My Little Bride

My Little Bride
Tamu tak diundang



Pagi-pagi sekali Julia sudah datang ke rumah Keenan bahkan pemilik rumahnya saja masih tertidur pulas.


Bi Inah beberapa kali mengetuk pintu Kamar Keenan namun tidak ada sautan dari dalam.


"Belum bangun juga ya bi?" tanya julia yang sedang sibuk membuat sarapan.


Bi inah menggeleng "Belum non, coba bibi bangunin neng Alin ya," Bi Inah memang sudah mengenal Julia karena beberapa kali julia dan keluarganya pernah berkunjung ke rumah orang tua Keenan.


Julia memegang lengan bi Inah dan mencegahnya, "Jangan bi! aku mau ketemu Keenan bukan Alin," ucap Julia ketus.


Mama vero semalam telah menceritakan permasalahan Keenan mulai dari A sampai Z. Julia yang sudah lama menaruh hati pada Keenan merasa mempunyai kesempatan apalagi dia mendapatkan dukungan dari mama Vero, dulu dia tidak berani mendekati Keenan karena adanya Laura. Laura bukanlah saingan yang sepadan dengan dirinya. Ia merasa minder dengan karir maupun fisik Laura. Namun kini tak ada yang harus dia khawatirkan lagi kalau hanya menghadapi Alin gadis kecil yang bahkan baru memulai kuliah membuat rasa percaya dirinya semakin tinggi. Julia juga yakin kalau Keenan tidak akan tertarik pada Alin karena gadis itu tidak masuk kriteria wanita idaman Keenan.


"Udah siang mas Alin mau mandi," Alin menggeser lengan Keenan yang masih melingkar di pinggangnya.


Keenan mengeratkan pelukannya. "Tar aja, ini kan hari libur," jawabnya dengan suara serak dan mata yang masih terpejam seakan tak rela melepaskan pelukannya.


"Tadi bi inah ngetuk kamar mas, siapa tau ada yang penting,"


Keenan membalikan posisi Alin yang membelakanginya "Biarin aja," ia membuka mata untuk melihat wajah Alin yang cantik meski masih berantakan ketika bangun tidur.


Pipi Alin merona ketika Keenan tersenyum memandanginya. "Jangan gitu lihatnya Alin malu," Kemudian dia membenamkan wajahnya di dada Keenan.


"Ngapain malu, Mas udah lihat semua kok," Keenan sengaja menggoda istrinya.


Butuh waktu sebulan untuk Keenan bisa menjadikan Alin miliknya seutuhnya. Memang awalnya karena rasa bersalah tapi lama-kelamaan seiring berjalannya waktu rasa sayang itu tumbuh, rasa tanggung jawab dan rasa ingin melindungi muncul dengan sendirinya. Keenan tahu Alin menghadapi masa-masa sulit selama menikah dengannya tapi gadis itu tak pernah sedikitpun mengeluh dan menyalahkannya.


"Boleh di ulang kan yang semalam?" bisik Keenan di telinga Alin. Belum sempat Alin menjawab...


Tok.. tok.. tok


"Neng udah bangun? di bawah ada tamu, bibi udah ketuk pintu kamar den Keenan tapi kayanya belum bangun juga," Teriak Bi Inah dari luar kamar.


"Udah bangun kok bi, Entar aku bangunin sekalian," Saut Alin dari dalam.


Keenan mendengus Kesal. "Siapa sih ganggu aja," Untung saja semalam dia bisa menuntaskan hasratnya setelah tragedi patroli polisi dan untuk pagi ini sepertinya ia harus bersabar lagi.


Alin meringis menahan sakit di bagian sensitifnya "Ayo bangun mas," kemudian membungkus tubuhnya dengan selimut lalu meninggalkan Keenan yang masih cemberut.


***


"Udah lama Jul?" tanya Keenan basa-basi saat memasuki ruang makan sembari mengancingkan piyama nya.


"Eh, enggak kok kak Ken, Maaf aku ganggu ya pagi-pagi," Julia tersenyum canggung melihat bagian tubuh Keenan yang atletis.


"Udah tau nanya lagi," batin Keenan sayang ia tidak bisa mengatakannya secara langsung. "Enggak kok santai aja," Jawabnya seraya duduk.


Mengeluarkan senyum semanis mungkin "Sarapan dulu kak, aku buatin sandwich kesukaan kak Ken," ucap Julia menyodorkan sebuah sandwich di hadapan Keenan.


"Gak usah repot-repot kamu kan tamu di sini harusnya di jamu bukan malah siapin sarapan," Keenan meneguk segelas air putih yang sudah tersedia di meja makan.


"Gak masalah aku suka kok. oh iya mana istrimu? belum bangun ya?" tanya Julia yang tangannya masih sibuk mengupas buah tanpa dia sadari orang yang di tanyakan sedang berjalan perlahan menuju meja makan.


"Udah bangun kok tante," Alin menyahuti.


Keenan menepuk kursi di sebelahnya. "Duduk di sini sayang," panggilnya lembut


Bukannya membalas ucapan sayang suaminya Alin malah mengomel "Mandi dulu mas," sergah Alin melihat penampilan Keenan yang masih berantakan namun tak mengurangi kadar ketampanannya dan selalu membuat jantungnya berdebar ia takut Julia pun akan merasa demikian.


"Iya," jawabnya singkat kemudian meninggalkan ruangan.


"Ayam pak Joko tiap hari bangun pagi tapi masih jomblo loh tan, mau aku kenalin? siapa tau bisa bangun rumah tangga sama tante" jawab Alin sekenanya.


"Benar kata tante Vero anak ini gak ada sopan santunnya," ucap Julia ketus.


"Tante-tante ini juga gak ada sopan santunnya, bertamu kok kaya di rumah sendiri aja gak ada ijin pula dari yang punya rumah," Alin menyindir balik.


Julia tertawa meledek "Oh jadi kamu merasa hebat jadi tuan rumah di sini? jangan mimpi ya sebentar lagi kamu bakal di tendang dari sini. Kamu tau kan tante Vero gak suka sama kamu. Kak Ken itu sangat menyayangi tante Vero dia pasti akan melakukan apa saja buat ibunya,"


"Maaf ya aku gak kenal sama tante, buat apa tante ikut campur urusanku. masalah mama Vero gak suka sama aku itu gak ada sangkut pautnya sama tante," jawab Alin santai.


"Tapi tante Vero maunya aku yang jadi menantunya," Jawab Julia dengan angkuhnya


"Kalau mas Ken maunya aku yang jadi istrinya gimana?"


"Mimpi!" Julia tertawa belum sempat dia menjawab Alin tiba-tiba Keenan datang.


"Ngobrol apa kayaknya seru banget?" tanya Keenan yang memang tidak mendengar obrolan mereka sebelumnya.


"Eh enggak kok kak," Julia sedikit gugup.


"Yakin mau tau?" tanya Alin menggoda.


Keenan mengangguk sementara Julia melayangkan tatapan tajam ke arah Alin.


"Biasalah mas perempuan. Tante Julia lagi seneng katanya harga telur lagi turun," Alin terkekeh.


Keenan menautkan kedua alisnya, seorang Julia anak pengusaha kelapa sawit sebegitu bahagianya karena harga telur yang sedang turun.


Keenan merasa terganggu dengan kehadiran Julia "Oh iya Jul, Maaf ya hari ini kami mau keluar," Secara tidak langsung Keenan mengusir Julia secara halus.


Julia meletakan sebuah paper bag yang berisi oleh-oleh. "Iya kak, Aku ke sini cuman mau anterin ini, semalam kaka pulang duluan jadi gak sempat kasih untung tante Vero kasih alamat kak Ken," Julia beralasan.


Keenan mengambil paper bag tersebut. "Makasih Jul, kamu gak usah repot-repot harusnya,"


"Enggak kok, aku suka malah di repotin," Julia tersenyum menutup mulutnya.


Alin memutar bola mata malas "Kalau gitu tolong benerin genteng yang bocor dong tante,"


"Alin," Keenan melayangkan tatapan tajam.


"Becanda doang kok mas," jawab Alin sebal.


Tak berselang lama Julia pun pamit karena merasa kedatangannya tidak di sambut baik oleh Keenan maupun Alin dia berencana pergi ke rumah mama Vero untuk meminta bantuan wanita itu.


"Emang mau pergi ke mana mas?" Tanya Alin penasaran karena sebelumnya mereka tidak merencanakan untuk pergi ke luar.


Keenan tersenyum nakal "Kencan,"


Alin sedikit bingung "Ha kencan?"


"Kita jarang, Emm bahkan gak pernah jalan bareng menghabiskan waktu berdua," Keenan meralat kata-katanya. "Untuk itu hari ini mas mau kita menghabiskan waktu berdua seperti pasangan lain, mau?"


Alin berpikir sejenak. "Emm mau mas, ayo berangkat!" ucap Alin seraya menggandeng tangan Keenan.


Jangan lupa like dan komen nya ya...