My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
58. Menyelamatkan Emilia (2)



“Tuan Adaaaammmmmm!” teriak Ian dengan sangat keras saat melihat anak buah Darius mengayunkan stick golf ke arah kepala Adam.


Apakah stick golf itu berhasil mengenai kepala Adam? Jawabannya adalah tidak. Adam ternyata sedang dalam keadaan waspada saat itu. Ia segera menunduk dengan cepat hingga yang terpukul hanyalah angin saja.


Pria yang hendak memukul Adam tadi kembali mengayunkan stick golf itu, tapi Adam langsung menahan dengan tangannya yang kekar dan menendang dada pria itu dengan sangat keras.


Bruuukkk.


Pria itu ambruk ke belakang. Tendangan Adam cukup keras hingga menimbulkan rasa yang sangat sakit di dadanya. Sekarang tersisa Darius yang tak tinggal diam melihat anak buahnya sudah rubuh. Ia pun melayangkan tendangan bertubi-tubi ke arah Adam, tapi Adam mengelak dengan mundur ke belakang sambil tangannya bergerak menepis tendangan Darius.


Hap! Adam berhasil menangkap kaki Darius, tapi ternyata Darius dengan cepat mengayunkan kakinya satu lagi tepat di wajah Adam. Adam pun jatuh ke lantai, tapi ia segera bangkit dan membalas tendangan Darius tepat di wajahnya juga sehingga membuat Darius jatuh terpental.


“Hentikaaaannnn!” jerit Emelda yang melihat kekacauan yang terjadi di depan matanya. Dari tadi dia sudah menahan diri untuk tidak keluar kamar saat mendengar keributan. Tapi lama-lama suara gaduh itu tak kunjung selesai hingga ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya.


“Hentikan semua ini! Adam, tolong jangan sakiti Darius!” Emelda melihat Darius sudah luka-luka dan tersungkur di lantai.


Adam mendekati Emelda. Ia mencengkeram dagu Emelda kuat-kuat dengan sebelah tangannya. Emelda bergidik ketakutan melihat aura mematikan dari wajah Adam.


“Katakan padaku dimana Emilia! Jangan sampai kau menyesal karena tidak mau berkata jujur padaku!”


“Di-dia di belakang. Ya, dia di be-belakang. Di kamar bekas pembantu dulu,” jawab Emelda dengan ketakutan.


“Adam, jangan sakiti Emelda dan anakku!” teriak Darius saat melihat Emelda kesakitan karena dicengkeram Adam. Ia sendiri masih terseok-seok hendak berdiri.


Adam melepaskan tangannya dengan kasar. Lalu ia beralih menatap Darius. “Jangan khawatir, aku bukan pengecut sepertimu yang berani menyandera wanita hanya demi kepentinganmu sendiri.”


Darius mengepalkan tangannya saat mendengar sindiran dari Adam. Ia baru saja berhasil berdiri, tapi Ian dengan cepat menendang belakang lututnya hingga ia kembali terduduk.


Huh, puas sekali rasanya. Sudah lama aku ingin melakukan ini padamu saat tau kau mengkhianati Tuan Adam. Batin Ian.


Adam bergegas meninggalkan mereka karena sudah ada Ian yang berjaga. Ia segera menuju kamar belakang seperti yang disampaikan Emelda tadi. Ia mendapati pintu itu terkunci dari dalam. Tanpa buang waktu, ia kembali menendang pintu itu sampai rusak dan akhirnya terbuka.


Braaakkkkkkk.


Pintu terbuka. Adam masuk ke kamar itu. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah seorang pria yang sedang menodongkan pistolnya ke kepala Emilia yang duduk di pinggir ranjang. Sementara Emilia sendiri satu tangannya terborgol di ranjang.


Deg. Hati Adam berdenyut melihat kondisi Emilia saat itu. Di sudut bibirnya nampak bekas darah yang telah mengering. Rambutnya acak-acakan. Matanya sembab seperti habis menangis berkali-kali. Dan bibirnya terlihat kering. Wanita yang selalu ceria itu tampak memprihatinkan.


Emilia sendiri tak menyangka bahwa Adam akan datang kesana. Apakah Adam akan menyelamatkannya? Melihat Adam datang bagaikan melihat oase di tengah padang pasir. Matanya kembali berkaca-kaca. Rasa senang dan takut bercampur jadi satu. Ia melihat wajah Adam terdapat luka di sudut bibir dan pelipisnya. Adam yang biasa rapi dengan setelan jasnya kini terlihat acak-acakan. Kancing jasnya sudah hilang entah kemana. Kemejanya juga sudah kusut dan terbiar keluar. Apa suara gaduh tadi karena perkelahian yang melibatkan Adam?


“Adam...” panggil Emilia dengan lirih.


“Kau tidak usah takut. Aku sudah disini,” kata Adam berusaha meyakinkan Emilia.


“Kau, lepaskan Emilia sekarang juga! Jangan bertindak bodoh apalagi sampai menyakitinya! Aku akan membiarkanmu pergi kalau kau mau melepaskannya,” titah Adam kepada pria yang tengah menodongkan pistol ke kepala Emilia.


“Tidak. Kau kira aku takut dengan ancamanmu? Aku tidak akan melepasnya begitu saja. Kalau kau berani macam-macam, ku habisi nyawanya,” ancam pria itu sambil mendorong kepala Emilia dengan pistolnya.


“Jauhkan pistolmu, kepar*t! Jangan menakutinya! Lepaskan dia, maka aku akan memberi berapapun yang kau mau. Bahkan aku bisa memberimu sepuluh kali lipat dari yang Darius janjikan,” kata Adam dengan nada tinggi. Ia tak tega melihat Emilia bergidik ketakutan saat pistol itu menekan kepalanya.


“Wah, sepertinya Tuan Darius benar. Wanita ini sangat berharga bagimu sampai kau rela menebusnya dengan mahal. Tapi.....sayangnya aku tipe pria yang setia kawan. Aku tidak akan mengkhianati Tuan Darius,” tolak pria itu.


“Cih, setia kawan katamu? Asal kau tau, Darius dan temanmu yang lain sudah aku kalahkan dan aku juga sudah menghubungi polisi, mereka sedang dalam perjalanan kemari. Masih sanggup kau bilang kau setia kawan? Hah, kadang setia kawan sama bodoh memang beda tipis,” cibir Adam.


Pria itu tampak bergeming mendengar perkataan Adam. Benarkah yang lain sudah kalah? Jadi, dia tersisa sendiri? Pria itu berpikir keras. Kalau nanti polisi benar-benar datang kesini, bagaimana nasibnya nanti? Bukannya mendapat uang atas kerjanya, bisa-bisa dia malah masuk penjara. Ia kembali menimbang tawaran Adam yang hendak memberinya sepuluh kali lipat dari yang Darius janjikan.


Pria itu terdiam sejenak. Adam dapat membaca kalau pria itu mulai goyah pendiriannya. Sementara itu Emilia yang melihat pria itu sedang lengah, berusaha memanfaatkan situasi. Ia melirik ke atas meja di samping ranjang, lalu matanya beralih ke sebuah garpu yang ada disana. Pelan-pelan ia meraih garpu di atas meja tempat makanannya diletakkan.


Adam melihat perbuatan Emilia, tapi ia tidak berkata apa-apa padahal ia sangat ingin melarangnya. Ia khawatir Emilia akan ketahuan.


Emilia, apa yang kau lakukan? Jangan bertindak gegabah! Masih ada pistol di kepalamu. Sabarlah, Emilia. Aku sedang bernegosiasi. Jangan bertindak yang bukan-bukan! Aku tidak mau kau kenapa-napa, Emilia. Gumam Adam dalam hati.


Garpu sudah dalam genggamannya. Emilia tampak menarik nafas dalam-dalam. Sesungguhnya ia juga sangat tegang sekali. Ia tidak tau apakah rencananya ini berhasil atau tidak. Yang pasti jantungnya berdetak sangat kencang sekarang.


Ia menarik nafas lagi, lalu berhitung dari dalam hati 1....2.....3.


Jlebbbb!


Dengan sekali ayun, sebuah tusukan berhasil menancap di pangkal lengan pria itu.


“Aaaakkkkkhhhhhhhh!”


Dooorrrrrr.


Sebuah peluru tak sengaja terlepas dari sarangnya.


“Emiliaaaaaa!” teriak Adam dengan suara yang menggelegar.


Bagaimana nasib Emilia selanjutnya?


***


Hai semua 🤗 Setelah baca jangan lupa like, vote dan jadikan favorit ya, biar aku tambah semangat up nya 😍 Sedih deh kalo yang like dikit dan vote gak nambah 🥺


Happy reading ya 🤗