
Adam dan Emilia kini sudah berada di rumah Adam. Awalnya Adam akan mengantar Emilia pulang ke apartemen, tapi di perjalanan ibunya meminta agar mereka segera kembali ke rumah.
Ibunya Adam yakni Anita sudah menunggu mereka di ruang tamu. Dan lagi-lagi Ian juga ada disana waktu itu. Adam sempat heran melihat Ian sudah berada disana juga. Seingatnya dia tidak meminta Ian datang ke rumahnya.
“Ah, kalian sudah sampai rupanya. Ayo duduk disini, Emilia.”
Anita menepuk sofa di sebelahnya agar Emilia duduk di sampingnya. Emilia pun menuruti itu.
“Ada apa kau kesini? Bukankah kau harusnya bertemu Darius di rumah sakit?” tanya Adam pada Ian.
“Benar, Tuan. Tapi saya diminta Nyonya Anita datang kesini dulu. Ada tugas penting yang akan Nyonya berikan,” jawab Ian.
Adam menaikkan alisnya. “Tugas penting?”
“Benar. Ibu yang memintanya kesini,” jawab Anita.
“Untuk apa?”
“Untuk mengawasimu sementara waktu,” jawab Anita enteng.
Adam merasa ada yang janggal dengan jawaban ibunya. Apa yang sedang mereka rencanakan sebenarnya?
“Jadi begini, ibu sudah memutuskan pernikahan kalian akan dilaksanakan minggu depan. Jadi......”
“Minggu depan?” gumam Emilia pelan tapi masih bisa didengar oleh Anita yang duduk di sebelahnya.
“Iya, sayang. Kalian akan menikah minggu depan. Oleh karena itu........” Anita melirik ke Adam. “Sebelum menikah ibu akan memisahkan kalian untuk sementara waktu. Kalian tidak boleh bertemu dulu sampai hari pernikahan kalian.”
“Apa?” Adam melotot tidak percaya. Satu hari saja tidak bertemu Emilia dia sudah sangat merindukannya, apalagi ini harus menunggu beberapa hari sampai acara pernikahan.
“Tidak, Bu. Tidak bisa. Aku tidak setuju. Ibu mau menyiksaku selama itu?” protes Adam.
“Hei, ini memang tradisi sebelum menikah. Cuma beberapa hari saja. Tidak akan lama. Setelah itu Emilia akan jadi istrimu. Kau bisa melihatnya setiap hari.”
“Tradisi apa seperti itu? Ayolah Bu, ini sudah jaman modern. Tidak perlu mengikuti tradisi itu.”
“Tidak. Kalian tetap akan ibu pisah sementara. Emilia akan tinggal disini bersama ibu. Dan kau, tinggal di apartemen. Ian akan mengawasimu, jadi jangan coba-coba untuk menemui Emilia dulu. Kalau tidak, pernikahan kalian ibu tunda jadi tahun depan,” ancam Anita.
What? Tahun depan? Bisa gila aku kalau terlalu lama menahan hasratku ini. Emilia, ayolah bantu aku bicara pada ibu. Kenapa kau malah diam saja? Aku kan tidak bisa jauh darimu. Gumam Adam dalam hati.
Adam melirik Emilia, minta tolong agar ikut membujuk ibunya. Tapi ternyata Emilia hanya menaikkan bahunya saja. Ia tak ingin menentang calon mertuanya itu.
“Baiklah. Aku tidak bisa apa-apa lagi. Aku setuju dengan syarat dari ibu,” kata Adam pasrah.
“Bagus. Kalau begitu sekarang juga kau harus kembali ke apartemen. Ingat, tidak boleh bertemu Emilia dulu,” balas Anita.
“Iya, iya, tapi aku mau bicara dulu dengan Emilia sebentar. Ayo, Sayang!”
Adam bangun dari duduknya dan segera menarik tangan Emilia. Ia tidak mau orang lain mendengar pembicaraannya. Karena itu ia mengajak Emilia untuk menjauh dari Anita dan Ian.
“Sayang, tadi kenapa diam saja tidak membantah ibu? Kau takut ya sama calon mertuamu?” tanya Adam sambil menekuk wajahnya.
Emilia terkekeh melihat ekspresi Adam seperti itu. “Tidak baik membantah orang tua. Daripada kita menikah tahun depan, apa kau mau?”
Adam menggeleng.
“Nah, makanya kita turuti saja apa permintaan ibu. Tidak lama kok. Hanya seminggu. Setelah itu kita bisa bersama tiap hari. Bukankah itu bagus? Aku sering dengar, kalau pasangan yang mau menikah itu cobaannya makin banyak, jadi dengan jarang bertemu kita bisa mengurangi perdebatan atau pertengkaran yang dapat merusak hubungan. Tapi kalau kita lama tidak bertemu kita akan saling merindukan satu sama lain dan.......”
“Dan aku tidak akan melepaskanmu lagi saat kita bertemu. Pokoknya kau akan ku kurung seharian di kamar,” potong Adam.
Emilia langsung mencubit lengan Adam.
“Ih, kau ini. Belum apa-apa mikirnya sudah kesana terus.”
“Biarin. Siapa suruh buat aku rindu.”
“Iya, iya, sudahlah, sebaiknya kau segera kembali ke apartemen.”
“Hm. Kau jaga dirimu baik-baik disini, ya. Aku akan selalu merindukanmu, Emilia. I love you,” ucap Adam lalu mengecup kening Emilia sebentar.
“I love you too. Jaga dirimu baik-baik. Jangan kelelahan bekerja, ya,” kata Emilia.
“Iya, calon istriku,” ucap Adam sambil mengedipkan matanya, membuat pipi Emilia menjadi merona merah.
Sebenarnya Adam sangat berat sekali harus berpisah dengan Emilia meski hanya beberapa hari. Tapi keputusan ibunya tidak dapat dibantah. Ia terpaksa menahan rindunya selama beberapa hari ke depan.
***
Maaf kemarin libur 2 hari nulisnya. Maklum, mau persiapan lebaran hihihi 🤭
Sehat selalu ya readers ku, selamat membaca 🤗