My Little Bride

My Little Bride
Senior



Entah di sengaja atau hanya kebetulan jika sudah sekali bertemu selalu ada pertemuan kedua, ketiga dan bahkan seterusnya.


Alin baru saja menyelesaikan kelas terkahir nya. Sebelum pulang seperti biasa Della mengajak berkumpul terlebih dahulu di kantin.


"Lin!" panggil Della yang telah menunggunya di kantin.


Alin pun segera menghampiri Della yang duduk si sebuah bangku dengan minuman yang telah di pesan Alin sebelumnya. "Yang lain pada kemana?" tanya Alin celingukan mencari trio pembuat onar.


"Biasalah mereka bolos," jawab Della santai


"Hah?! Kebiasaan mereka gak hilang-hilang ternyata. Lo gak ikut Dell? " Alin meledek Della. kemudian ia tertawa mengingat momen di mana dulu sering bolos bersama.


"Udah tobat gue sekarang," Jawab Della penuh percaya diri.


"Iya pura-pura percaya aja gue. Lo pulang sama siapa? bareng gue aja yuk?" ajak Alin kemudian.


"Aduh gue sih sebenernya pengen banget ya.. Tapi sayang gue udah ada yang jemput," ujar Della malu-malu.


"Cowok yang lo ceritain waktu itu? kalian udah jadian?" tanya Alin penasaran.


"Tar deh gue cerita.. sekarang gue pulang dulu dia udah di parkiran," pamit Della kemudian segera pergi.


"Lah ni anak... gue di tinggal sendiri," kesal Alin yang di tinggalkan sendiri.


Alin duduk di kantin menghabiskan minumannya. Ia tersenyum sendiri menatap ponsel karena karena sedang berbalas pesan dengan suaminya.


Setelah minumannya habis Alin memutuskan untuk pulang. Alin tak memperhatikan sekitar karena terlalu terfokus pada ponsel hingga tak menyadari di depannya ada anak tangga.


Alin kehilangan keseimbangan dan hampir saja terjatuh namun, tiba-tiba seseorang menarik tangannya sehingga dan membuatnya terpental kedalam pelukan orang tersebut.


Alin hanya terdiam dia masih syok dengan kejadian yang baru saja terjadi padanya. Kemudian ia segera melepaskan diri dari pria yang menolongnya.


"Lain kali hati-hati.. Selain bahayakan diri sendiri, tindakan lo juga bahayakan orang lain," ucap Pria itu dengan nada menyindir.


Suara itu sepertinya tak asing lagi di telinga Alin. Kemudian ia memberanikan diri melihat wajah sangat pemilik suara. "Orang ini kan?" gumam Alin dalam hati. "Maaf... Dan terimakasih sudah menolong," Alin mengangguk sopan kemudian pergi meninggalkan pria itu.


Pria itu hanya terdiam memandangi kepergian Alin.


****


Setelah pulang dari kampus Alin pergi ke cafe. Pak Adi telah mempercayakan sepenuhnya cafe itu pada putri semata wayangnya. Dan Alin beruntung karena Keenan selalu membimbing dan membantunya dalam pengelolaan usaha nya ini.


Cafe terlihat ramai menjelang malam. Alin segera masuk dan menyimpan tas nya. Tak lupa ia memakai seragam sama seperti karyawan yang lain. "Masih kurang orang lagi kah Mbak?" tanya Alin pada Dinda, orang yang di percaya sebagai manager oleh pak Adi.


"Paling kita butuh buat part time aja sih.. Kalau malam rame banget, tapi dari siang ke sore masih bisa kita handle," tutur Dinda wanita yang 15 tahun lebih tua dari Alin.


Alin mengikat rambutnya kemudian memakai apron. "Ya udah nanti kita buat lowongan aja buat part time.. Aku bantuin di luar dulu ya Mbak," pamit Alin kemudian. Meskipun kini ia sebagai owner tapi Alin lebih senang turun langsung dari pada duduk di ruangannya. Kini penampilan Alin sama seperti karyawan lainnya.


"Kak.. Orang itu dari tadi cuman duduk nggak pesan apa-apa. Padahal masih banyak yang belum kebagian tempat duduk," bisik seorang karyawan pada Alin sambil menunjuk seorang pria yang duduk santai sambil memainkan ponsel.


"Udah di tanya mau pesan apa?"


"Udah kak.. Dia bilang lagi nunggu seseorang," jawab karyawan itu lagi.


"Ya sudah biar aku tanya lagi," ucap Alin kemudian berjalan menghampiri pria tersebut.


"Permisi.. Silahkan kak mau pesan apa?" tanya Alin ramah sambil memberikan menu pada pria itu.


"Sudah gue duga lo owner di sini kan?" Ucap pria itu mengangkat kepala memandang Alin.


"Anda salah sangka saya hanya karyawan di sini. Silahkan jika kaka mau pesan, Tapi kalau mau numpang wifi silahkan duduk di parkiran. Karena masih banyak yang belum kebagian tempat duduk," sindir Alin masih dengan senyuman nya, Tak mengapa ia kehilangan satu pengunjung karena dirinya pun cukup risih dengan keberadaan pria tersebut.


Pria itu tentu saja tidak percaya ucapan Alin begitu saja. "Ok gue mau pesan makanan sama minuman paling mahal di sini," ucapnya angkuh.


"Baik silahkan tunggu sebentar," ucap Alin sambil berlalu.


"Gimana dia pesan kak?" tanya karyawan tadi.


"Pesan.. Malah pesan makanan paling mahal," ucap Alin malas.


"Kaya nya dia emang nungguin kak Alin deh," Karyawan itu berbisik cengengesan.


"Bikin gosip aku potong gaji ya," canda Alin. Alin memang cukup akrab dengan para karyawan.


"Mel... kamu saja yang antar," pinta Alin pada Meli.


"Baik Kak," Meli menurut.


Pria itupun menikmati makanannya. "Berapa totalnya?" tanya Pria itu setelah selesai makan.


"Hah?! Tapi di menu nggak harga segitu," protes Pria itu kaget. "Panggil karyawan yang tadi, yang catet makanan gue," Pinta pria itu kemudian.


"Kak.. Serius ini harga segini? Aku sampai kaget.. Dia cariin kakak tuh," ucap Meli yang ikut syok.


Alin mengambil bil di tangan Meli kemudian berjalan anggun ke arah Pria tersebut. "Ada masalah kak?" tanya Alin dengan wajah tanpa dosa.


"Gue mau protes! Harga yang tertera di menu nggak sesuai sama yang di bil," protes pria itu.


"Begini ya Kak.. Tadi kaka pesan makanan yang paling mahal, Jadi saya pilihkan bahan-bahan premium. Seperti steik yang kakak makan itu dari daging wagyu pilihan yang di datangkan langsung dari Jepang. Mau tahu apa yang membuat mahal? karena sapi nya jalan kaki sendiri dari Jepang ke Indonesia,"


"Enggak masuk akal," gumam pria itu.


"Ya sudah kalau kak tidak mampu bayar.. Tidak apa-apa kami kasih free," ucap Alin tersenyum.


"Enak aja gue masih mampu bayar," pria itu kemudian mengeluarkan sebuah kartu.


"Silahkan bayar di kasir ya kak," ucap Alin sambil menunjuk ke arah kasir.


Pria itu kini sedang berdiri di depan kasir menunggu proses transaksi. "Gue jadi makin penasaran sama itu cewek," gumamnya sambil terus memperhatikan Alin yang tengah sibuk membersihkan meja.


Setelah transaksi selesai ia melihat tagihannya nya ternyata tidak sama dengan yang tadi di lihatnya. "Hmmm sepertinya dia mau ngerjain gue," pria itu kemudian memasukan kembali kartu ke dalam dompetnya kemudian keluar meninggalkan cafe.


Karena terlalu sibuk Alin bahkan tidak sempat membuka ponsel. Alin masuk ke ruangannya untuk beristirahat sejenak.


Terlihat beberapa notif pesan dari Keenan ia mengabarkan tak bisa pulang malam ini karena ternyata ada pekerjaan di luar perkiraan.


***


"Sabrina," Panggil seorang mahasiswi ketika Alin turun dari mobil.


Tentu saja Alin tak menoleh karena merasa asing dengan panggilan itu.


"Hei.. Lo Sabrina kan?" mahasiswi menepuk pundak Alin.


"Gue?" tanyanya sambil menunjuk diri sendiri.


"Ya lo siapa lagi memangnya? Ini ada titipan buat lo," wanita itu memberikan sebuah kotak hadiah.


"Dari siapa?" Alin bingung kenapa tiba-tiba ia di beri kado. Padahal ia tak mengenal siapapun di sini kecuali Della dan trio pembuat onar.


"Devan.. Lo gak kenal?" tanya wanita itu.


Alin menggeleng.


"Ya udah deh gak penting lo kenal apa enggak yang penting gue udah sampein," wanita itu kemudian pergi.


Alin duduk di kantin sambil memakan kentang goreng. Ia terus memandangi kado yang belum ia sentuh sedikit pun.


Tiba-tiba Reno datang dan mengambil kado dari atas meja. "Wiih kado dari siapa nih?"


Alin mengangkat bahu. "Entah," jawabannya singkat.


"Hebat lo udah punya Fans... Gue unboxing ya," Reno nampak tak sabar.


"Buka aja.. Buat lo juga boleh,"


Reno nampak antusias membuka kado itu namun, ia harus kecewa setelah membukanya karena tak sesuai dengan ekspetasi "Idih ogah... Emangnya gue cowok apaan," Reno kemudian melempar kotak tersebut ke arah Alin.


Alin kemudian melihat isi dari kotak tersebut. "Ikat rambut? Bando? " Alin mengeluarkan satu persatu isi kotak tersebut. "Eh No.. Lo kenal yang namanya Devan?" Tanya Alin kemudian.


Reno nampak berfikir. "Kagak tau gue.. di kira gue petugas dukcapil," sungut Reno.


"Biasa aja kali mulut lo," Kesal Alin sambil memasukan kentang goreng kedalam mulut Reno.


"Eh Devan ya? kayaknya gue pernah denger deh. Yang pake motor sport itu kan?" Reno balik bertanya.


"Kalau tahu gue gak bakalan nanya lo," Kesal Alin.


"Lo jangan deket-deket sama dia deh.. Dia terkenal playboy,"


"Siapa juga yang mau deket-deket.. Lagian gue udah punya pawang ganteng, tajir lagi" ucap Alin dengan sombongnya.


"Sombong amat," celetuk Reno mengambil surat dari kado tersebut.


"Apa isi suratnya?" Alin sedikit penasaran. Kini Alin menerka-nerka apakah Devan adalah pria menyebalkan semalam?