My Name Is Emilia

My Name Is Emilia
87. Kejadian di Kereta



Emilia duduk bersandar di kursi kereta. Matanya tak lepas memandang keluar. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Jiwanya seakan melayang jauh entah kemana.


Lelah memandang keluar, ia mulai memejamkan mata. Kelamaan duduk tanpa melakukan aktivitas apapun membuatnya merasa ngantuk. Mumpung perjalanan masih jauh, lebih baik ia tidur dulu sebentar.


Suasana di kereta terasa hening meskipun suara berisik yang ditimbulkan dari pergesekan roda kereta dan rel sangat gaduh. Semilir angin yang menerobos dari celah jendela memberi kesejukan alami. Selain itu ia nya juga berhasil memberantaki rambut bagian depan Emilia hingga menutup wajahnya sebagian. Emilia tampak pulas sekali tidurnya. Ia tak terganggu dengan hal-hal yang terjadi di sekitarnya.


Hingga pada akhirnya kereta mulai tersendat. Emilia yang merasa terganggu segera membuka matanya. Benar, kereta itu jalannya mulai tersendat. Ia melihat jam tangannya, sudah hampir pukul 6 sore. Tangannya menyelipkan rambutnya yang berserakan ke tepi telinga. Lalu ia melihat ke sekelilingnya, ada hal aneh yang baru ia sadari. Ternyata dia hanya sendirian di gerbong itu.


“Kemana penumpang lain? Apa memang dari tadi cuma aku saja yang berada disini?” tanya Emilia pada dirinya sendiri.


Ia berusaha mengingat saat ia pertama kali masuk kereta ini. Tapi ia tak ingat apa-apa. Dari tadi yang ada di pikirannya hanya Adam, Adam, dan Adam. Ia sampai tidak sadar dengan keadaan di sekitarnya.


Emilia pun berdiri. Ia berniat untuk mengecek gerbong lain. Tiba-tiba lampu di kereta mati secara mendadak. Ia terdiam sejenak, tak lama lampu itu menyala lagi.


Emilia berdecak. “Ck, kenapa bisa seperti ini? Bikin takut saja.”


Emilia baru saja berjalan selangkah sambil berpegang pada sandaran kursi, tiba-tiba lampunya kembali mati lalu hidup lagi. Mati lagi hidup lagi. Sekarang lampu itu malah berkelap-kelip sendiri. Sontak hal itu membuat Emilia merinding seketika. Jantungnya berpacu tak karuan.


“Aku harus segera pergi ke gerbong lain,” ucap Emilia.


Dengan memberanikan diri Emilia melangkahkan lagi kakinya ke depan. Tapi ia berhenti lagi saat lampu itu kembali mati. Emilia jadi deg-degan. Kali ini lampu mati lebih lama. Lututnya terasa lemas. Ingin berteriak tapi tenggorokannya mendadak tercekat.


Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada kerusakan di kereta ini? Tanyanya dalam hati.


Emilia melihat ke depan dan ke belakang, suasana sangat hening seperti tak ada satupun manusia yang ada disana kecuali dirinya.


Klik!


Lampu kembali menyala dengan terang. Saat Emilia melihat ke depan, ia terkejut melihat sosok seorang pria berdiri tak jauh darinya.


Dia....


Emilia menggosok kedua matanya. Bisa saja itu hanya halusinasinya semata. Tapi ternyata sosok itu tidak hilang, ia masih berdiri tegak melihat ke arahnya.


“Kau...ini benar-benar kau?” tanya Emilia pada sosok di depannya.


Sosok pria di depannya terlihat berjalan ke arahnya. Hingga pada akhirnya ia merasakan sesuatu yang lembut mendarat di bibirnya.


“Apa itu bisa meyakinkanmu kalau ini aku?” tanya pria itu sambil menatap kedua bola mata Emilia.


Emilia mengerjapkan kedua matanya. Ini bukan halusinasi. Yang berada di depannya saat ini memang benar Adam.


“Adam?”


Adam mengangguk. “Berani sekali kau pergi sendiri tanpaku, Emilia. Apa kau tidak tau betapa khawatirnya aku saat tau kau keluar sendiri dari apartemen? Jangan ulang itu lagi, hmmm?”


Tangan Adam masih meraup wajah Emilia. Ibu jarinya terlihat mengusap-usap pipi wanita itu.


Emilia mengerucutkan bibirnya. “Siapa suruh ingkar janji. Kau janji akan menjemputku, tapi kau malah makan siang berdua dengan client-mu.”


“Jadi kau cemburu?”


“Menurutmu? Apa salah cemburu dengan calon suami sendiri?”


Emilia hendak mengalihkan pandangannya. Tapi Adam menahannya agar tetap menatapnya.


“Cemburu itu tidak salah. Itu artinya kau mencintaiku. Tapi cepat mengambil kesimpulan tanpa bertanya dulu itu salah. Aku tidak pergi berdua. Ada Ian dan juga tunangan Sarah tadi disana. Dan kau tau, ternyata tunangannya itu temanku waktu kuliah di luar negeri dulu.”


Ap-apa? Jadi wanita itu juga sudah punya tunangan? Sepertinya aku salah paham. Gumam Emilia dalam hati.


“Ya, kau memang salah paham, Emilia.”


Eh, darimana dia bisa tau isi hatiku?


Adam tiba-tiba berlutut dengan satu kaki sebagai tumpuan di depan Emilia. Tangannya nampak mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Saat itu Adam berpakaian lebih casual dari biasanya. Tidak menggunakan setelan kemeja lagi melainkan celana jeans, kaos putih dan jaket hitam.


Adam menunjukkan sebuah cincin berlian kepada Emilia. Emilia terkesima melihatnya. Apakah Adam sedang melamarnya saat ini?


“Emilia, setelah semua yang kita lalui, aku tidak mau sedetikpun kehilanganmu. Aku ingin kau selalu berada di sisiku. Jadi, ijinkan aku untuk menjadi satu-satunya lelaki yang akan selalu menemanimu sampai kapanpun itu...”


“Emilia...”


“Will you marry me?”


Blusshhhh.


Pipi Emilia langsung merona merah mendengar pernyataan dari Adam. Matanya berkaca-kaca saking harunya, tapi senyum tetap merekah di bibirnya.


Tak ingin membiarkan Adam berlutut lebih lama, Emilia segera menganggukkan kepalanya.


“Yes. Of course I will,” jawab Emilia dengan suara yang bergetar.


Adam menarik ujung bibirnya. Matanya saat ini juga terlihat mengembun. Ia meraih tangan Emilia lalu menyematkan cincin itu ke jari manisnya. Kemudian ia mengecup punggung tangan itu.


Adam pun berdiri lalu meraup wajah Emilia dengan kedua tangannya. Ia dapat melihat dengan jelas raut bahagia yang terlukis di wajah calon istrinya itu.


“Terimakasih karena sudi menerimaku, Emilia.”


“Terimakasih juga karena sudi melamarku. Adam, aku sangat mencintaimu.”


“Aku yang lebih mencintaimu, Emilia. Aku mencintaimu melebihi apapun di dunia ini. Jadi jangan pernah meragukan cintaku lagi, karena aku sangat sangat mencintaimu.”


Emilia mengangguk. Air yang telah menggenang di pelupuk matanya tak sanggup lagi ia tahan. Ia terlalu bahagia mendengar semua pernyataan cinta yang tulus dari Adam. Adam mengusap airmata itu dengan ibu jarinya.


Kemudian ia mulai mendekatkan wajahnya. Lalu ia kembali menautkan bibir mereka dengan sangat lembut dihiasi semburat senja berwarna jingga dan deru suara kereta yang riuh rendah. Mereka tenggelam dalam gelombang cinta yang bergejolak di dada.