My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
57. Menyelamatkan Emilia



Di apartemen miliknya, Darius sudah mengumpulkan 3 orang anak buahnya yang berbadan besar tinggi untuk membantunya melakukan rencananya. Ia berniat untuk memindahkan Emilia hari ini ke tempat lain, yakni ke sebuah gudang lama yang tidak terpakai yang berada jauh dari pemukiman. Setelah itu barulah ia akan menghubungi Adam dan meminta Adam melakukan apa yang dia inginkan.


“Kalian 2 orang, berjaga di depan pintu kamar belakang. Awasi wanita itu jangan sampai kabur! Dan kau, kau berjaga di pintu apartemenku. Jaga saja dari dalam, perhatikan jika ada seseorang yang datang kesini. Jangan sembarangan buka pintu! Kalian paham?” kata Darius memberikan tugas pada ketiga anak buahnya.


“Paham, Tuan,” seru mereka bertiga.


“Bagus, lakukan tugas kalian sekarang. Aku mau ke kamar dulu.”


Setelah memberi tugas, Darius pun masuk ke kamarnya. Ia menemui Emelda di kamar dan meminta Emelda untuk tidak bepergian kemana-mana dulu sementara waktu, tetap berada di kamarnya saja.


"Kau jangan kemana-mana. Tetaplah disini. Aku akan mengurus Emilia hari ini," kata Darius pada Emelda yang sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamar.


"Mau kau bawa kemana dia?" tanya Emelda.


"Sudahlah, kau tidak perlu tau. Pokoknya kau diam saja disini. Jangan keluar kemana-mana! Aku tidak mau rencanaku gagal."


"Tapi kau jangan menyakitinya! Bagaimanapun juga dia itu saudara kandungku." Ternyata masih ada juga rasa peduli Emelda pada kembarannya. Ia tidak tau saja kalau Darius sudah satu kali menampar Emilia.


"Aku tidak akan menyakitinya. Dia yang menyakiti dirinya sendiri dengan tidak mau makan. Bukan salahku kalau dia nanti jatuh sakit."


Emilia memang menolak untuk memakan makanan yang disiapkan Darius untuknya. Ia merasa sangat kesal pada Darius dan Emelda karena itu ia menolak untuk makan. Dari kemarin ia hanya minum air putih yang ada di dalam botol saja untuk mengganjal perutnya.


"Sudahlah, istirahatlah yang banyak," kata Darius menyudahi pembicaraannya.


Kemudian Darius berjalan agak menjauh dari Emelda, lalu ia pun menelepon seseorang  yang dimintanya mengurus gudang tempat nanti Emilia akan dipindahkan.


“Bagaimana gudangnya sudah siap? Bagus. Aku akan memindahkannya hari ini kesana. Pastikan semuanya aman. Lakukan tugasmu dengan baik. Masalah bayaran kau tidak perlu khawatir. Lakukan saja yang aku perintahkan.”


***


Sementara itu Adam dan Ian sudah sampai di gedung apartemen tempat Darius tinggal. Sebelum menaiki lift, Adam meminta Ian menelepon pihak kepolisian terlebih dahulu karena ini sudah termasuk kasus penculikan. Ian dengan cepat menelepon polisi. Setelah selesai, mereka berdua masuk ke dalam lift dan menuju ke apartemen Darius.


Tiittt tiiitttt tiiittt.


Ian memencet bel apartemen Darius. Pria yang bertugas berjaga disana melihat dari layar kecil dekat pintu siapa yang datang. Pria itu mengenali Adam dan Ian. Ia pun panik dan hendak melapor ke Darius. Ternyata Darius sudah keluar dari kamar karena mendengar suara bel yang dipencet berkali-kali dengan tidak sabar.


“Siapa yang datang? Kenapa berisik sekali?” tanya Darius.


“Tuan, ada Tuan Adam bersama asistennya di depan pintu,” jawab pria itu dengan wajah panik.


“Adam dan Ian? Kenapa mereka secepat ini datang kemari? Kita belum memindahkan Emilia, mereka tidak boleh masuk ke dalam.”


“Jadi bagaimana, Tuan? Apa biarkan saja mereka di depan?”


Braaakkkkkkk!


Baru saja berkata seperti itu, pintu apartemennya sudah ditendang dengan sangat keras. Siapa lagi yang menendang kalau bukan Adam. Dia sudah geram melihat Ian terus memencet bel tapi tidak ada tanggapan dari dalam. Maka dari itu ia langsung menendang pintu itu sekuat tenaga. Dengan sekali tendangan saja sudah berhasil membuat pintu itu terbuka.


Darius terbelalak melihat Adam dan Ian dapat masuk ke apartemennya. Rencananya bisa gagal kalau seperti ini. Baru saja dia ingin memindahkan Emilia. Ternyata Adam sudah lebih dulu datang ke apartemennya.


“Dimana kau sembunyikan Emilia?” tanya Adam tanpa basa-basi.


“Hoooo sabar dulu Adam, tenang dulu. Apa yang membuatmu datang kemari dengan merusak pintuku lalu bertanya soal Emilia? Bukannya kau kekasihnya? Tentu kau lebih tau dimana dia,” jawab Darius berusaha tenang.


“Jangan banyak bicara kalau masih mau selamat! Jawab sekarang dimana Emilia?” tanya Adam dengan nada suara yang lebih tinggi dari sebelumnya.


“Aku tidak tau. Kalau kau cari Emelda, dia ada di kamar,” jawab Darius sembarangan.


Adam sudah tidak tahan lagi. Kesabarannya hilang melihat tingkah tengil Darius. Tanpa banyak bicara ia melangkah ke arah Darius hendak memberinya bogem mentah, tapi ia dihadang oleh anak buah Darius. Adam pun mendaratkan satu tinju ke pria tersebut hingga membuatnya jatuh tersungkur. Kemudian Ian segera membantu Adam menghadapi pria itu.


Adam kembali pada target utamanya yaitu Darius. Ia melayangkan satu pukulan ke arah Darius tapi berhasil ditangkis. Darius malah membalas ingin meninju Adam tapi Adam segera menghindar lalu berbalik menyerang dengan satu pukulan di wajah dan satu tendangan di perut. Kali ini Darius tak dapat mengelak. Ia terjatuh ke lantai akibat serangan Adam.


“Aku sudah punya rekaman CCTV saat kau menculik Emilia di depan restoran tempat dia bekerja. Kau masih mau mengelak lagi? Jawab sekarang dimana Emilia sebelum  aku benar-benar menghabisimu!” ancam Adam dengan nada membunuh.


Darius malah mengacuhkannya. Sudah kepalang basah pikirnya. Ia tak mau melepas Emilia begitu saja. Ia berusaha bangkit dan berdiri melihat Adam dengan tatapan menantang.


“Ternyata kau memang mencintainya.  Aku tidak akan semudah itu melepasnya sebelum mendapatkan apa yang aku mau.”


“Brengseeekkk!”


Bugh. Bugh. Bugh.


Perkelahian kembali terjadi. Adam dan Darius saling serang, begitu pula dengan  Ian dan anak buah Darius. Di tengah perkelahian muncul satu lagi anak buah Darius yang ikut memukul Adam. Sekarang ada 2 orang yang sekaligus memukuli Adam. Adam sedikit kewalahan. Sudut bibir dan pelipisnya sudah berdarah akibat terkena pukulan dari kedua orang itu.


Di tengah perkelahian Adam samar-samar mendengar suara jeritan seseorang minta tolong. Adam menajamkan pendengarannya. Didengarnya lagi dengan seksama, suara itu seperti suara Emilia.


"Tolooongggg....tolong aku.....tooolooonnggg"


Memang benar itu adalah Emilia yang berteriak minta tolong dari dalam kamar tempat ia disekap. Emilia mendengar ada suara ribut dari luar. Ia pikir ini adalah kesempatannya untuk berteriak minta tolong.


Saat Adam lengah karena memperhatikan suara Emilia, tiba-tiba saja sebuah stick golf diayunkan ke arah kepala Adam oleh anak buah Darius. Ian yang menyadari hal itu sontak berteriak, “ Tuan Adaaaammmmmm!”


Bersambung