
Besoknya Adam dan Emilia membesuk Emelda dan bayinya di rumah sakit. Mereka membawa beberapa baju dan perlengkapan untuk bayi dan ibunya. Dan itu semua sudah dipersiapkan oleh Ian dan Clara.
“Hai Emelda, bagaimana keadaanmu?” tanya Emilia.
“Sudah lebih baik. Paling bekas jahitannya saja yang masih ngilu,” jawab Emelda.
“Kau harus banyak makan dan minum vitamin, ya. Biar cepat pulih kembali. Ngomong-ngomong apa kau sudah bertemu dengan bayimu?” tanya Emilia yang melihat bayinya tidak ada di ruangan itu.
“Sudah tadi pagi. Aku bahkan sudah memberinya ASI secara eksklusif. Tapi dia masih harus diinkubasi, jadi belum dipindahkan kesini,” jawab Emelda.
“Syukurlah. Semoga Valencia cepat dipindahkan disini bersamamu.”
“Kau sudah tau namanya?”
“Iya, Darius yang memberitahu kami tadi malam.”
Emelda melihat Darius yang sedang duduk di sofa bersama Adam, lalu pria itu mengangguk.
“Baiklah Emelda, aku rasa kami lebih baik pamit dulu. Kau juga kan harus banyak istirahat. Setelah ini kami mau melihat Valencia sebentar.”
“Iya. Terimakasih ya sudah menjengukku dan anakku. Terimakasih juga kadonya. Kami terlalu banyak merepotkan kalian.”
“Jangan bilang begitu. Aku senang bisa membawa hadiah untuk keponakanku sendiri. Ya sudah, kami pulang dulu. Cepat pulih, ya.”
“Terimakasih, Emilia, Adam.”
Setelah berpamitan Adam dan Emilia pun pergi ke ruangan NICU untuk menjenguk Valencia sebentar. Meskipun hanya dapat melihat dari balik dinding kaca, tapi Emilia sudah cukup bahagia. Bayi kecil itu tampak tertidur pulas. Sesekali lidahnya terlihat menjulur keluar. Lalu ia kembali tidur dengan tenang.
“Lucu sekali. Dia sangat menggemaskan,” ucap Emilia.
“Kau mau bayi juga?” tanya Adam. Lalu Emilia pun mengangguk.
“Ya sudah, ayo kita buat secepatnya.”
Plak.
Emilia memukul lengan Adam. “Kau ini tidak bisa disinggung soal anak sedikit. Pasti arah bicaranya langsung kesana.”
“Tapi kan itu benar, Sayang. Bagaimana mau punya anak kalau kita belum membuatnya?”
Emilia hanya menggelengkan kepalanya.
“Sudahlah, ayo kita pulang ke rumahmu untuk bertemu ibu,” ajak Emilia sebelum Adam semakin aneh.
“Oke, ayo!”
Adam menggenggam tangan Emilia dan membawanya pulang ke rumahnya.
Disana Anita sudah menunggu calon menantunya itu datang. Ia tak sabar melihat bagaimana reaksi Emilia saat tau bahwa dirinya adalah ibu dari Adam. Selama ini mereka sudah dua kali bertemu tapi Emilia masih belum mengetahui kalau Anita adalah ibunya Adam.
Ketika sampai di rumah Adam, Emilia sampai menganga dibuatnya. Rumah itu sangat besar dan memiliki halaman yang sangat luas.
“Ini rumahmu? Sebesar ini?” tanya Emilia sambil melihat ke sekitarnya.
“Iya, nantinya ini juga akan menjadi rumahmu. Ayo masuk!”
Adam segera menggandeng tangan Emilia dan menuntunnya untuk masuk ke dalam rumah. Anita sudah menunggu mereka di ruang tamu. Disana juga sudah ada Ian yang menyusul Adam karena ada berkas penting yang harus ditandatangani.
“Selamat datang, Emilia,” ucap Anita sambil tersenyum pada Emilia.
“Tante?” Emilia keheranan. Dalam hatinya bertanya-tanya apakah wanita di depannya ini adalah ibunya Adam?
Emilia menoleh ke Adam, lalu Adam mengangguk. Anita pun mendekat ke Emilia lalu memeluknya sebentar.
“Tante memang sengaja tidak memberitahumu waktu itu. Tante mau tau seperti apa dirimu. Ternyata kau wanita yang sangat baik. Tante senang punya menantu sepertimu,” ucap Anita. Emilia terlihat mengembangkan senyumnya mendengar pujian dari calon mertuanya itu.
“Tante, saya juga sangat senang tante bisa menerima saya masuk ke keluarga ini. Saya hanya orang dari kalangan biasa, Tante. Orangtua saya juga sudah meninggal. Saya sangat bersyukur Tante mau menerima saya,” kata Emilia dengan mata yang berkaca-kaca.
“Jangan bicara begitu, bagi Tante dan keluarga, status sosial tidaklah penting. Yang paling penting adalah kebahagiaan anak Tante, Adam. Kalau Adam sangat mencintaimu, maka tidak ada alasan bagi Tante untuk tidak menerimamu di keluarga ini.”
“Terimakasih, Tante.”
“Iya, tidak perlu sungkan. Jadi, kapan rencana kalian akan menikah?” tanya Anita kemudian.
“Secepatnya,” jawab Adam cepat.
“Hmmm boleh tidak aku pulang dulu ke kotaku? Aku mau mengunjungi makam orang tuaku dulu untuk meminta restu,” tanya Emilia.
“Tentu boleh, Sayang. Aku kan juga ingin minta restu dengan calon mertuaku,” jawab Adam yang membuat Emilia merasa sangat senang.
“Ya sudah, kalau begitu ayo kita makan dulu. Sambil kita bicarakan konsep pernikahan seperti apa yang kalian inginkan. Ian, kau juga ikut makan, ya. Urusan pekerjaan tunda nanti dulu,” titah Anita.
“Baik, Nyonya.”
Mereka pun makan siang bersama di rumah Adam sambil membicarakan konsep pernikahan yang diinginkan. Ternyata Emilia lebih suka jika pernikahannya dilaksanakan di outdoor. Adam hanya menyetujui semua keinginan Emilia. Apapun yang Emilia inginkan, pasti Adam turuti.
***
Setelah selesai makan dan berbincang masalah pernikahan, Emilia diantar oleh Adam dan Ian pulang ke apartemen. Adam sengaja meminta Ian bersamanya agar mereka bisa kembali ke kantor dengan mobil yang sama.
“Ian, besok tolong kosongkan jadwalku setelah makan siang. Aku dan Emilia akan pergi ke makam orang tuanya besok,” kata Adam pada Ian yang sedang menyetir.
“Baik, Tuan.”
“Oh ya, Sayang, besok kita....sebentar, sebentar." Adam tiba-tiba mendapat telfon masuk. Ia tidak jadi melanjutkan percakapannya dengan Emilia.
Adam terlihat sedang teleponan dengan rekan bisnisnya. Sesekali ia nampak tertawa tapi juga tetap serius. Emilia hanya memperhatikan Adam yang sedang menelepon. Setelah selesai, Adam pun kembali menyimpan handphone di saku jasnya.
“Rekan bisnismu?” tanya Emilia.
“Iya, rekan bisnisku, Sarah. Aku rasa kau pernah bertemu dengannya,” jawab Adam.
Sarah? Gawat! Kenapa Tuan Adam menyebut nama itu? Jangan sampai dia keceplosan. Gumam Ian dalam hati sambil melirik ke belakang lewat spion mobil.
“Sarah? Aku tidak kenal,” ucap Emilia.
“Aku rasa kau pernah bertemu dengannya. Kami dulu pernah makan siang di tempatmu bekerja.”
Aduh, sial*n! Kenapa aku keceplosan! Waktu itukan aku dan Emilia sedang tidak baikan. Semoga Emilia tidak ingat. Batin Adam.
Sayangnya Emilia langsung mengingat dengan jelas saat dimana Adam membuatnya cemburu dengan memeluk wanita itu di depannya bahkan Adam juga sempat menyeka bibirnya yang kotor dengan tissu. Emilia tiba-tiba merasa cemburu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela mobil.
“Sayang, aku minta maaf. Aku tidak benar-benar ingin melakukannya saat itu. Dia hanya rekan bisnisku, tidak lebih.”
Adam tau Emilia sedang cemburu. Dia cepat-cepat membujuk Emilia sebelum dia marah besar.
Emilia menoleh ke Adam. “Iya, tidak apa-apa. Kita juga sudah mau menikah kan, jadi aku harap kau bisa jaga jarak dengan rekan bisnis wanitamu.”
“Iya, Sayang. Aku hanya mencintaimu.”
Adam mencium kedua tangan Emilia secara bergantian. Emilia hanya bisa tersenyum dengan terpaksa. Tapi hatinya masih cemburu mengingat kejadian di restoran beberapa waktu lalu.