
"Kenapa?" tanya Alin yang tak nyaman dengan tatapan Keenan seolah sedang mencurigainya.
Keenan menggenggam kedua tangan Alin. "Maafin Mas soal yang tadi,"
"Aku belum bisa maafkan," ucap Alin ketus. "Mas tadi mikirin Laura kan?" selidik Alin dengan tatapan tajam.
Keenan menggeleng. "Mas enggak ada mikirin dia,"
"Tapi tadi?"
"Sayang..." Keenan belum menyelesaikan ucapannya.
Tiba-tiba Alin menempelkan jari telunjuknya di atas bibir Keenan. "Udah lah Mas lupain aja.. Sekarang mending kita... " Alin menuntun Keenan ke dalam kamar dengan tatapan yang menggoda.
Begitu sampai kamar Alin langsung mendorong Keenan ke atas kasur.
"Mas... " ucap Alin dengan suaranya yang seksi sambil membelai pipi Keenan.
Keenan hanya terdiam. Ia ingin berbicara tapi bibirnya terasa kelu, matanya terasa berat kemudian tak lama ia tertidur.
"Cepat juga efeknya," gumam Alin, ia menepuk-nepuk pipi Keenan untuk memastikan apakah Keenan benar-benar tertidur atau tidak.
Setelah Alin memastikan Keenan benar-benar tertidur ia segera keluar menemui Bi Marni dan suaminya yang juga bekerja sebagai penjaga villa. Tak lupa ia memakai jaket untuk menutupi bajunya yang terbuka.
"Ayo pergi sekarang," ajak Alin pada pasangan pasutri tersebut.
"Apa enggak apa-apa Non?" tanya Bi Marni ragu.
"Bibi tenang aja," ucap Alin santai.
Kemudian mereka pergi ke sebuah club malam, Alin ingin memberi pelajaran pada Keenan agar ia tak menyepelekan perasaannya.
"Besok kalau Mas Keenan nanyain aku bilang aja nggak tahu ya Bi," pinta Alin sebelum memasuki club.
"Iya Non," jawab Bi Marni patuh.
Sebenarnya ini pertama kali Alin ke club malam, Bukan untuk berfoya-foya melainkan hanya untuk mengambil foto ia sengaja mengajak Bi Marni dan suaminya untuk menemani.
Suara musik yang keras serta lampu kelap-kelip membuat Alin pusing dan tak betah berlama-lama.
Ia membuka jaketnya dan mulai berfoto di dalam sana. Beberapa pasang mata memperhatikan Alin dan menatap kagum padanya.
Tak lupa ia mengambil foto duduk di Bar dan memegang sebotol bir di tangannya. di rasa foto sudah cukup banyak Alin segera mengajak Bi Marni dan suaminya keluar.
Alin memutuskan untuk tidak kembali ke Villa ia lebih memilih menginap di hotel. Sedangkan Bi Marni dan suaminya tentu saja mereka kembali ke Villa.
Alin merebahkan tubuhnya di atas kasur. Selama ini dia hanya anak rumahan dan tak tahu dunia luar. Kini ia merasa masa mudanya terbuang percuma. Ia harus terikat hubungan dengan seseorang yang bahkan tak bisa melupakan mantannya, padahal perjuangannya sampai titik ini juga bukanlah hal yg mudah.
***
Pukul 9 tepat Keenan terbangun, ia segera mencari Alin. Namun Alin tak ada di sana. Ia segera keluar kamar dan mencari ke seluruh sudut villa tapi Alin juga tak ada di sana.
"Bi.. Apa bibi lihat Alin?" tanya Keenan panik.
"Enggak Den, Bibi enggak lihat," Bi Marni berbicara sesuai permintaan Alin.
Keenan segera lari ke kamar untuk mengambil ponselnya.
Keenan tak bisa menahan emosinya saat membuka membuka pesan dari Alin. Tepat pukul 3 pagi Alin mengirim foto-fotonya di dalam sebuah club malam.
Tangannya mengepal, kemudian ia segera menelpon Alin tetapi nomernya sedang tidak aktif.
Sementara Alin sedang berada di sebuah butik, ia membeli beberapa pakaian. Ia sengaja mematikan ponselnya agar Keenan tak bisa mencarinya.
Setelah selesai membeli pakaian tak lupa ia membeli ponsel baru untuk memudahkan segala keperluan nya selama pergi dari villa.
Alin memakai kartu ATM yang di berikan Keenan tempo hari, ia tercengang melihat saldo di dalam kartu tersebut. Mungkin jumlahnya 10 kali lipat dari jumlah tabungannya yang ia kumpulkan sejak SD. selama ini Alin tidak pernah mengecek bahkan jarang menggunakannya.
Seketika pikirannya teringat pada Keenan. "Biar dia kapok!," gumam Alin yang selalu tersulut emosi ketika mengingat kejadian kemarin saat Keenan memanggil nama Laura.
***
Keenan mendatangi beberapa hotel sekitar untuk mencari tahu keberadaan Alin. Ia sangat khawatir takut terjadi sesuatu pada Alin, apalagi selama ini ia tahu Alin adalah anak rumahan yang tak tahu bagaimana dunia luar.
Terlebih lagi ketika ia melihat foto Alin sewaktu di club malam, pikirannya menjadi semakin kacau.
Keenan beberapa kali meminta bantuan Randy untuk mencari keberadaan Alin.
Beberapa kali Randy memberi tahu keberadaan Alin pada Keenan melalui transaksi yang Alin pakai melalui ATM, namun setelah di cek ke lokasi Alin sudah tidak berada di sana.
"Gimana ada kabar terbaru lagi?" tanya Keenan yang kembali menelpon Randy entah yang ke berapa kali.
"Astaga! belum," jawab Randy kesal. "Makanya kalau udah punya bini jangan inget-inget mantan," celetuk Randy. Bukannya memberi solusi sahabatnya itu malah ikut menyudutkan.
Keenan sedari pagi belum mengisi perutnya bahkan belum berganti pakaian. Rasa lapar pun ia hiraukan yang terpenting ia bisa segera menemukan Alin.
Keenan juga meminta bantuan pada teman dan rekan bisnisnya yang berada di Bali untuk mencari keberadaan Alin.
Hari mulai gelap sedangkan Keenan belum mendapatkan titik terang. Ia duduk termenung di sebuah trotoar dengan menggenggam sebuah botol air mineral. Rasanya sudah lelah ia mencari kesana kemari tetapi belum ada hasil.
Dering ponsel membuyarkan lamunannya, ternyata itu Randy. "Gimana udah ada kabar?" tanya Keenan tak sabaran begitu panggilan terhubung.
"Belum.. Lo udah ada cari ke bandara?" tanya Randy kemudian.
"Bandara? belum," jawab Keenan lemas.
"Siapa tau dia balik ke Jakarta. Suara lo... lemes banget, belum makan lo?"
Keenan segera berdiri dari tempat duduknya. "Nggak sempet gue makan.. Yaudah gue ke cari bandara sekarang,"
Randy jadi prihatin dengan sahabatnya. "Makan dulu!"
"Ck perhatian banget lo!" Keenan malah meledek
"Bukan apa-apa kalo pingsan pasti repotin orang, gue bukan perhatian tapi gue prihatin" Randy tertawa meledek Keenan, melihat berbagai macam persoalan rumah tangga para sahabatnya membuat Randy berfikir ulang untuk menikah.
"Yaudah gue tutup dulu," Keenan menutup panggilan kemudian segera masuk kedalam mobil dan pergi menuju bandara.
Setelah puas seharian jalan-jalan, kuliner dan perawatan Alin memutuskan untuk kembali ke hotel tempat semalam ia menginap. sebenarnya Alin sudah check out tadi pagi untuk menghilangkan jejak. Tapi di rasa hotel itu nyaman dan letaknya juga tidak terlalu jauh dari villa tempat ia menginap Akhirnya Alin kembali ke hotel tersebut.
Alin menggenggam ponselnya. Ia tengah berfikir apa harus ia menyalakan ponsel tersebut. Karena sebelum melancarkan aksinya Alin tak menghubungi siapapun.
Ia takut Keenan menghubungi keluarganya dan membuatnya mereka panik karena kepergiannya. Tapi jika ponsel tersebut di nyalakan Keenan pasti dengan mudah menemukannya.
-
-
Jangan lupa like dan komen..