
Hari yang di nanti akhirnya tiba. Hari ini jadwal Alin melakukan operasi. Karena ini kehamilan anak kembar dan sebelumnya pernah melakukannya operasi Caesar sehingga dokter menyarankan agar di lakukan operasi kembali untuk meminimalisir resiko saat melahirkan.
Keenan, Mama Vero, Pak Wira dan Pak Adi pun dengan setia menemani di rumah sakit. Seharusnya hari ini hari yang membahagiakan untuk Keenan tapi jauh dalam lubuk hatinya sebenarnya ia di selimuti kekhawatiran dan ketakutan. Jika bisa ingin rasanya Keenan menggantikan posisi Alin saat ini. Tapi memang itulah kodrat seorang wanita.
"Rileks ya sayang.. Mama yakin kamu kuat, anak mama hebat," Mama vero memberikan dukungan moril ia terus menggenggam tangan menantunya itu.
Alin hanya mengangguk dan tersenyum, sejujurnya ia juga merasa cemas namun juga bersemangat karena akan bertemu dengan buah hatinya.
Tak ketinggalan pak Adi pun terus membisikkan sugesti positif agar Alin bisa lebih merasa nyaman.
Keenan di temani seorang perawat mendorong kursi roda Alin ke dalam ruang operasi. Sedangkan yang lain hanya di perbolehkan menunggu di ruang tunggu.
Dengan setia Keenan menemani Alin di tengah dinginnya ruang operasi. Dalam hatinya tak henti ia memanjakan do'a kepada Tuhan. Tangannya terus mengelus kepala Alin memberikan kekuatan kepada istrinya yang sedang berjuang mempertaruhkan nyawa.
Alin mulai di berikan anestesi epidural yang membuat bagian tubuh bawahnya mati rasa namun kesadaran nya masih terjaga. Kemudian dokter melakukan prosedur operasi di bantu oleh beberapa petugas medis lainnya.
Suara tangis bayi penanda sang buah hati telah lahir ke dunia, kebahagiaan bertambah ketika suara itu bersautan satu sama lain. Ya, Kedua buah hati mereka telah lahir kedua.
Tak ada lagi kata yang terucap selain rasa syukur yang teramat dalam. Seluruh anggota keluarga menyambut dengan penuh suka cita dan haru.
"Terimakasih sayang sudah berjuang, dan selamat anak-anak kita telah lahir sehat tanpa kurang satu pun," Bisik Keenan di telinga Alin, Alin hanya mengangguk tak bisa berkata-kata dengan air mata yang tengah menganak sungai..
Pertahanan Keenan runtuh juga, sedari tadi ia menahan diri agar tak menangis namun, ketika melihat air mata Alin jatuh, seketika airmatanya ikut lolos.
***
Akhirnya Alin telah di pindahkan ke ruang rawat inap namun dengan pengawasan yang ketat dari tim dokter.
Alin memandangi kedua bayi mungilnya. Rasanya masih seperti mimpi. Perlahan ia mengelus lembut pipi mungil itu, terlukis senyum manis di wajahnya. "Terimakasih sudah berjuang bersama-sama hingga di titik ini," ucap Alin lirih.
"Kamu sudah siapkan nama Ken?" tanya Mama Vero penasaran.
"Sudah Ma,"
"Siapa namanya?" Kini Pak Wira ikut penasaran.
Keenan menatap penuh kasih sayang pada sepasang bayi mungil dihadapannya. "Kevin dan Zeline," Jawab Keenan mantap.
Alin tersenyum mengingat anak pertama mereka yang juga di beri nama Kevin. Ya, mereka sengaja memakai nama itu untuk mengenang putra pertama mereka dan juga sebagai obat penawar rindu.
Lengkap sudah kebahagiaan keluarga kecil Keenan dan juga Alin. Menjadi orangtua adalah hal baru bagi Keenan maupun Alin. beruntung mereka mempunyai orangtua yang dengan senang hati membantu dan mengarahkan mereka. Tak tanggung-tanggung bahkan Mama Vero rela pindah rumah untuk sementara waktu demi menjaga cucu-cucu kesayangannya.
***
"Ken belum masuk kantor juga?" Tanya Mama Vero yang melihat Keenan tengah menimang Zeline pagi-pagi.
"Ma, Keenan tetap kerja walau dari rumah,"
"Tapi ini sudah satu bulan loh kamu gak ke kantor," Timpal Mama Vero lagi.
"Mas Keenan susah banget di bilangin Ma, Padahal tanggungan dia sekarang banyak," Kini Alin ikut berkomentar.
"Iya nanti Mas ke kantor kok, tunggu 10 hari lagi ya," Ucapnya tersenyum genit ke arah Alin.
"Dasar kamu ini, gak malu apa sama anak," Ledek Mama Vero.
"Mereka kan bisa di titip sama Mama dulu," Keenan tersenyum jahil.
Alin menjadi malu karena tingkah Keenan. "Apaan sih Mas! Sini aku mau mandikan Zeline," Alin mengalihkan pembicaraan, Wajahnya sudah memerah karena Keenan begitu berani membicarakan hal seperti itu di depan Mama Vero.
"Kevin belum bangun?" Keenan menyusul Alin ke arah kamar mandi.
"Belum Mas,"
"Mas mau temani Kevin aja ya sayang," Keenan kemudian segera menuju ke kamar dimana Kevin tidur.
"Pintar anak Papi, jangan dulu bangun ya nak," Keenan mengecup pipi Kevin kemudian merebahkan tubuhnya di samping putranya itu.
Lengkap sudah kebahagiaan keluarga kecil Keenan dengan hadirnya dua malaikat kecil di tengah-tengah mereka. Ternyata benar, kesabaran itu akhirnya berbuah manis. Banyak sekali luka dan airmata yang telah di lalui bersama selama membina rumahtangga namun pada akhirnya bahagia lah yang menjadi pemenangnya.
***END***