
Besoknya Emilia terlambat bangun pagi. Tadi malam ia susah tidur memikirkan kejadian yang ia lihat saat pulang ke apartemen. Hal itu mengganggu pikirannya. Hasilnya ia tidur larut malam dan bangun terlambat.
Adam sudah rapi dengan setelan jasnya. Penampilannya selalu rapi dan menawan. Tak ayal kalau Emelda tidak mau kehilangan pria tampan itu.
Adam masuk ke dapur. Lagi-lagi ia tidak mendapati Emilia disana melainkan Emelda yang sedang mengaduk gula dalam secangkir teh.
“Emilia kemana? Belum bangun?” tanya Adam.
“Sepertinya belum. Dari tadi aku sendiri disini. Apa kau mau teh?” jawab Emelda lalu menawarkan teh buatannya pada Adam.
“Tidak usah. Aku mau melihat Emilia dulu. Tumben sekali dia belum bangun.”
Adam berbalik hendak pergi ke kamar Emilia tapi suara Emelda menghentikannya.
“Adam, sebentar.”
Emelda cepat-cepat meletakkan secangkir teh yang ia buat ke atas meja lalu menghampiri Adam.
“Dasimu tidak rapi. Masa miring begini.”
Emelda mulai membenarkan dasi Adam yang terlihat miring di matanya. Padahal sebenarnya dasi itu sudah rapi. Adam hanya percaya saja pada Emelda dan membiarkannya membetulkan dasi itu.
Di saat itu Emilia yang baru bangun tiba di dapur karena ingin menyiapkan sarapan untuk Adam.
Deg.
Hatinya kembali berdenyut. Kenapa ia harus melihat lagi mereka berdekatan seperti itu. Apalagi saat ini dengan luwesnya Emelda membenahi kerah baju Adam menggunakan kedua tangannya. Seolah terlihat Emelda sedang merangkul leher Adam dengan manja.
“Emilia?” Adam baru sadar Emilia berada disana.
Tanpa mengatakan sepatah katapun, Emilia berbalik dan berlari masuk ke kamarnya. Tak lupa ia juga mengunci pintu kamar karena tak ingin Adam menemuinya.
Adam ikut berlari mengejar Emilia. Saat ia ingin membuka pintu kamar, ternyata pintu itu terkunci dari dalam.
“Emilia, buka pintunya sayang. Ini aku, Adam.”
Adam menggererak-gerakan gagang pintu yang masih terkunci itu.
“Sayang, ayolah buka pintunya. Aku bisa saja mengambil kunci cadangan dan membukanya. Tapi aku tidak mau memaksa seperti itu. Ayolah sayang, tolong buka dulu pintunya.”
“Sayang, kau kenapa? Dia hanya membantu membetulkan dasiku, tidak lebih.”
“Kenapa kau membiarkannya membetulkan dasimu? Dia bahkan sangat dekat jaraknya denganmu. Bahkan kalian terlihat seperti sedang berpelukan. Kemarin juga begitu.”
“Hei, ini masih terlalu pagi untukmu cemburu seperti itu. Kemarin aku hanya menolong kakinya yang sedang sakit dan tadi dia membetulkan dasiku. Itu saja, Sayang. Tidak lebih.”
“Apa harus sedekat itu?”
“Kau tidak percaya padaku?”
Emilia tidak menjawab. Dia malah membuang wajahnya ke arah lain.
“Lihat aku, Emilia. Apa kau tidak percaya dengan penjelasanku?” tanya Adam sambil merangkum wajah Emilia, memaksanya agar menatap wajah Adam.
“Aku percaya padamu, tapi aku juga percaya dengan apa yang aku lihat.”
Deg. Jawaban Emilia begitu terasa sakit di hati Adam. Adam kecewa Emilia dengan cepat menyimpulkan sesuatu. Adam pun menjauhkan tangannya dari wajah Emilia.
“Terserah kau saja. Kau yang mengajaknya tinggal disini. Sekarang kau juga yang cemburu tidak jelas seperti ini. Silahkan kau mau berpikir seperti apa. Yang jelas aku tidak mengkhianatimu.”
Adam tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia keluar meninggalkan Emilia sendirian di kamarnya.
Emilia awalnya berniat mencegah Adam untuk tidak pergi, tangannya mengatung di udara hendak meraih Adam, tapi egonya berhasil menguasai dirinya. Ia menurunkan kembali tangannya. Ia hanya menatap bisu Adam yang pergi dengan kekecewaan.
Braaakkkkkkk.
Adam membanting pintu apartemen dengan keras saat ia keluar. Emelda yang menyaksikannya hanya tersenyum sinis. Dalam hatinya sangat senang karena sepertinya satu per satu ide liciknya berjalan dengan lancar.
***
Mampukah cinta Adam dan Emilia bertahan di tengah badai cobaan yang selalu diciptakan Emelda?
Ikuti terus kisah mereka, ya 🤗
Jangan lupa like, comment, vote dan jadikan favorit!
Thank you 😊