
Adam, Emilia, Ian, Alyssa serta Darius dan Emelda menuju ke halaman belakang rumah Adam untuk melihat anak-anak mereka.
Sesampainya disana, mereka melihat Leon sedang berlari disusul Lyla dan juga Valencia serta Tisya di belakangnya. Leon dengan cepat bersembunyi di balik ayahnya.
“Ayah, aku tidak mau main bersama mereka,” ucap Leon dibalik Adam.
Adam segera menangkap putrinya lalu menggendongnya.
“Dapat!” seru Adam sambil mengangkat tubuh putrinya. “Kenapa mengejar kakakmu? Hm?” tanya Adam pada Lyla.
Tisya juga ikut digendong oleh Ian. Sementara Valencia tidak mau digendong ayahnya. Ia hanya dipeluk oleh Darius saja.
“Ayah, Kak Leon tidak mau main bersama kami,” kata Lyla mengadu pada ayahnya.
“Aku tidak mau jadi pangeran mereka, Ayah. Membosankan,” gerutu Leon.
“Tapi Kak, kami tidak bisa jadi putri kalau tidak ada pangerannya,” kata Lyla lagi.
“Pokoknya aku tetap tidak mau,” tolak Leon dengan tegas.
“Ayah...” Lyla sudah terlihat hendak menangis.
“Putri kecil ayah kalau nangis nanti tidak cantik lagi lho. Kan Lyla masih bisa main sama Valencia dan Tisya. Kakakmu itu laki-laki, jadi dia tidak suka bermain putri-putrian. Kalian main bertiga saja, ya,” kata Adam membujuk Lyla.
Lyla menggeleng.
“Main yang lain saja mau tidak? Biar kak Leon bisa ikut main,” kata Emilia memberi saran.
“Main apa?” tanya Lyla pelan. Mukanya masih saja cemberut.
“Hmmm...apa ya...” gumam Emilia sambil berpikir.
“Main tangkap anak ayam saja mau tidak?” tanya Alyssa.
“Boleh,” sahut Leon cepat. “Biar aku jadi musang yang mau menangkap anak ayamnya,” sambung Leon.
“Aku jadi induknya,” kata Valencia. “Biar Lyla dan Tisya jadi anak ayamnya.”
“Iya, iya, aku mau. Jadi anak ayam,” seru Tisya.
Lyla pun mengangguk. “Oke, kita main itu saja. Ayah, mau turun.”
Adam pun menurunkan Lyla dari gendongannya begitu juga dengan Tisya yang tadi digendong Ian.
“Ayo kita kesana!” ajak Leon.
Mereka pun berlari ke tempat tadi untuk memulai permainan mereka. Sementara para orang tua duduk di kursi taman sambil memperhatikan anak-anak mereka. Mereka saling mengobrol tentang perkembangan perusahaan dan juga perkembangan anak masing-masing ditemani teh hangat dan juga beberapa cemilan buatan Emilia.
“Senang sekali rasanya bisa melihat mereka selalu akrab seperti itu,” ucap Darius.
“Ya, semoga sampai besar mereka tetap akrab dan akur satu sama lain,” sahut Adam.
“Oh iya, aku ke dalam sebentar mau mengambilkan pudding coklat untuk mereka,” kata Emilia.
"Aku bantu, ya," kata Emelda.
"Aku juga," kata Alyssa.
"Tidak usah. Kalian disini saja. Aku ke dalam sebentar," ucap Emilia lalu masuk ke dalam rumahnya.
Tak lama setelah Emilia pergi, Adam berniat menyusulnya. “Aku ke dalam dulu. Mau membantu Emilia membawakan pudding.”
“Wah, Tuan suami yang perhatian sekali,” ucap Ian sambil terkekeh.
“Adam Smith,” ucap Adam dengan sombong lalu menepuk dadanya. Mereka hanya terkekeh melihat tingkah Adam.
Saat di dapur, Adam mendapati istrinya sedang menyusun pudding di atas nampan dengan posisi membelakanginya. Adam langsung mendekat lalu memeluk istrinya dari belakang dan mencium tengkuk sang istri.
“Tidak ada. Lagi sepi kok.”
“Ya sudah, ayo kembali ke taman.”
“Nanti dulu. Aku masih ingin memelukmu.”
Adam makin mempererat pelukannya dan meletakkan dagunya di bahu Emilia.
“Lihatlah, Sayang. Anak-anak kita sekarang sudah besar. Mereka tumbuh dengan baik. Kau sangat hebat dalam merawat mereka,” kata Adam.
Dari jendela dapur tampak dengan jelas pemandangan di taman belakang rumah. Anak-anak mereka sedang tertawa riang bermain bersama.
Emilia melerai pelukan Adam lalu berbalik menghadap suaminya.
“Kau juga ayah yang hebat, Sayang. Terimakasih sudah bekerja keras untuk menafkahi kami. Terimakasih juga karena selalu ada untuk kami dan melindungi kami,” ucap Emilia dengan tulus.
Adam membalasnya dengan senyuman. Lalu ia menunjuk pipinya. “Terimakasih saja, nih?”
Emilia tergelak melihat suaminya yang tak berubah dari dulu. Namun diluar ekspektasi, Emilia justru meraih kedua pipi Adam lalu mencium bibirnya dengan sangat lembut.
Bak dapat durian runtuh, Adam dengan senang hati membalasnya. Bahkan ia dengan sigap menarik pinggang Emilia sehingga tak ada lagi jarak diantara mereka.
Mereka saling mema*gut dengan lembut dan penuh gai*rah hingga tak sadar Leon dan Lyla menyusul mereka ke dapur.
Leon berjalan di depan diikuti Lyla di belakangnya. Leon yang melihat perbuatan orang tuanya itu, dengan cepat berbalik menutup mata Lyla lalu menariknya untuk segera keluar dari dapur menuju ke taman.
“Kakak kenapa tiba-tiba menutup mataku? Trus kenapa kita kesini? Kan kita mau menyusul ayah dan ibu,” tanya Lyla dengan polos.
Syukurlah tadi Lyla tidak lihat. Batin Leon.
“Tidak usah. Kita kembali bermain saja. Nanti juga ayah dan ibu akan datang.”
“Tapi aku mau sama ibu.”
“Tidak usah. Ayah dan ibu lagi ada urusan orang dewasa. Kau sama kakak saja. Ayo!”
Leon kembali menarik tangan Lyla dan bergabung dengan yang lain.
Sementara itu di dapur, Adam dan Emilia baru saja menyudahi ciuman panjang mereka.
“Aku mencintaimu, Sayang. Aku sangat mencintaimu,” ucap Emilia sambil mendongak menatap suaminya.
“Aku lebih mencintaimu, Sayang. Dan selamanya akan selalu begitu. Tetaplah bersamaku, sampai kapanpun, Lia.”
“Lia?”
“Ya, mulai sekarang aku akan memanggilmu begitu. Seperti orang tuamu memanggilmu dulu.”
“Baiklah, aku justru senang mendengarnya. Asal kau tidak lupa nama penuhku.”
“Mana mungkin aku lupa. Nama itu sudah terpahat di hatiku sejak lama. Hanya ada satu nama disana. Emilia. Hanya Emilia.”
Emilia sangat bahagia mendengar perkataan suaminya. Ia pun segera masuk ke pelukan sang suami, bersandar di dadanya dan memeluknya dengan erat.
Adam ikut membalas pelukan sang istri, bahkan sesekali mengecup puncak kepalanya dengan penuh kasih sayang. Dari jendela dapur mereka melihat anak-anak mereka bermain dengan gembira.
Terimakasih, Tuhan. Terimakasih telah menganugerahkanku keluarga yang bahagia.
~TAMAT~
Batam, 18 Mei 2022, jam 00.05 WIB
My Name is Emilia.
Oleh Hary As Syifa.