My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
95. Hari Pernikahan



Hari demi hari terasa begitu cepat berlalu. Kini, hari yang paling dinantikan oleh sepasang kekasih itu telah tiba. Hari dimana mereka akan saling mengucapkan janji setia untuk selalu bersama dalam suka maupun duka. Hari dimana dua orang yang berbeda latar belakang akan disatukan dalam sebuah ikatan menuju bahtera keluarga.


Hari ini adalah hari pernikahan Adam dan Emilia. Undangan sudah tersebar dari beberapa hari yang lalu. Acara pernikahan diadakan tepat di halaman rumah keluarga Smith yang luas itu. Dekorasi bernuansa putih menghiasi setiap penjuru halaman dengan indah. Dalam sekejap halaman itu diubah bak taman bunga yang indah dan menyejukkan.


Di dalam kamar pengantin, Emilia sudah bersiap dengan gaun pilihannya. Meskipun ia hanya menggunakan riasan yang natural, tapi tak mengurangi sedikitpun kecantikannya. Malah memancarkan seri kecantikan bak putri raja.


Anita masuk ke kamar itu, lagi-lagi ia dibuat takjub oleh kecantikan menantunya. Adam memang tak salah memilih pasangan hidup.



“Kau cantik sekali, Sayang,” ucap Anita dengan wajah berbinar.


“Ibu juga terlihat sangat cantik hari ini,” balas Emilia menutupi groginya.


“Kau bisa saja. Sudah siap? Ayo kita turun sekarang,” ajak Anita.


Emilia pun mengangguk. Dengan dibantu oleh dua orang makeup artisnya yang memegang gaun, ia berjalan menuju ke halaman tempat pernikahannya akan digelar.


Para tamu terlihat sudah memenuhi kursi-kursi yang disediakan. Saat Emilia tiba disana, semua menatap kagum pada calon mempelai wanita yang begitu cantik mempesona. Aura bahagia terpancar dari wajahnya yang tak berhenti mengulas senyum manisnya. Namun tak dipungkiri sebenarnya Emilia sangat gugup saat itu.


Emilia pun duduk di kursi paling depan didampingi Anita di sebelahnya. Ia tinggal menunggu mempelai pria nya saja untuk sama-sama melangkah ke pelaminan yang sudah ada di depan mata.


Emelda dan Darius berada di barisan kursi paling depan juga di sebelah barisan Emilia. Baby Valencia tampak tenang berada di dekapan ayahnya. Serra dan Doni terlihat duduk sebaris dengan mereka. Ada juga dokter Harris yang datang bersama istrinya. Selebihnya masih banyak lagi tamu-tamu lain yang berasal dari rekan bisnis Adam.


Tak lama terlihat Ian datang seorang diri lalu duduk disamping Anita. Seharusnya ia datang bersama Adam waktu itu, tapi Adam tak terlihat disana.


“Loh, kenapa kau disini? Mana Adam?” tanya Anita keheranan.


“Seharusnya kami memang pergi bersama, Nyonya. Tapi Tuan Adam meminta saya pergi duluan kesini. Sebentar lagi dia pasti sampai,” jawab Ian.


Emilia yang mendengar pembicaraan mereka pun jadi ikut khawatir. Senyum di wajahnya tiba-tiba saja memudar.


“Nyonya tenang saja. Sebentar lagi Tuan Adam pasti sampai,” ucap Ian.


“Kau tau kemana dia? Apa dia punya rencana lain?” tanya Anita lagi.


“Tuan tidak bilang apa-apa, Nyonya. Tadi dia hanya memaksa saya untuk datang kesini duluan.”


“Tuh kan, ada-ada saja!”


Anita bertambah cemas mendengar jawaban Ian, begitu juga dengan Emilia. Sesekali Emilia melirik ke belakang tepat dimana harusnya Adam sudah datang lalu berjalan melalui gerbang yang dilengkapi dengan bunga-bunga sebagai hiasannya.


Adam, kau dimana? Kenapa kau belum datang juga? Aku mohon jangan membuat aku khawatir begini. Gumam Emilia dalam hati.


Emilia terus melihat ke belakang. Hal itu mengundang tanya bagi para tamu yang datang. Mereka pun saling berbisik menanyakan keberadaan calon mempelai pria. Sudah tidak ada lagi senyum di wajah Emilia. Yang tersisa hanya raut kekhawatiran yang terpahat dengan jelas.


Apa dia berubah pikiran dan tidak mau menikah denganku?


Emilia menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tidak. Itu tidak mungkin! Adam pasti datang. Dia akan segera datang.


Detik-detik menanti kedatangan Adam terasa menyesakkan bagi Emilia. Ia khawatir sekali dengan Adam. Apalagi saat Ian meneleponnya tapi tidak ada jawaban.


Emilia sudah kehilangan kesabaran. Setengah jam sudah berlalu tapi Adam belum muncul juga. Dengan spontan Emilia berdiri dari duduknya lalu melihat ke arah belakang. Ke arah gerbang dimana Adam sudah seharusnya tiba disana. Para tamu pun sontak menoleh ke belakang. Mereka juga ikut khawatir menunggu mempelai pria yang tak kunjung tiba.


Bersambung...