My Little Bride

My Little Bride
Mission complete



Dua minggu sudah Alin membantu ayahnya untuk mengelola Cafe walaupun di sela kesibukannya mempersiapkan diri untuk masuk kuliah. Dan meskipun dalam waktu yang cukup singkat Alin mampu membuat peningkatan yang lebih baik daripada sebelumnya.


Kini tiba saatnya Alin mendengar keputusan dari ayahnya. Alin harap-harap cemas dengan keputusan yang akan di ambil Pak Adi. Walaupun pada akhirnya Pak Adi tidak kembali ke kantor Pak Wira itu tidak masalah untuk Alin, Ia tak ingin memaksa.


Hari mulai petang Alin meminta ijin untuk pulang. "Alin pulang ya yah?!" pamitnya pada sang ayah, kemudian mencium tangan memeluk Pak Adi. Tak lupa pak Adi selalu mencium kening Alin.


"Oh iya Nak... Ayah akan kembali ke kantor Pak Wira," ucap Pak Adi tiba-tiba.


"Serius yah?" tanya Alin tak percaya. Karena selama ini Pak Adi selalu menolak tawarannya.


"Iya tapi kamu juga bantu urus usaha ayah ini," ucap Pak Adi sambil tertawa.


"Gampang kalau itu. Ya sudah Alin pamit ya yah," pamit Alin tersenyum sumringah. ia! begitu tak sabar ingin memberitahu ayah mertuanya.


Alin melihat mobil Keenan yang sudah terparkir di halaman Cafe. Ia segera menghampiri suaminya.


"Ayo jalan Mas!" pinta Alin sambil tersenyum-senyum sendiri.


Keenan memperhatikan wajah istrinya.


"Kenapa gitu banget lihatnya?" ucap Alin salah tingkah kemudian menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Lagi seneng banget ya?"


"Kan tiap hari juga seneng, yuk jalan mas!" pinta Alin kemudian mengambil ponselnya.


Sepanjang perjalanan pulang sampai ke halaman rumah Alin hanya bermain ponsel, entah berbalas pesan dengan siapa karena Alin terlihat sangat bahagia dengan senyum yang terus mengembang di pipinya dan membuat Keenan jadi cemburu.


"Lagi chat sama siapa?" tanya Keenan kesal.


"Enggak kok.. Bukan siapa-siapa," jawab Alin kemudian segera menyimpan ponsel kedalam tas nya.


"Bukan siapa-siapa tapi suaminya di cuekin? malah senyum-senyum sama ponsel!" Keenan kemudian turun dari mobil dan segera masuk tidak membukakan pintu untuk Alin seperti biasanya.


"Idiih ngambek," Alin segera membuka pintu dan menyusul suaminya. "Mas tunggu!"


"Lagi berantem ya Non?" ledek Bi Inah yang berada di depan pintu.


"Bibi tahu aja," Alin segera berlari menyusul Keenan.


Keenan tak berbicara sepatah katapun, Ia segera masuk kamar mandi begitu sampai di kamar. seperti biasa Alin menyiapkan baju untuk suaminya.


Alin melihat ponsel Keenan yang tergeletak di atas meja menyala. Dia melihat notif beberapa pesan masuk dari Lyra. Saat akan membaca pesan-pesan tersebut tiba-tiba ada panggilan masuk.


"Mas ada telpon," ucap Alin begitu melihat Keenan keluar dari kamar mandi.


"Ngapain sih nelpon jam segini," gerutu Alin yang melihat Keenan menjawab panggilan tersebut.


Kini badan Alin terasa ringan karena sudah berendam di air hangat di tambah dengan busa yang melimpah serta aroma dari lilin terapi yang merilekskan tubuhnya.


Rasanya sudah cukup lama ia berendam namun Keenan belum selesai juga dengan telponnya. Alin melihat Keenan pindah ke balkon begitu dirinya keluar dari kamar mandi.


"Anteng banget ya?" sindir Alin bersender di pintu dengan kedua tangan yang di lipat di atas dada.


Keenan menoleh kemudian segera pamit dan mengakhiri panggilannya. "Cuman masalah pekerjaan," ucap Keenan kemudian.


"Biasanya kalau Rissa yang nelpon di luar jam kerja nggak pernah di angkat tuh," ketus Alin kemudian ia masuk ke dalam kamar.


"Lagi urgent sayang," Keenan kemudian menyusul Alin masuk.


"Ya udah lanjut aja kenapa di tutup kalau urgent," Alin kemudian keluar kamar dan turun ke lantai bawah.


"Perasaan tadi gue yang ngambek.. Kok sekarang jadi dia," gumam Keenan masih terdiam di tempatnya.


Keenan tengah sarapan dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Sedangkan Alin biasanya berangkat ke caffe agak siang di antar oleh mang Didi.


Keenan yang mendengar gaduh dari halaman kemudian segera keluar rumah. Ia sedikit kaget melihat sebuah mobil sport berwarna merah sudah terparkir di halaman rumahnya. "Mobil siapa?" tanya Keenan pada Alin yang sudah lebih dulu keluar rumah.


"Mobil Alin," jawab Mama vero tiba-tiba keluar dari dalam mobil tersebut.


"Serius Ma?" tanya Keenan tak percaya. Begitupun dengan Alin yang masih terdiam.


"Tanya saja Papa. iya kan Pa?"


"Iya ini mobil untuk Alin," Dan tiba-tiba Pak Wira pun keluar dari mobil tersebut.


"Waahh," ucap Alin kagum kemudian segera berlari menuju mobilnya.


"Serius ini buat Alin?" tanya nya tak percaya sambil mengelus mobil merah yang mengkilap tersebut. bahkan plat mobilnya masih berwarna putih bisa di pastikan kalai mobil itu baru.


"Ini hadiah buat kamu karena telah menyelesaikan tugas dengan baik," ucap Pak Wira memberikan kunci mobil pada Alin.


"Terimakasih Pa, Ma," ucap Alin terharu kemudian memeluk kedua mertuanya tersebut.


Keenan ikut senang melihat Alin begitu bahagia dan juga kedua orang tuanya sangat menyayangi Alin.


"Ehemm perasaan dulu kalau Ken minta sesuatu Papa pasti suruh beli sendiri," Keenan buka suara.


"Laki-laki itu harus bekerja keras. Jangan tahu tinggal nadah tangan. Sekarang kamu bisa beli apa saja dengan hasil jerih payah sendiri," Ucap Pak Wira.


"Iya.. iya. " Ucap Keenan kesal bukan mendapat hadiah dia malah dapat ceramah.


"Ya sudah ayo sayang kita coba mobilnya," ajak mama vero bersemangat.


"Jangan Ma.. Alin belum punya SIM," Cegah Keenan.


"Biar mama yang nyetir.. Ayo sayang!" Mama vero menggandeng tangan Alin.


"Sudah biarkan saja Ken," Pak Wira tertawa melihat wajah Keenan.


"Kenapa mesti mobil sih Pa?"


"Memang kenapa? Terserah Papa yang punya uang dong" canda Pak Wira.


"Iya Papa yang punya uang," Keenan hanya geleng-geleng kepala. Bahkan mobil Alin jauh lebih mahal di banding dengan mobilnya.


Hari ini Keenan datang terlambat ke kantor karena drama mobil baru tadi pagi. Ia langsung di sambut pekerjaan yang menumpuk. Belum lagi kini pembangunan hotel baru tengah berjalan. Ia harus bolak-balik ke perbatasan ibu kota untuk meninjau pembangunan.


Saat berjalan menuju lift tak sengaja ia melihat Papa mertuanya. Keenan memang belum tahu kalau Pak Adi sudah kembali bekerja. Keenan menyapa mertuanya tersebut kemudian pamit karena memang ada pekerjaan mendesak.


Rencananya hari Keenan beserta beberapa staff akan meninjau pembangunan hotel di perbatasan ibu kota.


Begitu juga dengan Alin yang sama sibuknya karena mulai hari ini dia mengurusi caffe seorang diri. Tak segan untuk membantu para karyawan mulai dari urusan dapur hingga mengantar makanan.


"Biar saya saja yang antar," ucap Alin pada seorang waitress yang terlihat kerepotan.


"Terimakasih kak," ucap waitress tersebut.


"Silahkan," ucap Alin tersenyum ramah sambil meletakkan pesanan di atas meja.


"Terimakasih," Ucap seorang pria sambil menatap Alin dari atas sampai bawah.


Alin hanya mengangguk kemudian segera pergi ia merasa risih dengan tatapan pria tersebut.


Jangan lupa like dan komen....