
Alin mengajak Keenan untuk makan malam di rumah ayahnya, dan tentu saja Keenan menyetujui. Padahal ada maksud terselubung di balik makan malam tersebut dan Keenan tidak mengetahuinya.
"Mas.. Istirahat saja di kamar, Aku mau bantuin nenek masak. Nanti aku bangunin," Alin mengajak Keenan untuk beristirahat terlebih dahulu karena hari masih sore.
"Mau mandi dulu? Perasaan baju mas ada deh di sini," Alin membuka lemari mencari baju Keenan yang sengaja di tinggal jika sewaktu-waktu mereka menginap.
"Nanti saja mas cari sendiri,"
" Yasudah aku kebawah ya Mas," pamit Alin.
Keenan merebahkan tumbuhnya di atas kasur, sebenarnya sedari tadi dia berfikir sebenarnya misi apa yang di berikan Papanya pada Alin.
Merasa badannya lengket setelah tadi berkeliling toko akhirnya Keenan memutuskan untuk mandi. Saat Keenan membuka lemari hendak mengambil handuk dan pakaian tak sengaja dirinya melihat album foto masa kecil Alin. Merasa penasaran kemudian keenan membukanya.
Lembar pertama terlihat poto Pak Adi bersama seorang perempuan. Keenan yakin itu pasti Bundanya Alin karena terlihat wajah mereka yang mirip.
Keenan membuka lembar demi lembar album tersebut. Ia tak henti tersenyum melihat wajah Alin yang menggemaskan, Ia membayangkan jika mempunyai anak perempuan mungkin wajahnya akan mirip dengan Alin. Di lembar terkahir dia melihat fotonya ketika berada di bandara saat itu ia baru saja menyelesaikan pendidikan nya di luar negeri.
"Sejak kapan dia simpan foto ini?" Keenan penasaran kapan Alin menyimpan foto itu.
***
Jam makan malam tiba, Kebetulan Pak Adi pulang lebih cepat hari ini.
Setelah makan malam mereka berbincang-bincang di ruang keluarga. Pak Adi, Nenek dan Keenan mengobral banyak hal. Sedangkan Alin dia sedang menunggu waktu yang pas untuk berbicara berdua dengan ayahnya.
Nenek yang awalnya mengobrol kemudian ke dapur untuk mengambil buah sekalian beres-beres dan cuci piring.
"Biar saya bantu Nek," Keenan kemudian berdiri dan mengikuti nenek ke dapur.
Dewi fortuna sedang berpihak padanya. Akhirnya kesempatan untuk berdua dengan ayahnya tiba. "Bagaimana bisnisnya lancar yah?" Tanya Alin membuka percakapan.
"Ya begitulah... Namanya usaha ada naik turunnya. Kadang rame kadang juga sepi seperti saat ini," tutur sang ayah kemudian meminum tehnya.
"Apa ayah nggak kepikiran untuk kerja kantoran lagi?" tanya Alin ragu-ragu.
"Ayah ini sudah tua.. Mana ada kantor yang mau nerima ayah, lagian ayah sudah nyaman dengan usaha yang ayah tekuni sekarang,"
"Kata siapa udah tua?! Ayah masih muda kok.. Masih ganteng, ya tapi masih gantengan mas Keenan dikit" setelah memuji setinggi langit kemudian Alin menjatuhkannya sedalam samudera.
Pak Adi tertawa mendengar perkataan Alin. "Dasar kamu itu, Dulu aja bilang ayah laki-laki paling tampan di dunia" Pak Adi mengacak rambut Alin.
"Ayah itu cinta pertama aku.. Sedangkan mas Keenan cinta terakhir aku,"
Uhuk.. uhuk.. Pak Adi langsung tersedak.
"Astaga! Minum yah... " Alin menyodorkan cangkir teh milik ayahnya. "Becanda doang yah. Oh iya.. ayah balik aja ke kantor Papa." Setelah cukup pemasangan Alin pun melancarkan misinya.
"Kalau ayah kerja lagi lalu siapa yang mengurus usaha ayah?"
"Nanti Alin bantuin deh.. Ayah tenang saja"
"Kamu?" Pak Adi tertawa mendengar penawaran Alin.
"Ayah nggak percaya sama aku? Aku sudah dewasa sekarang," Alin cemberut.
"Benar juga," Ucap Pak Adi. Putrinya kini sudah dewasa bahkan sudah menikah, tapi dia selalu menganggap Alin adalah putri kecilnya.
"Ayah pikir-pikir saja dulu. Kesempatan enggak datang dua kali loh, jangan sampai menyesal, " Alin memprovokasi agar Pak Adi mau kembali ke kantor.
"Ayah pikirkan nanti".
***
Malam semakin larut Alin dan Keenan pamit untuk pulang. Sebenarnya nenek melarang mereka untuk pulang tapi karena seribu alasan dari Alin akhirnya nenek mengijinkan.
" Sayang?" panggil Keenan ketika dalam perjalanannya pulang.
"Hmmm," jawab Alin yang setengah mengantuk.
"Tadi mas gak sengaja lihat album foto di dalam lemari,"
"Sejak kapan kamu simpan foto mas?" tanya Keenan menahan senyum.
Seketika rasa kantuk Alin hilang. "Memang ada?" tanya Alin gugup.
"Ada. Kamu diam-diam naksir sama mas ya?" goda Keenan.
Pipi Alin memanas. "Enggak kok.. itu foto nemu di kantor, sepertinya kebawa. Entahlah aku sudah lupa," Alin mencari alasan.
"Yakin?" Keenan mencolek dagu Alin.
Alin menjadi salah tingkah. "Dulu kan mas suka kasih eskrim, coklat,permen kalau ketemu makanya aku kagum. Tapi enggak ada maksud apa-apa kok, lagian waktu itu aku masih kecil masih SD"
Keenan tertawa, Mereka dulu pernah sedekat itu. Pak Wira memang selalu meminta Keenan untuk menjaga Alin jika Alin ikut acara atau pekerjaan tertentu.
Dia tak menyangka gadis kecil yang manja, menyebalkan, serta cengeng itu kini menjadi istrinya. Apalagi perbedaan usia mereka cukup jauh yaitu 14 tahun.
"Gak sia-sia mas jagain kamu dari dulu," Keenan tertawa mengingat momen dimana dirinya kerepotan menjaga Alin.
"Sekarang aja seneng. Padahal dulu nggak mau di repotin mana galak banget," celetuk Alin.
"Tapi kamu suka kan?" Keenan mengedipkan sebelah matanya menggoda Alin.
"Enggak," jawab Alin cepat.
"Mas juga nggak nyangka sekarang kamu secantik ini," Keenan kembali tertawa mengingat Alin dulu waktu kecil yang kurus serta berkulit gelap karena sering bermain layangan.
"Nggak seru mainnya fisik," Alin sebal sekaligus malu.
"Dulu juga cantik, tapi sekarang lebih cantik," puji Keenan.
"Aku curiga ada maunya ini," Alin waspada menatap Keenan.
Dengan cerita nostalgia tak terasa akhirnya mereka sampai rumah.
"Ya kalau itu pasti ada," ucap Keenan membuka pintu mobil kemudian keluar dan membukakan pintu untuk Alin.
"Tapi sayang mas harus sabar dulu ya.. Puasa dulu satu minggu," Alin mencium bibir Keenan sekilas kemudian meninggalkan Keenan.
***
Seperti janjinya semalam, hari ini Alin pergi ke cafe Pak Adi. "Ayah," sapa Alin ketika memasuki ruangan ayahnya.
"Wah rajinnya putri ayah," puji Pak Adi ketika melihat Alin yang sudah datang meski masih pukul 10 pagi.
"Kan aku sudah bilang, Aku mau bantu ayah," ucap Alin kemudian menyimpan tas yang di tenteng nya.
"Sudah ijin sama nak Keenan?" Pak Adi khawatir jika Alin tak ijin.
"Sudah.. Ayah tenang aja. Mas Keenan malah dukung. katanya biar aku ada kegiatan dan gak sedih terus," Alin tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu. yang penting jangan sampai lupa tugasmu sebagai seorang istri dan juga bukannya kamu mau lanjut kuliah?"
"Iya yah.. Bulan depan aku sudah masuk kuliah," jawab Alin kemudian mengambil sebuah menu di meja ayahnya. " Yah.. sepertinya kita harus tambah menu yang kekinian dan ramah di kantong anak sekolah. Tadi waktu perjalanan ke sini aku lihat ada beberapa SMA di sekitar sini," usul Alin.
"Ayah juga kepikiran begitu. Tapi ayah terlalu tua untuk tahu selera anak jaman sekarang," Pak Adi garuk garuk kepala.
"Tempat nya juga harus instagramable yah.. Anak muda kan paling senang foto-foto, Karena ini konsepnya kafe bukan warteg," Alin tertawa
Pak Adi tersenyum bangga melihat perubahan Alin saat ini. Alin terlihat elegan dan kalem berbeda dengan dulu yang pecicilan.
-
-
-
Jangan lupa like dan komen...