
Adam mengecek handphone-nya. Tidak ada satupun panggilan dari Emilia, bahkan pesan yang ia kirimkan tidak juga dibalas. Padahal sudah ada centang biru. Emilia jelas sudah membacanya tapi kenapa dia tidak membalasnya.
Adam jadi khawatir dengan Emilia. Sepulangnya dari kantor ia meminta Ian untuk mengantarnya ke restoran tempat Emilia bekerja. Sesampainya disana ia malah terkejut dengan apa yang disampaikan manajer restoran itu bahwa Emilia sudah pulang sejak tadi siang karena perutnya sakit. Adam pun jadi semakin khawatir. Tempat yang kemudian ia tuju adalah kontrakan Emilia.
Adam pun sampai di depan kontrakan Emilia. Ia kembali menelepon Emilia tapi tak juga diangkat. Adam yakin Emilia pasti tau dia sedang menghubunginya. Lalu ia mengirim pesan kepada Emilia.
✉Aku di depan kontrakanmu. Kalau kau tidak keluar menemuiku, maka aku akan memaksa masuk ke dalam.
Begitulah isi pesan whatsapp dari Adam. Ia sebenarnya ingin segera masuk menemui Emilia tapi ia harus sabar dan menahan emosinya. Ia tidak mau nanti malah membuat keributan disana. Lagipula di kontrakan Emilia ada aturan tidak boleh membawa orang lain yang lawan jenis masuk ke kontrakan.
Emilia awalnya enggan menanggapi pesan dari Adam, tapi begitu ia tak sengaja membaca pesan itu dari layar depan, matanya terbelalak kaget. Ia tau Adam orang yang nekat. Ia akan melakukan apa yang ia inginkan.
Emilia segera bangkit dari ranjangnya dan ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya yang kusut dan sembab akibat menangis seharian. Tak lupa pula ia menambahkan sedikit bedak agar wajah sembabnya tidak terlalu ketara. Tapi sayangnya matanya tidak bisa berbohong. Kedua matanya masih terlihat bengkak habis menangis.
Sebelum membuka pintu kamar, Emilia beberapa kali menarik nafas dan menghembuskannya dengan perlahan agar dirinya sedikit lebih tenang. Lalu ia pun keluar untuk bertemu dengan Adam. Ia melihat mobil Adam sudah terparkir tepat di depan kontrakannya.
Begitu melihat sosok Emilia sudah muncul, Adam segera bergegas keluar dari mobilnya. Ia berjalan ke arah Emilia lalu memeluknya dengan erat.
“Hei, kau kemana saja Emilia? Sudah berapa kali aku menelfonmu kenapa kau tidak angkat? Aku ke restoran tempat kau bekerja tapi manajermu bilang kau sudah pulang dari siang. Kau bisa membuatku mati karena khawatir padamu,” kata Adam menumpahkan kekhawatirannya sambil masih memeluk Emilia.
“Kenapa kau mencariku sampai kesana? Aku baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan,” jawab Emilia.
Adam melepas pelukannya lalu melihat ke arah Emilia. Tangannya masih memegang kedua lengan Emilia. Adam bisa melihat kedua mata Emilia yang masih terlihat sembab.
“Kau menangis? Apa kau baru selesai menangis Emilia?”
“Hmmm tidak. Ini...ini karna kebanyakan tidur. Jadi mataku bengkak.”
“Emilia, kau tidak bisa bohong padaku. Aku tau bedanya habis nangis dan kebanyakan tidur. Ada apa denganmu, Sayang? Ceritakan padaku! Jangan membuatku makin khawatir!”
Deg. Hati Emilia berdersir dipanggil dengan sebutan sayang oleh Adam. Matanya kembali mengembun. Ia benar-benar tidak bisa menahannya lagi. Ia masih sedih memikirkan bagaimana jika Adam tau Emelda masih hidup dan dia kembali kepada Emelda. Apakah Adam masih akan memanggilnya dengan sebutan sayang?
“Sayang, kau jangan menangis. Ada aku disini. Ceritakan padaku semuanya. Ayo, kita masuk ke mobil dulu.”
Adam mengajak Emilia masuk ke mobilnya dengan tujuan agar Emilia lebih nyaman menceritakan keadaannya. Sementara Ian yang dari tadi duduk di kursi kemudi, keluar dari mobil dan menunggu di luar tepat di samping mobil. Adam tidak ingin ada seorang pun yang mengganggunya dengan Emilia saat itu.
“Sayang, sekarang cerita padaku ada apa sebenarnya? Kenapa kau menangis? Lalu bagaimana dengan luka di perutmu, apa masih sakit?” tanya Adam dengan lembut sambil membenarkan rambut Emilia yang menutupi samping wajahnya.
“Kenapa kau memanggilku sayang?” kata Emilia balik bertanya.
“Karena apalagi kalau bukan karena aku menyayangimu. Aku sayang padamu, Emilia. Aku bahkan tidak bisa berhenti memikirkanmu. Aku selalu khawatir padamu. Aku tidak peduli kalau sekarang kau belum memiliki perasaan yang sama. Aku akan tetap menyayangimu, sampai kapanpun,” jawab Adam yang berhasil membuat Emilia semakin menyesakkan dada.
Apa kau masih tetap menyayangiku saat kau tau Emelda masih ada? Tidak Adam. Jangan menyayangiku! Jangan beri aku harapan lagi. Sekarang saja rasanya sudah sesakit ini. Aku tidak sanggup merasa lebih sakit lagi nanti.
“Aku...aku sebenarnya rindu almarhum ibuku. Biasanya kalau aku sakit, beliau akan menjagaku dan merawatku. Tapi sekarang aku harus merawat diriku sendiri. Aku merasa kesepian saja. Tadi di kamar aku lihat foto-fotoku bersama ibu. Dan itu membuatku bertambah sedih,” kata Emilia berusaha berbohong.
Adam menatap manik mata Emilia dalam-dalam. Ia tau Emilia sedang berbohong saat itu. Adam curiga ada yang ia sembunyikan. Tapi Adam berpura-pura mempercayainya. Mungkin Emilia memang belum siap mengatakan yang sejujurnya. Adam kembali membawa Emilia dalam dekapannya. Wangi parfum Adam dapat tercium dengan jelas di hidung Emilia. Wangi yang mungkin nanti ia rindukan jika mereka berpisah.
Adam baru saja mengucapkan janji yang menyentuh hati Emilia. Entah harus senang atau sedih, yang jelas saat ini Emilia hanya ingin berada dalam dekapan Adam saja.
Beberapa menit berlalu, Emilia terlihat mulai tenang. Air matanya sudah surut. Adam berhasil membuat perasaannya menjadi lebih baik. Setelah mengobrol yang ringan sebentar, Emilia keluar dari mobil Adam dan masuk ke kontrakannya. Setelah memastikan Emilia masuk ke kamarnya, Adam dan Ian pun meninggalkan tempat itu.
***
Besoknya Emilia memutuskan akan kembali ke rumah sakit untuk bertemu Darius dan Emelda. Kemarin ia dengar kalau siang ini Emelda akan memeriksakan kandungannya. Namun Emilia masih bingung apakah ia akan mengajak Adam nanti kesana atau ia bertemu sendiri saja.
Tiba-tiba ia teringat dengan Ian asisten Adam. Ia berencana akan menghubungi Ian saja lebih dulu. Ia takut kalau sekarang Adam tau secara mendadak tentang Emelda, itu akan membuatnya terguncang. Mungkin Ian bisa membantunya saat ini.
Emilia menelepon ke kantor dan meminta disambungkan ke telepon Ian, sebab ia tidak punya nomor pribadi Ian. Tak lama, panggilan pun tersambung.
“Hallo. Ada apa Nona Emilia? Ada yang bisa saya bantu?”
“Maaf mengganggu. Apa kau sibuk sekarang? Bisa kita bertemu? Ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Tapi aku mohon jangan beritahu Adam dulu soal ini.”
“Baik, Nona. Saya akan menemui Nona sekarang. Dimana kita akan bertemu?”
“Kita bertemu sekarang di restoran tempatku bekerja. Tapi sekali lagi aku mohon jangan sampai Adam tau dulu.”
“Baik, Nona. Saya kesana sekarang. Nona jangan khawatir, saya tidak akan memberitahu Tuan Adam.”
“Baiklah. Aku tunggu.”
Ian bergegas keluar dari kantor untuk menemui Emilia. Ia bahkan tidak minta ijin dulu kepada Adam karena Emilia memintanya begitu. Ini pasti ada hal yang sangat penting makanya Emilia sampai memintanya segera bertemu.
Di sisi lain ada Adam yang tengah mencari Ian. Ruangannya kosong. Ia beberapa kali menelepon Ian tapi tidak diangkat. Tidak biasanya Ian seperti itu.
“Clara, apa kau melihat Ian? Dari tadi aku cari tidak ada,” tanya Adam pada Clara yang sedang berdiri di depan meja resepsionis.
“Saya tidak melihatnya, Tuan. Saya akan segera meneleponnya untuk anda, Tuan,” jawab Clara.
“Aku sudah meneleponnya tapi tidak dijawab. Padahal sebentar lagi kami harus pergi untuk meeting di luar,” kata Adam
“Maaf Tuan. Tadi saya lihat Tuan Ian keluar dari kantor dengan mobilnya,” kata resepsionis disana.
“Keluar? Kemana?” tanya Adam.
“Saya kurang tau kemana, Tuan. Tapi tadi sebelum keluar, Tuan Ian mendapat telepon dari Nona Emilia. Nona Emilia menelepon kesini dan minta disambungkan dengan Tuan Ian,” jawab resepsionis yang membuat Adam keheranan.
Emilia? Kenapa Emilia diam-diam menelepon Ian? Apa Ian keluar untuk menemuinya?
Adam curiga ada sesuatu yang mereka sembunyikan darinya. Tapi apa itu? Ia pun memutuskan akan mencari tau sendiri apa yang sedang terjadi. Dan tempat pertama yang akan ia tuju adalah restoran tempat Emilia bekerja.