My Little Bride

My Little Bride
Ngidam



Karena kondisinya tidak memungkinkan untuk melanjutkan kuliah maka Keenan menyarankan untuk berhenti kuliah dahulu agar bisa fokus pada kesehatan dan kehamilannya. Alin tidak bisa cuti karena memang baru menjalankan kuliah satu semester saja sedangkan syarat mengajukan cuti kuliah adalah minimal dua semester. Awalnya Alin bersikeras untuk tetap melanjutkan kuliah walau dalam keadaan hamil. Mamun, pada kahirnya ia menurut pada suaminya karena melihat kondisi badannya yang sekarang.


"Mas... Hari ini boleh ya Alin ke kampus? Alin mau pamit dulu sama teman-teman," Bujuk Alin sambil bergelayut manja pada lengan Keenan.


"Boleh.. Tapi Mas temani ya,"


"Nanti mereka jadi canggung udah kaya ngobrol sama tahanan yang di tungguin sipir,"


Keenan mencubit hidung Alin gemas. "Mas temani sampai depan gerbang saja. Enggak ikut masuk kok,"


***


"Alin.... " panggil Della saat melihat Alin yang sudah duduk di koridor Kampus. Della segera berlari dan memeluk Alin.


Senyum Alin mengembang saat melihat sahabat nya itu. "Della,"


"Gue kangen.. gimana kabar calon ponakan gue?" tanya Della antusias.


"Gue juga kangen Dell.. Baik Dell do'ain ya biar sehat terus, Heh kabar gue enggak di tanyain?" Tiba-tiba Alin cemberut.


Della tertawa "Lu kan udah kelihatan.. Eh iya yakin mau berhenti?" tanya Della kemudian.


Alin mengangguk "Iya Dell... Gue kesini cuma mau pamit sama lu juga si trio macan." lanjut Alin.


"Panjang buntut baru di omongin pada nongol tu orang," tunjuk Della pada tiga orang pria yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Lin... Kemana aja lu gak pernah masuk?" tanya Reno penasaran karena sudah beberapa minggu Alin tidak masuk kuliah.


"Ada di rumah," jawab Alin santai.


"Sakit?" tanya Farrel kemudian melihat wajah Alin yang masih terlihat pucat.


Alin menggeleng "Gue sehat kok," jawabnya sambil tersenyum.


"Terus kenapa?" tanya Rizal yang tak kalah penasaran.


"Kepo ih," sergah Della.


Alin menghirup nafas dalam "Hari ini gue mau pamit sama kalian,"


Reno semakin di buat penasaran "Mau pindah kampus?"


"Bukan... Gue mau berhenti kuliah. Kalau ada kesempatan nanti gue masuk sini lagi," jawab Alin meski berat hati meninggalkan para sahabatnya.


"Tapi kenapa? Kok tiba-tiba sih Lin?" tanya Farrel masih tak percaya.


"Maaf ya sebelumnya gue enggak pernah cerita sama kalian.. Jadi sebenarnya gue udah nikah dari sebelum masuk kuliah. Dan sekarang gue memutuskan untuk berhenti karena gue lagi hamil," jujur Alin.


Mata Reno terbelalak "Serius Lin?" tanyanya masih tak percaya.


Alin mengangguk "Serius No... masa iya gue bohong,"


"Selamat ya Lin... gue ikut seneng walaupun gue sebel karena gak di undang, gak bisa makan gratis deh," canda Rizal sambil menyodorkan tangannya memberi selamat pada Alin.


Alin menyambut uluran tangan Rizal.


"Makan gratis aja otak lu Zal," protes Della.


"Selamat ya Lin.. Akhirnya lu bisa mewariskan predikat ratu jomblo sama cewek yang satu ini," Reno menunjuk wajah Della. "Dan selamat juga buat kehamilan lo.. jaga baik-baik ponakan gue," tambah Reno.


"Makasih ya.. terharu gue. Kalian enggak marah sama gue?" tanya Alin kemudian.


"Ngapain harus marah. Yang ada kita seneng kali akhirnya salah satu dari kita ada yang sold out." saut Rizal.


"Kita memang sahabat lu, tapi untuk masalah pribadi itu kan privasi masing-masing. Mau cerita ya silahkan kita sebagai sahabat cuma bisa jadi pendengar yang baik dan selalu support." Reno yang terkenal pecicilan dan kekanak-kanakan kali ini bersikap jauh lebih dewasa.


"Eh Farrel... ngomong dong dari tadi diem aja," Rizal menyenggol bahu Farrel.


Farrel garuk-garuk kepala tak gatal "Bingung mau ngomong apa gue,"


"Move on udah jadi bini orang," sindir Della.


Farrel mendelik "Iya gue tau Dell... Pokoknya selamat ya Lin. Do'a yang terbaik buat lu dan suami," lanjut Farrel.


"Makasih ya kalian udah jadi sahabat gue selama ini... Sedih juga harus pisah sama kalian," Alin mulai berkaca-kaca.


"Elah kaya mau kemana aja lu.... Rumah masih di sekitar sini kan? Tar kita sering ketemu deh di luar," Reno mencoba menghibur Alin.


***


"Mas... " Alin segera memeluk suaminya yang masih setia menunggunya di depan gerbang.


Keenan mengelus rambut Alin "Sudah lega sekarang?"


Alin mengangguk. "Sudah... Dan mereka juga support Alin," kemudian Alin tersenyum lega. Setelah sekian lama memendam rahasia akhirnya hari ini Alin bisa jujur kepada para sahabatnya.


"Syukurlah kalau begitu.. Yasudah kita pulang sudah siang," Keenan menggandeng Alin masuk kedalam mobil.


"Iya Mas.. Alin juga udah lemes banget," Keluh Alin kemudian.


Keenan membuka botol air mineral kemudian memberikannya pada Alin "Sayang minum dulu,"


Alin meminum sedikit air yang di berikan suaminya itu.


"Minum yang banyak biar enggak dehidrasi,"


Alin menutup mulut seperti ingin muntah. "Mual Mas... "


Dengan spontan Keenan memberikan sebuah kantung plastik bekas belanja di minimarket. "Muntahin di sini sayang," ucap Keenan dengan polosnya.


Alin mendelik. "Ya kali masa Alin muntah di kresek,"


"Yasudah kita cari toilet terdekat ya," bujuk Keenan. Ia memang harus lebih banyak bersabar menghadapi Alin saat ini.


***


Sesampainya di rumah Keenan menggendong Alin dari mobil karena tertidur. Mungkin kelelahan karena Alin memuntahkan semua isi perutnya.


Keenan merebahkan Alin di atas kasur. Tak lupa mengolesi leher dan juga perut nya dengan minyak telon agar selalu merasa hangat.


"Mas.." panggil Alin sambil memegang tangan Keenan yang hendak pergi.


"Iya sayang kenapa? Mau sesuatu? " tanya Keenan kembali berbalik pada Alin.


"Boleh?" tanya Alin sedikit ragu.


Kemudian Keenan berjongkok dan mengusap pipi Alin "Boleh.. Mau apa?"


"Alin tiba-tiba pengen buah rambutan,"jawabnya malu-malu membayangkan nya saja sudah membuat Alin ngiler.


"Rambutan? tapi kan belum musim sayang,"


"Yasudah kalau gak mau nyariin," raut wajah Alin berubah jadi kecewa.


"Mau kok sayang... Mas pergi sekarang ya. Kamu tunggu sebentar kalau butuh apa-apa panggil Bi Inah," Pamit Keenan sigap sebenarnya dia bingung harus mencari kemana karena buah itu memang musiman.


"BI.. Titip Alin ya saya mau keluar sebentar," kebetulan Bi Inah berada di depan pintu kamar mengantarkan buah-buahan untuk Alin.


"Iya Den tenang aja," jawab BI Inah enteng.


"Oh iya Bi... cari buah rambutan di mana ya kira-kira?" tanya Keenan kemudian.


"Di tukang buah biasanya banyak Den. Tapi nunggu musimnya dulu,"


"Kalau itu saya tahu Bi.. Selain itu?"


"Coba cari di kampung rambutan Den," Bi Inah terkekeh.


"Oke... di kampung rambutan," ucap Keenan segera bergegas.


"Astaga! Den tunggu enggak ke kampung rambutan juga nyarinya," teriak Bi Inah yang melihat Keenan begitu gesit.


Namun nampaknya Keenan tak menghiraukan perkataan Bi Inah...


-


-


Iseng banget sih Bi Inah ngerjain Keenan... Hehe


Jangan lupa Like dan komen ya...Dan untuk yang nanyain kelanjutan cerita Alin dan Om Keenan Novelnya masih on going ya. Masukan Ke favorit agar dapat notif jika ada update episode terbaru..


Terimakasih semua jangan lupa jaga kesehatan... peluk jauh dari author...