My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
107. Bulan Madu Akan Segera Berakhir



Adam dan Emilia menghabiskan waktu berbulan madu di Venesia dengan sangat baik. Hampir setiap hari Emilia akan merengek pada Adam untuk berkeliling dengan gondola atau speed boat disana.


Tak hanya itu, mereka juga berkeliling untuk berfoto di tempat-tempat yang menurut mereka unik. Selain itu Emilia tak lupa untuk berbelanja beberapa souvenir disana. Adam hanya menuruti saja semua keinginan istrinya itu. Asalkan dia mendapat apa yang dia inginkan di malam hari, apapun permintaan Emilia tak menjadi masalah baginya.


“Sayang, itu ada apa ramai-ramai disana?” tanya Emilia menunjuk salah satu kerumunan yang tak jauh dari hotel dimana mereka menginap.


“Oh, itu paling pemusik lokal yang sedang menghibur turis.”


“Mau lihat,” pinta Emilia dengan suara manjanya.


“Anything for you, Sayang.”


Adam pun menuntun Emilia untuk mendekat ke kerumunan itu agar bisa lebih jelas menyaksikan para pemusik memainkan alat musik mereka sambil bernyanyi dalam bahasa Italy.


Emilia sangat menikmati pertunjukan itu. Sesekali kepalanya ikut mengangguk-angguk mengikuti irama lagu. Setelah pertunjukan selesai, semua penonton bertepuk tangan dan beberapa dari mereka memberikan uang karena merasa telah terhibur, termasuk Emilia.


“Grazie, Signora!” ucap salah satu pemusik saat Emilia memberikan uang.


“Prego,” sahut Emilia lalu pergi melanjutkan perjalanan ke hotel bersama Adam.


“Baru seminggu kau sudah pintar berbahasa Italy,” ucap Adam sambil melirik Emilia yang berjalan disampingnya dengan bergandengan tangan.


“Kau yang lebih pintar, karena kau yang mengajariku. Aku salut padamu. Kau serba bisa,” sahut Emilia.


“Ya, aku memang serba bisa. Apalagi urusan di ranjang. Aku jagonya,” ucap Adam sambil terkekeh.


Plak.


Emilia memukul lengan Adam. Rasanya suaminya itu selalu menjurus ke hal-hal yang berbau ranjang selama berbulan madu dengannya.


“Kau ini, bisa tidak bahas yang lain? Selalu saja bahas soal itu,” gerutu Emilia.


“Memangnya kenapa? Kan kita sedang berbulan madu. Masa bahas soal perkembangan proyek? Kita harus selalu bahas soal itu agar pulang dari sini bisa bawa Adam junior,” jawab Adam sambil menaik turunkan alisnya.


“Adam junior? Kenapa tidak Emilia junior?” tanya Emilia.


“Dua-duanya juga boleh. Kau kan kembar. Kalau rejeki, kita bisa dapat bayi kembar juga. Laki-laki dan perempuan sekaligus," jawab Adam dengan antusias.


“Kalau ternyata dua-duanya perempuan bagaimana?”


“Ah, tidak. Nanti sudah besar mereka memperebutkan satu orang laki-laki. Huh, ribet sekali!”


Emilia langsung menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan Adam yang berbau sindiran.


“Kau menyindirku dan Emelda?” tanya Emilia dengan sinis.


Aduh, pake keceplosan segala lagi. Batin Adam.


“Bukan, Sayang. Aku hanya ingin kita punya anak laki-laki dan perempuan. Begitu,” jawab Adam berusaha menyelamatkan diri.


“Bohong. Kau menyindir kami. Ternyata kau pendendam. Padahal itu kan sudah lewat, tapi kau masih mengungkitnya.”


“Sudah! Aku malas mendengar alasanmu. Aku mau pulang ke hotel sendiri.”


Emilia dengan kesal berjalan cepat meninggalkan Adam menuju hotel.


“Sayang...tunggu... Aduh, kenapa bisa begini? Sekarang dia cepat sekali ngambeknya. Sayang...tunggu aku...”


Emilia tidak mempedulikan teriakan Adam. Ia malah makin sengaja mempercepat langkahnya meninggalkan Adam.


***


Saat ini mereka sudah berada di sebuah restoran mewah di tepi salah satu kanal terbesar di Venesia. Adam bahkan rela membooking semua tempat duduk yang ada di bagian luar restoran tempat dimana dia dan Emilia duduk agar tidak ada satu orangpun yang mengganggu makan malam terakhir mereka disana.


Adam terlihat gagah dengan setelan jasnya seperti biasa. Emilia tak kalah mempesona dengan gaun panjang tali spaghetti berwarna putih, yang dipadukan dengan blazer berwarna senada. Riasan natural di wajahnya membuat Adam tak ingin lepas memandang wanita yang sudah bergelar sebagai istrinya.


“Kau cantik sekali malam ini, Sayang. Ah, tidak, kau memang selalu cantik bahkan saat bangun tidur,” puji Adam pada istrinya yang saat ini sudah merona merah.


Adam meraih tangan Emilia lalu mengecupnya dengan lembut.  


“Kau juga selalu tampan dan pandai mengambil hatiku. Padahal tadi aku mau ngambek terus sampai kita pulang ke rumah,” ucap Emilia dengan jujur.


Bukan Adam namanya kalau tidak bisa meluluhkan hatimu, Emilia. Gumam Adam dalam hati.


“Maafkan aku, Sayang. Apapun jenis kelamin anak kita nanti, itu tidak masalah bagiku. Asalkan bisa selalu bersamamu, menjaga anak-anak kita nantinya, itu sudah lebih dari cukup.”


Emilia mengangguk, ia tersenyum pada suaminya itu. “Terimakasih, Sayang. Kau suami yang sangat baik dan pengertian.”


Lihatlah, tadi siang dia ngambek dan bilang aku pendendam. Sekarang dia bilang aku baik dan pengertian. Yahh, beginilah wanita dengan 1001 macam tingkahnya.


“Terimakasih juga selalu setia bersamaku. Tetaplah bersamaku sampai kapanpun, Emilia. Meskipun bulan madu kita kali ini akan berakhir, tapi aku harap kemesraan kita tidak akan pernah berakhir bahkan sampai kita tua nanti.”


Tersirat kesungguhan yang dalam saat Adam mengatakan itu. Bukan sekedar rayuan, tapi dia memang benar-benar menginginkan hal itu terjadi.


Emilia tertegun mendengar perkataan Adam. Ia pun membalas, “Pasti, Sayang. Aku akan selalu mencintaimu sampai kapanpun.”


“Aku lebih mencintaimu, Emilia. Sangat-sangat mencintaimu.”


Adam bangkit dari duduknya lalu mencondongkan badannya ke arah Emilia untuk mengecup kening istrinya beberapa detik dengan sangat lembut. Tiba-tiba terdengar suara riuh tepukan dari orang-orang yang melewati kanal itu dengan gondola yang membuat Adam dan Emilia tersadar. Rupanya banyak yang sedang menonton adegan romantis mereka.


Wajah Emilia sudah semakin memerah, tapi Adam malah bersikap biasa saja. Ia malah mengecup tangan Emilia berulang kali dengan sengaja. Ia mau menunjukkan pada seantero Venesia bahwa inilah Emilia, istri yang sangat dicintainya.


***


Maaf kemarin gak update soalnya asam lambung naik, maag ku kambuh. Jadi belum bisa update.


Semoga selalu setia dengan kisah mereka ya, semoga pada rajin like ya semua abis baca 🤗


Ini sudah mau mendekati episode akhir. Sabar menanti ya...


Terimakasih banyak sudah sudi membaca ceritaku hingga sejauh ini. Love you all 💙 Semoga sehat selalu 🤗