
Tak terasa hari persalinan semakin dekat dan tinggal menghitung hari. Keenan menjadi lebih siaga akhir-akhir ini dan membebankan semua pekerjaannya pada Randy.
Sudah menjadi rutinitas setiap pagi Keenan menemani Alin jalan-jalan pagi sesuai anjuran dokter karena Alin ingin melahirkan secara normal.
Keenan selalu menggandeng tangan Alin dan tak pernah meninggalkan istrinya saat berada di luar rumah. Ia masih takut kejadian tempo hari terulang kembali walaupun kini di rasa sudah aman karena sudah tidak ada lagi teror dan penguntit yang mengikutinya.
Alin duduk selonjoran di atas kasur karena merasakan pegal setelah jalan-jalan barusan dengan sigap Keenan segera memijat kaki istrinya itu. "Makasih ya Mas..," Alin tersenyum menatap Keenan yang terlihat sudah mahir menjadi tukang pijat dadakan untuknya.
"Makasih doang? Hmmm... " Keenan berpura-pura cemberut.
"Ya terus? Minta upah?" tanya Alin bingung.
"Iya lah jaman sekarang nggak ada yang gratis," Keenan mengedipkan sebelah matanya genit menggoda Alin.
"Isshh.. Udah mau jadi ayah juga masih genit, malu dong sama anaknya" gerutu Alin yang geli melihat tingkah suaminya.
"Dia pasti bangga punya ayah kaya Mas," ucap Keenan penuh dengan percaya diri.
Tiba-tiba dering ponsel menghentikan percakapan mereka. Terlihat nama Randy di layar ponsel dengan malas Keenan menjawabnya, sudah bisa ia tebak kalau Randy pasti akan menyuruhnya untuk ke kantor.
Dan benar saja Randy meminta Keenan untuk datang ke kantor. "Iya tunggu sebentar," Keenan langsung melemparkan ponselnya ke atas kasur setelah sebelumnya mematikan telpon.
"Mas ke kantor sebentar ya sayang," Pamit Keenan pada Alin seraya mengecup kening istrinya tak lupa ia juga mengelus dan mencium perut istrinya.
"Nggak ganti baju dulu Mas?" tanya Alin yang melihat Keenan masih menggenakan setelah olahraga.
Benar juga tidak mungkin ia pergi ke kantor menggunakan setelan olahraga yang sudah basah karena berkeringat. Ia juga harus menjaga image di depan karyawannya. "Mas mandi dulu sebentar," ucap nya kemudian.
Alin hanya mengangguk.
"Mau ikut mandi?" ajak Keenan tersenyum menggoda Alin.
"Kalau Alin ikut mandi nanti malah jadi lama," cibir Alin.
"Iya bener juga... Nanti sore saja ya mandi barengnya ya" ucap Keenan kemudian dengan segera ia berjalan ke kamar mandi.
***
Prakk...
"Dasar pembohong!" Teriak Yuna setelah melempar sebuah telur busuk dan tepat mengenai kepala Julia.
"Anak kurang ajar! Beraninya kamu!" maki Julia dia menyentuh kepalanya dan merasakan bau tak sedap di sana.
"Kamu bilang nggak akan pecat papa, tapi sekarang malah jebloska papa ke penjara. Padahal papa tidak bersalah dia orang yang jujur," Yuna berbicara lantang walau menahan sesak di dadanya.
"Hahaha... Bodoh! Justru dia terlalu jujur jadi harus di singkirkan. Dan aku tidak berbohong aku tidak pecat papa kamu," Julia menyeringai penuh kemenangan.
Dengan langkah berani Yuna berjalan menghampiri Julia "Dasar psikopat," Yuna menjambak rambut Julia dengan sekuat tenaga, sudah terlanjur sakit hatinya karena di bohongi wanita itu. dia tak memikirkan apapun resiko yang akan di terima kedepannya nanti.
Tak mau kalah Julia pun menarik rambut panjang Yuna. Saling jambak pun tak bisa di hindarkan. Julia mendorong Yuna sampai tersungkur ke lantai. "Lihat saja! kamu pun akan bernasib sama seperti papamu. Apalagi aku punya bukti kuat kamu melakukan Cyber crime," ancam Julia.
"Laporkan saja! itu sama saja kamu menyerahkan diri," Tantang Yuna.
***
"Lo yakin anak itu tahu informasi yang kita cari?" tanya Keenan dengan wajah yang serius.
"Gue gak yakin tapi kita bisa manfaatin dia," Randy memberi ide.
Keenan menolak ide gila Randy. "Jangan libatkan orang lain dalama urusan kita. Terlebih dia masih di bawah umur,"
"Dia sendiri yang mau terlibat," Ucap Randy dengan santai nya.
"Maksudnya?" tanya Keenan penasaran.
Randy pun menceritakan pertemuannya tadi pagi dengan Yuna.
"Ada di kamar 102," jawab Randy.
"Jangan macam-macam lo sama anak gadis orang," Ledek Keenan.
"Muka gue sebejad itu ya?" Randy menunjuk wajahnya sendiri. Randy memang di kenal genit pada setiap wanita tak heran teman-temannya selalu meledeknya. "Oh iya tadi dia ngasih ini.. belum sempet gue lihat," Randy memperlihatkan sebuah flashdisk pemberian Yuna.
"Cepat lihat," Keenan nampak tak sabaran.
Randy segera memasang flashdisk pada laptopnya. "Wow! pinter juga ini bocil," ujar Randy kagum saat melihat isi dari flashdisk tersebut.
"Ck jangan bilang kemampuan lo di bawah gadis itu," Ledek Keenan.
"Lo ragukan S2 gue di Oxford?" tanya Randy dengan sombongnya.
Dan begitulah mereka selalu melempar candaan satu sama lain meski kurang satu personil yaitu Sean yang sedang berada di luar negeri beberapa bulan terkahir ini.
***
Siang hari Keenan sudah kembali ke rumah ia sudah berjanji pada Alin kalau tak akan lama di kantor. "Lagi masak apa?" tanya Keenan menghampiri Alin yang sedang berada di dapur kemudian memeluknya dari belakang.
Alin segera menghentikan aktifitas nya. "Nggak masak kok mas. Cuma cuci buah kiriman dari ayah," Ia membalik badan kemudian memeluk Keenan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Keenan, Akhir-akhir ini Alin memang senang mencium aroma tubuh suaminya.
BI Inah berdeham dari arah pintu belakang. "Ehem.. bibi di sini non jangan buat adegan panas,"
"Astaga!" Keenan terkaget mendengar suara nyaring Bi Inah. "Ayah tadi kesini?" tanya Keenan kemudian.
"Iya cuman mampir sebentar kirim ini doang," Alin menunjukkan makanan dan buah-buahan yang di kirim ayahnya.
"Banyak banget," Keenan geleng-geleng kepala melihat banyaknya makanan dan buah-buahan yang dikirim mertuanya tersebut.
Alin tertawa. "Ini bisa buat stok satu tahun Mas,"
Keenan ikut tertawa membenarkan perkataan Alin "Sudah makan?" tanya nya kemudian.
"Belum.. Nungguin Mas,"
"Hmmm Mas kan sudah bilang kalau sudah waktunya makan jangan suka nunda makan"
Alin cemberut mendapat omelan dari Keenan padahal sedari tadi mulutnya tak berhenti mengunyah camilan hanya saja dia belum makan siang karena ingin makan bersama dengan suaminya.
"Mampus! Salah ngomong lagi nih kayanya" gumam Keenan menyadari perubahan raut wajah istrinya. "Sayang," panggil Keenan dengan lembut.
"Apa?" jawab Alin jutek.
Keenan menelan ludah dengan susah payah, akan sulit sekali membujuk Alin yang sedang marah. "Yasudah ayo kita makan bareng," Ajak Keenan merangkul Alin.
"Udah gak selera makan," tolak Alin kemudian meninggalkan Keenan.
Keenan segera menyusul Alin. "Yaudah mau apa biar Mas belikan?"
"Nggak mau apa-apa," jawab Alin dengan ketusnya.
-
-
-
Jangan lupa like dan komen...
mohon maaf jika di episode kali ini kurang memuaskan atau bahkan membosankan...
Saya sudah berusaha semaksimal mungkin (Eaa udah kaya dokter2 di film hidayah)
Terimakasih yang sudah setia menunggu My little bride update.... sayang kalian banyak-banyak...