
Satu bulan sudah Alin dan Keenan menjalin bahtera rumah tangga. Alin mencoba berdamai dengan hati dan keadaan, melihat sifat Keenan yang yang manis belakangan ini sedikit banyak meluluhkan hatinya. Sedikit demi sedikit Alin mulai membuka hati namun, gengsi Alin masih terlalu tinggi hingga terkadang bersikap acuh tak acuh.
"Mas cepetan dong! Udah telat ini," Teriak Alin dari dalam mobil. Jika biasanya Keenan yang sering lama menunggu Alin hari ini justru sebaliknya.
Tak lama Keenan pun masuk kedalam mobil tetapi ada yang berbeda dengan penampilannya hari ini. Jika biasanya Keenan selalu berpakaian formal dengan setelan Jas, celana kain dan sepatu pentofel hari ini ia berpakaian lebih santai dengan pakaian casual ala anak remaja.
Sebenarnya Alin terpana dengan penampilan Keenan yang terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Sebisa mungkin Alin menutupi kekagumannya agar Keenan tidak besar kepala.
"Kenapa belum jalan mas?" tanya Alin heran melihat Keenan yang sedari tadi diam saja.
"Gak ada yang mau kamu sampaikan melihat penampilan saya hari ini?" berharap dapat pujian dari Alin.
Alin menggelengkan kepala, "Enggak ada, emang apanya yang beda? " Jawab Alin pura-pura.
"Ah sudah lah lupakan," Jawab Keenan ngambek kemudian menyalakan mesin mobil dan langsung tancap gas.
"Mas pelan-pelan dong! di kira ini sirkuit kali ya," Teriak Alin ketakutan.
Tak ada jawaban dari Keenan malah ia sengaja menambah kecepatan.
"Mas, Pelanin! iya mas ganteng banget hari ini,"ucap Alin dengan wajah yang pucat.
" Jadi selama ini saya jelek?"
"Aduh ribet om-om yang satu ini," Gumam Alin dalam hati. "Ganteng kok mas, mas udah ganteng dari orok pelanin mobilnya Alin mual,"
Keenan pun mengikuti permintaan Alin perlahan ia memperlambat laju mobilnya namun, hal itu juga tak luput dari protes Alin.
"Gak pelan gini juga kali mas, di kira naik kura-kura apa? kalo gini kapan kita sampe nya? Alin udah telat ini, " cerocos Alin.
"Kenceng salah, di pelanin juga salah," Protes Keenan.
Sampai lah mereka ke depan Kampus Alin.
"Jangan lupa nanti malam acara ulangtahun mama," Keenan mengingatkan kembali Alin.
"Iya mas Alin ingat kok, yasudah Alin masuk dulu," Alin mencium tangan Keenan kemudian turun dari mobil. Sebenarnya Alin enggan untuk datang ke pesta mama mertuanya tersebut, Alin sadar diri kalau kehadirannya tak di harapkan oleh mertuanya. tapi di sisi lain dia harus menghormati suaminya terlebih lagi Keenan seorang anak tunggal yang sudah pasti jadi pusat perhatian dari keluarga besar.
***
Malam pun tiba, Alin tengah bersiap untuk menghadiri pesta ulangtahun mama Vero. Entah mengapa hatinya begitu resah seolah pertanda akan terjadi hal yang tidak dia inginkan. Sebisa mungkin Alin menepis pikiran negatifnya dan menyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja tidak ada yang harus di khawatirkan terlebih lagi Keenan dan papa mertuanya juga pasti akan menjaganya.
Terdengar suara ketukan dari luar kamar, Segera Alin membuka pintu.
"Sudah siap?" Tanya Keenan seraya memasuki kamar Alin.
Alin hanya mengangguk, Semenjak dari kejadian di pagi itu Alin tidak pernah bertemu dengan mama Vero, dia selalu menghindar jika menyangkut dengan mama Vero namun, sayangnya malam ini dia tidak bisa lagi mengelak.
"Jangan takut," Ucap Keenan menenangkan Alin seraya mengelus puncak kepala istrinya.
Sampailah mereka di tempat tujuan. Hingar bingar suasana pesta sudah terasa bahkan dari luar gedung belum lagi sederet karangan bunga tersusun rapi mulai dari gerbang masuk.
"Mas kok Alin deg-degan ya?" Alin memegang dadanya yang rasanya tidak karuan.
"Masa sih? coba sini saya pegang," Keenan mengulurkan tangannya namun dengan cepat di tepis oleh Alin.
"Enak aja main pegang-pegang," Alin menyilang kan kedua tangan di depan dadanya.
Keenan terkekeh, walau sudah sebulan menikah sayangnya Keenan belum berhasil menyentuh istrinya meskipun sebenarnya banyak sekali kesempatan tapi Keenan selalu gagal. "Jangan takut, ayo masuk," Keenan menggenggam tangan Alin.
"Selamat ulang tahun ma," Keenan memeluk dan mencium kening mama Vero.
"Makasih Ken," mama Vero membalas pelukan Keenan.
"Selamat ulang tahun ma," ucap Alin ragu sambil memberikan sebuah kado.
"Terimakasih," jawab mama Vero datar sambil menyimpan kado yang Alin berikan.
"Ma, ayo kita mulai acaranya," ajak Papa Wira.
"Sebentar pa! mama masih menunggu seseorang," Mama Vero memandangi pintu masuk sepertinya memang dia sedang menunggu orang yang penting.
"Siapa ma?" tanya Keenan penasaran.
"Nanti juga kamu tahu Ken," jawab mama Vero tersenyum penuh teka-teki.
Kira-kira mama Vero nungguin siapa ya?
Hallo pembaca setia Alin dan Om Keenan semoga part ini bisa mengobati kerinduan kalian sama Alin ya.. dukung terus cerita author yang abstrak ini ya.. peluk online dari author.