
Ada yang tak biasa pagi itu. Nenek Ida datang berkunjung ke rumah Alin alasannya sudah kangen dengan cucu kesayangannya. Sudah lama sekali Alin tidak pulang ke rumah dengan alasan sibuk kuliah.
Alin menyambut dengan gembira kedatangan Neneknya. "Nenek," panggil Alin seraya menghambur kedalam pelukan neneknya.
Bukan mendapat pelukan malah Alin mendapat jeweran di telinganya. "Anak nakal, Nenek sudah kangen kenapa gak pernah jenguk Nenek sama Ayahmu?" Setelah itu Nenek memeluk Alin hangat mencurahkan rasa rindu yang selama ini tertahan.
Meskipun kini status Alin adalah seorang istri tapi di mata Nenek Ida Alin tetaplah seorang cucu yang manja. Nenek Ida selalu merasa kesepian saat Alin tak ada di rumah walau terkadang kelakuan Alin sering membuatnya naik darah. Begitu juga Alin yang selalu rindu suara cempreng Nenek saat sedang mengomelinya.
Alin merangkul Nenek Ida dan mengambil alih sebuah paper bag di tangannya. "Ayo masuk Nek! kenapa Ayah gak sekalian ikut?"
"Ayahmu sedang sibuk merintis bisnis baru, makanya sesekali kamu datang ke rumah makan Ayah lihat perkembangannya. oh iya Nak Keenan dimana?" tanya Nenek Ida yang belum melihat sosok Keenan pagi itu.
Alin menuntun Nenek duduk di sofa "Baru bangun nek, masih mandi sepertinya, kok Nenek repot-repot bawain makanan segala sih," Alin membuka sebuah paper bag yang di pegang nya.
"Nenek kalau masak keingetan terus sama Alin, " ucap nenek Ida dengan tatapan sendu terlihat jelas kerinduan yang teramat dalam dari sorot matanya.
"Maafin Alin ya Nek," Alin mencium pipi wanita tua itu.
"Oh iya Lin, kamu tau gak?" intro khas ghibah mulai terdengar pasti neneknya akan mengajak bergosip.
"Apa?" jawab Alin sedikit malas karena biasanya jika Nenek sudah memulai intro percakapan yang tema nya tidak jauh dari anak tetangga.
"Itu bocah-bocah tiap hari datang ke rumah. Nenek udah kaya juru bicara kamu tiap hari di wawancara, " Nenek Ida terkekeh.
Alin ikut tertawa sekaligus antusias dengan obrolan Nenek kali ini. "Terus gimana Nek?"
"Sampe capek Nenek jawabnya. Yasudah Nenek bagikan tuh biji kelereng sama bocah mereka pada girang banget," ucap Nenek Ida keceplosan.
"Yah kok di bagiin sih Nek, itu kan punya Alin," Alin mengerucutkan bibirnya.
"Yah Nenek pikir kamu udah gak bakal mainan lagi. kan kamu udah ada biji kelereng yang baru," ucap Nenek Ida ambigu.
Spontan Alin mencubit paha Neneknya. "Nenek!" Alin melayangkan tatapan tajam.
Keenan memandang Alin dari kejauhan dia begitu cantik dengan senyum yang tak henti mengembang. Keenan tau Alin pasti sangat merindukan Nenek dan Ayahnya. Dan rasa bersalah pun muncul dalam hatinya, selama ini memang Keenan selalu mengajak Alin untuk berkunjung ke rumah Ayahnya namun Alin selalu menolak dengan Alasan tak ingin Ayah dan Neneknya tau kondisinya, karena se pandai apapun Alin menyembunyikan sesuatu sang Ayah pasti akan mengetahuinya.
***
Alin dan Keenan mengantar Nenek pulang ke rumah sebelum berangkat ke kampus. Tidak ada percakapan di antara mereka selama di perjalanan menuju kampus.
Keenan merasa heran Alin mendadak diam seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kok diem aja? masih kangen sama Nenek?" tanya Keenan membuka percakapan.
"Enggak kok," Alin tersenyum simpul. "Alin masuk dulu ya mas," Pamit Alin. Sebenarnya ada yang mengganjal di pikiran Alin setelah percakapannya dengan Nenek tadi.
Nenek bertanya perihal momongan kepada Alin. Sebelumnya Keenan dan Alin memang sudah berdiskusi dan sepakat menunda karena Alin ingin fokus kuliah dan ingin lulus terlebih dahulu. Apa dia egois?
Nenek berbicara dengan pelan dan lembut "Kamu juga harus pikirkan perasaan suami kamu, kamu mungkin masih muda masih banyak waktu. tapi bagaimana dengan suamimu? Bisa saja dia sebenarnya sangat ingin tapi menahannya hanya untuk menghargai keinginanmu, Nenek tidak memaksa tapi sebaiknya pikirkan perasaan suamimu, keluarganya juga," jelas nenek.
Tiba-tiba Della datang. "Bengong aja pagi-pagi kaya ayam abis nelen karet lu," ledek Della.
"Masa iya gue harus joget-joget, kaya cacing di kasih garem," jawab Alin sekena nya.
Della menggandeng tangan Alin "Males banget gue kuliah hari ini, bolos aja yuk," bisik Della.
Alin nampak berpikir. "Gue juga lagi gak mood sebenarnya,"
"Yaudah yuk," Della mengajak Alin untuk keluar gerbang.
"Woi! mau kemana kalian?" Teriak Reno yang baru saja tiba.
"Astaga! ngagetin aja, mau bolos kenapa mau ikut?" ketus Della.
Reno celingukan. "Gak ada Pak Somad kan? Trauma gue di suruh cabutin rumput selapangan bola,"
Alin memutar bola mata malas, "menurut lo?"
"Gue ikut, gue ikut," Rizal ikut nimbrung yang tak tahu dari mana datangnya.
"Hadeuh gue susah payah gue ikut tes pengen kuliah di tempat elite mau merubah circle pertemanan yang agak berkelas eh ketemu elu lagi, elu lagi," Omelin Della menunjuk Rizal, dan Reno.
"Halah tar lu kangen kalau jauh sama kita ya gak Zal?" Reno menepuk pundak Rizal.
"Najis lu, yaudah ayo berangkat! eh si Farrel ikut gak?" tanya Della karena merasa kekurangan satu personel.
"Pasti ikut aja dia apalagi ada Alin," Rizal tertawa.
Della melotot "Heh si Alin udah ada satpam nya ya,"
"Astaga becanda doang Dell," nyali Rizal menciut melihat Della seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
Sampailah mereka di sebuah tempat Karaoke di salah satu Mall. Sejak SMA memang mereka sering bolos dan pergi ke tempat bermain atau karaoke untuk menyalurkan hobby yang terpendam.
Sejenak Alin dapat melupakan kegundahan hatinya. Ia dengan bebas berteriak tanpa takut di sebut orang gila oleh orang lain.
Alin menyerahkan microphone kepada Della "Udah ah capek gue," Alin tampak ngos-ngosan kemudian duduk bersandar di sofa.
Farrel segera memberikan sebotol air mineral kepada Alin. Farrel akhir-akhir ini memang terlihat lebih pendiam berbeda dari biasanya.
"Gimana gak capek, Lu nyanyi satu jam nonstop," Della tertawa.
Alin melongo. "Masa sih?" Ia tak percaya dengan ucapan Della rasanya Alin hanya menyanyikan 2 lagu.
Reno mengambil mic dari tangan Della. "Tau nih gue gak di kasih kesempatan buat menyumbangkan suara emas,"
Dan Reno dan Rizal mulai berduet menyanyikan sebuah lagu.
Takkan siakan dia
Belum tentu ada yang seperti dia
Satu dunia tahu aku bahagia
Banyak pasang mata saksinya
Takkan duakan dia
Belum tentu esok 'kan masih ada
Kesempatan tak datang kedua kalinya
Hargai dan jaga hatinya
Dalam diamku
Kupanjatkan selalu doa untuknya
Jodoh bukan soal sempurna
Namun yang mampu tangguh 'tuk bertahan
Dan berjuang. (Govinda- Hal Hebat)
Alin nampak menikmati lagu yang di bawakan Reno walau dengan suara yang pas-pasan. Alin menghayati setiap kata dari lirik lagu tersebut.
Tak terasa sudah tengah hari dan perut mereka mulai keroncongan akhirnya mereka memutuskan makan siang terlebih dahulu sebelum merencanakan kegiatan apa yang akan di lakukan selanjutnya.
Satu persatu pramusaji datang membawa makanan pesanan mereka. Ke lima remaja itu nampak asyik makan sambil mengobrol hingga tak sengaja mata Alin melihat sosok yang tak asing baginya.
Alin pamit pergi ke toilet untuk menghindari teman-temannya, Segera ia mengambil ponsel dan menelpon Keenan. "Mas di mana?" Tanya Alin begitu panggilannya terhubung.
"Ini mau meeting sambil makan siang, Kenapa?"
"Oh lagi sibuk ya, Alin mau pulang udah enggak ada jadwal kuliah," Alin terpaksa berbohong.
"Maaf ya mas gak bisa jemput. pulang sama Mang Didi enggak apa-apa kan? mau mas telponin?"
Alin menahan sesak di dadanya "Emm.. Enggak usah nanti Alin telpon sendiri aja. yaudah Alin tutup ya," Dengan segera ia menutup panggilan tersebut.
"Apa selama ini dia masih berhubungan dengan mantannya? Lantas dia menganggap aku apa? Hanya sebagai pelarian atau pelampiasan saja?". Entah mengapa setiap kata dan tindakan yang Keenan lakukan untuk Alin selalu meluluhkan hatinya dan membuatnya yakin kalau Keenan memang mencintainya. Namun, pada kenyataannya? Entahlah hanya Keenan yang tahu.