?” tanya Adam yang berdiri tak jauh darinya.


Darius mengangguk. “Aku akan memberinya nama Valencia.”


“Valencia?” ulang Emilia.


“Ya, Valencia. Karena dia putriku yang kuat dan tangguh. Jadi aku menamainya dengan Valencia. Valencia Darius,” kata Darius menjelaskan. Matanya tak beralih dari menatap bayi mungilnya.


“Nama yang sangat indah dan bagus,” ucap Emilia dengan mata berbinar.


“Sayang, kau mau aku mempersiapkan nama anak kita juga tidak dari sekarang?” tanya Adam tiba-tiba.


Emilia mengerutkan keningnya menatap Adam. “Jangan aneh-aneh, nikah saja belum.”


“Ppfffttttt,” Ian yang mendengar itu berusaha menahan tawanya.


“Kau sudah bosan kerja denganku, ya?” ketus Adam pada Ian.


“Maaf, Tuan.”


“Kenapa kau masih ikut-ikutan disini? Pulang sana, tugasmu sudah selesai,” usir Adam. Ia masih kesal ditertawakan asistennya itu. Padahal dia kan sedang berusaha menggoda Emilia.


“Baik, Tuan. Kalau sudah tidak ada yang dibutuhkan lagi saya pamit dulu.”


Ian membungkukkan badannya lalu pergi meninggalkan tempat itu.


“Kenapa galak sekali, sih? Dia kan sudah banyak berjasa padamu,” ucap Emilia pada Adam.


Adam berdecak. “Sayang, aku bisa cemburu juga kalau kau terus memperhatikan orang lain.”


“Kau pencemburu sekali.”


“Memang. Baguslah kalau kau sudah tau.”


Emilia memutar bola matanya dengan malas.


“Sebaiknya kalian juga pulang saja. Istirahatlah dulu. Kalian bisa datang lagi besok kalau mau menjenguk Emelda dan Valencia,” kata Darius menengahi.


“Bagaimana denganmu?” tanya Emilia.


“Aku akan berjaga disini sampai Emelda sadar nanti. Operasinya saja belum selesai. Kau istirahat saja dulu, Emilia. Aku sangat berterimakasih pada kalian berdua. Terimakasih banyak sudah menolongku dan keluargaku,” ucap Darius.


Adam mendekat dan menepuk salah satu pundak Darius. “Jangan lupa, kita ini kan dulunya sahabat, dan setelah semua ini aku harap kita masih bisa menjadi sahabat. Tidak perlu berterimakasih seperti itu. Itu sudah kewajiban seorang sahabat untuk saling menolong.”


Darius mengangguk lalu memeluk Adam sebentar kemudian melepaskannya. Adam sungguh baik padanya. Ia menyesal sudah pernah bertindak buruk pada Adam dan Emilia dulu.


Emilia tersenyum melihat Adam yang sangat tulus menolong sahabatnya itu. Ia merasa beruntung dicintai seorang Adam Smith.


“Baiklah kami pulang dulu. Kalau butuh apa-apa jangan sungkan menghubungiku,” kata Adam.


“Baiklah, terimakasih. Hati-hati di jalan,” sahut Darius.


Saat Emilia ingin masuk ke kamar, tiba-tiba Adam menarik tangannya.


“Ada apa?” tanya Emilia.


“Kau ingat ucapanmu waktu di mobil kan?” tanya Adam balik.


Emilia nampak berpikir sejenak tapi ia lupa pernah mengatakan apa pada Adam.


“Aku lupa. Memang aku bilang apa?”


“Kau bilang kita akan menikah setelah Emelda melahirkan bukan?”


Ya ampun, bisa-bisanya dia malah mengingat itu sekarang. Batin Emilia.


Emilia menggigit bibirnya bawahnya. Tiba-tiba ia jadi gugup sendiri saat Adam menyebutkan kata pernikahan.


Adam mendekatkan wajahnya ke Emilia.


“Jangan bilang kalau kau melupakan itu,” ucap Adam pelan tapi tegas.


“A-aku itu, aku sudah ingat kok.”


“Bagus. Kalau begitu bisakah kita menikah besok?”


“Hah?” Emilia kaget bukan main dengan pertanyaan Adam.


“Kenapa kaget begitu?”


“Tapi kan menikah butuh persiapan,” jawab Emilia pelan.


“Aku bisa mengurusnya dalam satu malam kalau kau mau.”


“Jangan begitu, sabar dulu.”


“Dari kemarin kau menyuruhku sabar terus. Apa kau mau aku khilaf dulu baru kita menikah?” tanya Adam sambil menakuti Emilia.


“Ihhh, jangan!” Emilia menyilangkan tangannya di dada.


“Aku kan belum bertemu orang tuamu. Kita bicarakan ini dengan orang tuamu, ya,” bujuk Emilia.


“Huhhh, baiklah kali ini kau menang. Besok setelah menjenguk Emelda dan anaknya, kita bertemu ibuku.”


Emilia mengangguk. “Ya sudah, aku masuk ke kamar dulu.”


“Tunggu!”


Adam menunjuk pipinya dengan jari telunjuknya. Emilia sudah tau itu kode dari Adam minta dicium.


Emilia mendengus tapi ia tetap mendekat dan mencium pipi Adam dengan cepat lalu ia segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu.


Adam tergelak melihat tingkah kekasihnya itu.


“Makin hari dia makin menggemaskan saja. Kau tunggu tanggal mainnya nanti, Emilia.”


Adam pun masuk ke kamarnya untuk beristirahat.