
Pagi-pagi sekali Adam dan Emilia sudah bersiap-siap untuk pergi mengunjungi makam orang tua Emilia. Rencananya dari sana mereka akan langsung kembali ke kota besar karena banyak urusan yang harus Adam selesaikan sebelum mereka menikah.
“Sudah siap?” tanya Adam pada Emilia yang duduk di belakangnya.
“Oke, sudah,” jawab Emilia.
Adam menarik tangan Emilia agar memeluknya dari belakang. “Pegangan yang erat, Sayang. Supaya tidak jatuh.”
“Oh, baiklah.” Emilia melingkarkan tangannya ke pinggang Adam hingga membuat dadanya bersentuhan dengan punggung Adam.
Deg.
Adam jadi salah tingkah saat merasakan sesuatu menempel di punggungnya. Jantungnya terasa berdegup kencang. Bayangan saat Emilia keluar dari kamar mandi semalam, muncul lagi di pikirannya.
Hahhh! Kenapa aku malah berpikir kesana? Kemarin saat memboncengnya aku biasa saja. Tapi setelah kejadian tadi malam kenapa aku jadi gugup begini? Gumam Adam dalam hati.
“Ada apa, Adam? Kenapa belum jalan juga?” tanya Emilia karena melihat Adam hanya diam saja belum juga menjalankan vespanya.
“Ah, tidak. Tidak ada. Hmmmm itu, Emilia, tolong jangan terlalu kencang ya peluknya, aku jadi...hmmm...agak sesak nafas,” bohong Adam.
“Oh, maaf, maaf.”
Emilia beringsut mundur dan meletakkan tangannya di sisi kiri dan kanan pinggang Adam. Barulah Adam dapat bernafas lega. Bukan karena sesak tapi karena jantungnya yang tidak berhenti berdegup kencang.
“Oke, kita berangkat.”
Adam pun mulai menelusuri jalan menuju ke makam orang tua Emilia. Letaknya tidak begitu jauh dari rumah Emilia. Hanya memakan waktu kurang dari setengah jam, mereka pun sampai di tempat tujuan.
Emilia turun dari vespa dan melihat ke arah pintu masuk area pemakaman. Wajahnya berubah menjadi sendu. Rasa sedih dan rindu bercampur jadi satu. Adam menggenggam tangannya dengan lembut, Adam tau Emilia pasti teringat akan almarhum kedua orang tuanya saat ini.
Mereka pun melangkahkan kaki menuju ke makam orang tua Emilia. Makam ayah dan ibunya saling bersebelahan. Ibunya selalu berpesan jika meninggal nanti ingin dimakamkan di sebelah makam ayahnya. Dan sekarang disinilah mereka terbaring di pembaringan terakhir bersama.
“Ibu, Ayah, Lia datang,” ucap Emilia dengan suara yang bergetar menahan tangis.
Ternyata airmata itu lolos begitu saja. Dadanya terlalu sesak menahan airmata itu lebih lama. Ia seolah dapat melihat wajah ayah dan ibunya sedang menyambut kedatangannya disana. Tapi sayang tangannya tak mampu menggapai kedua orang tuanya lagi. Apalagi untuk memeluk, rasanya itu tak mungkin.
Rindu. Ya, itulah yang ia rasakan saat ini. Tapi rindu itu hanya dapat ia pendam sendiri karena ia tak dapat bertemu langsung dengan mereka lagi.
Adam mendekat dan mengusap-usap punggung Emilia dengan perlahan. Ia tau, saat ini Emilia pasti merasa sangat sedih sekali. Ia terus mengusap punggung itu untuk memberikan ketenangan pada Emilia.
Emilia tampak membuka mulut ingin berbicara, tapi suaranya tercekat tak bisa keluar. Hidungnya mulai tersumbat karena menahan tangis sekuat tenaga meski akhirnya ia malah tak henti menguraikan airmata.
“Ibu, Ayah, ini aku, Adam, calon suami dari Emilia datang meminta restu,” ucap Adam yang membuat Emilia menoleh ke arahnya dengan pandangan yang kabur akibat tertutup genangan airmata.
“Aku harap Ayah dan Ibu dapat merestuiku untuk menjadi suami yang baik bagi Emilia. Kalian berdua bisa tenang disana karena saat ini dan seterusnya akulah yang akan menjaga Emilia dengan seluruh jiwa dan ragaku. Aku janji,” tambah Adam lagi.
Adam menoleh ke arah Emilia yang sedang menatapnya. Lalu ia merangkul Emilia dengan sebelah tangannya.
“Ayah, Ibu, tolong ijinkan kami berdua untuk berumah tangga. Dengan begitu kami akan terus bersama selamanya untuk saling menjaga dan saling berbagi kasih sayang sampai akhirnya maut yang memisahkan. Bahkan kalau hal itu sampai terjadi kami ingin seperti Ayah dan Ibu yang selalu bersama sampai di pembaringan terakhir juga.”
Emilia menatap dalam-dalam pada Adam yang seolah sedang meminta restu pada kedua orang tuanya. Nampak kesungguhan terlukis di matanya. Emilia semakin yakin bahwa pilihannya tidak salah. Adam adalah lelaki terbaik yang Tuhan kirimkan untuk menjadi pendamping hidupnya.
Adam pun balas menatap Emilia. Tatapan mata itu selalu sama dari awal mereka bertemu. Tatapan yang membuat hatinya luluh dan selalu rindu ingin melihatnya setiap waktu. Adam mengecup kening Emilia sekilas. Lalu ia mengusap airmata Emilia yang terus mengalir.
“Kita sudah mendapat restu dari Ayah dan Ibu. Sekarang mari kita pulang, kita atur rencana pernikahan kita agar secepatnya kita bisa terus bersama.”
***
Detik-detik menuju sah dimulai....
Sabar ya....
Sebentar lagi....🤭