
Mitos mengenai bayi ngeces jika ngidam tidak terpenuhi rupanya menjadi ketakutan tersendiri bagi para calon orang tua. Mungkin hal itu juga berlaku bagi Keenan kini. Sudah lebih tiga jam Keenan menyusuri jalan mencari buah rambutan. Dan seperti yang di katakan Bi Inah tujuannya terakhirnya yaitu kampung rambutan.
Keenan tiba di tempat yang di maksud. Dan di luar ekspetasi karena tempat yang di maksud kampung rambutan itu ternyata sebuah terminal bis bukan kampung ataupun kebun rambutan.
Keenan menepuk jidat merutuki kebodohannya sendiri. Baru kali ini ia bertindak tanpa berfikir dan mencari tahu terlebih dahulu. Kemudian ia teringat untuk menelpon Mama Vero.
"Ya Ken Kenapa?" tanya Mama Vero saat panggilan terhubung.
"Mama tau enggak yang jualan rambutan di mana? Alin pengen rambutan." Keenan tampak sudah putus asa.
"Di tukang buah biasanya Ken atau enggak cari di supermarket... Itu kamu di mana?" tanya Mama Vero kemudian.
"Di kampung rambutan Ma... " jawab Keenan lesu.
Mama Vero terbahak sejak kapan Keenan menjadi bodoh. " Astaga! Ya sudah cari sampai dapat jangan sampai cucu mama ngiler... Hati-hati di jalannya ya calon Ayah," ledek Mama Vero.
Bukan mendapatkan solusi Mama Vero malah menambah beban pikirannya. Kemudian dia teringat kedua sahabatnya Randy dan Sean. Keenan memberanikan diri untuk meminta bantuan mereka dan harus siap tebal telinga jika di ledek oleh kedua sahabatnya.
Sesekali Keenan mengabari Alin dan memintanya agar sedikit bersabar. Sebenarnya Alin juga kasihan pada suaminya dan minta Keenan untuk segera pulang walau tanpa membawa apa yang dia minta. Namun, Keenan tetap bersikukuh akan pulang membawa rambutan.
***
"Serius manjat sendiri?" tanya Keenan lemas menatap pohon rambutan yang lumayan tinggi. Saat ini dia sedang berada di rumah orang tua Randy sahabatnya. Beruntung Pohon rambutan itu berbuah sebelum waktunya.
"Enggak berani? beraninya manjat bocil doang sih lo," Ledek Randy.
Keenan menggulung lengan kemejanya sampai sikut "Kata siapa enggak berani?" Kemudian ia segera mengambil tangga yang berada tak jauh dari pohon.
Sedangkan Randy hanya jadi penonton dia penasaran sebesar apa usaha Keenan tak lupa ia juga mengabadikan momen langka tersebut. "Tuh di paling atas Bro! buahnya banyak," teriak Randy sambil meledek.
"Berisik! ayo bantuin,"
"Gak usah deh makasih.. Harusnya udah bersyukur gue kasih gratis,"
"Perhitungan banget lo," cibir Keenan.
***
Hari sudah hampir gelap Alin tampak mondar-mandir di depan pintu "Bi... Mas Keenan kok sudah sore belum pulang ya? Alin jadi khawatir," ucap Alin nampak gusar
"Belum nemu kali Neng," jawab Bi Inah.
"Tadi kan udah di bilangin kalau enggak nemu juga enggak apa-apa,"
"Kalau kata orang tua dulu kalau ngidam enggak kesampaian nanti anaknya ngeces,"
"Itu kan cuman mitos aja Bi," Kemudian Alin duduk di sofa karena sudah pegal sedari tadi berdiri menunggu suaminya.
Tak lama kemudian Keenan datang membawa beberapa ikat buah rambutan penampilannya terlihat lusuh bahkan sudah terlihat seperti pedagang asongan di terminal.
"Ya ampun mas... Kok bisa gini sih? " Alin tak kuat menahan tawanya. Begitupun dengan Bi Inah yang sudah tertawa terbahak-bahak.
"Ceritanya panjang.. Mas mau mandi dulu ya, di makan rambutannya," ucap Keenan segera naik ke lantai atas.
"Mas Keenan nyari di mana ya Bi?" Alin penasaran.
"Kayaknya sampai ke kampung rambutan Neng," Bi Inah menahan tawa.
Alin mengernyit "Jauh amat,"
Setelah memakan beberapa buah Alin pun menyusul Keenan ke kamar.
Keenan yang sedang memejamkan mata langsung terjaga. "Enggak kok," kemudian segera ia bangun.
"Mas nyari sampe kemana?" sebenarnya Alin merasa tak enak hati karena telah merepotkan.
Keenan seperti sudah bisa menebak isi hati Alin "Dekat kok dari rumah Randy, Sudah enggak usah di pikirkan. Selagi Mas bisa dan mampu apapun Mas bakal lakuin buat kamu. Jadi jangan sungkan minta apapun," Keenan tidak mau Alin merasa bersalah untuk hal yang sepele.
"Makasih ya Mas.. " ucap Alin sambil memeluk Keenan.
***
Tak seperti hari-hari sebelumnya pagi ini Keenan terpaksa harus pergi ke kantor karena ada urusan yang tidak bisa di wakilkan. Apalagi setelah pembatalan kerja sama dengan perusahaan Julia dia di pusingkan untuk mencari partner lain untuk membangun hotel baru. Namun, nampaknya perusaan milik orang tua Julia itu tidak hanya diam mereka bahkan menyebarkan beberapa rumor tak sedap tentang perusahaan Keenan.
"Mas pergi dulu ya sayang... Kalau ada apa-apa langsung telpon," pinta Keenan sebelum pergi.
Alin tersenyum "Iya Mas... Ini yang ke tujuh kali Mas bilang gitu,"
"Astaga Mas sampe gak sadar," Keenan pun ikut tertawa kemudian ia berjongkok mengelus perut Alin yang sedikit membuncit. "Sayang.. Papi berangkat dulu ya.. Baik-baik sama Mami di rumah, " ucapnya kemudian mencium perut istrinya itu.
"Mas juga hati-hati di jalannya,"
"Iya sayang," jawab Keenan sebelum benar-benar pergi tak lupa ia mendarat kan kecupan di kening dan bibir Alin.
Keenan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi karena keadaan jalan yang cukup lenggang. Namun, beberapa kali ia melihat ke kaca spion seperti sebuah mobil yang sedang mengikutinya sedari tadi. Keenan berhenti saat lampu merah menyala dia mencoba menepis pikiran negatifnya mungkin hanya kebetulan saja. Kemudian ia memutar balik dan mencari jalan alternatif menuju kantor dan benar saja mobil tersebut tak terlihat lagi.
***
Tak lama setelah Keenan berangkat Mama Vero datang ke rumah membawa beberapa barang dan makanan untuk Alin. Akhir-akhir ini Mama Vero memang sering mengunjungi Alin untuk sekedar bertanya kabar ataupun mengirim makanan. dan Alin tentu saja senang mendapatkan perhatian dari Mama Vero ia telah kehilangan kasih sayang seorang ibu sedari lahir dan kali ini ia baru bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dari Mertuanya.
"Mama... " Alin segera berlari memeluk Mama Vero saat memasuki rumah.
"Apa kabar sayang?" Mama Vero membalas pelukan Alin.
"Baik Ma.. " kemudian Alin menggandeng Mam Vero untuk duduk.
"Oh iya Mama lihat badan kamu sekarang udah agak berisi jadi Mama minta designer buatkan baju," Mama Vero mengeluarkan beberapa dress dari paper bag yang di bawanya. "Tapi Mama enggak tau sesuai selera kamu apa enggak," lanjut Mama Vero.
Mata Alin berbinar "Waah! bagus banget Ma.. Alin suka, Makasih ya Ma"
"Iya sama-sama sayang.. kalau butuh apa-apa bilang aja sama Mama ya,"
Tak sengaja Alin melihat Mama Vero memakai kalung pemberian darinya, kado ulang tahun waktu itu. Alin tak menyangka Mama Vero akan memakainya bahkan dulu Mama Vero begitu enggan menerima kado itu dari Alin. "Mama masih simpan kalung nya?" tanya Alin dengan mata yang sudah berkaca-kaca ia begitu terharu.
Mama Vero memegang kalungnya. "Oh ini... Iya Mama masih simpan. Makasih ya sayang kadonya. Maaf Mama baru sempat ucapkan terimakasih," Mama Vero sangat merasa bersalah melihat Alin yang begitu bahagia saat melihat ia memakai pemberian darinya.
"Iya sama-sama Ma.. Maaf kadonya tidak seberapa," ucap Alin tersenyum sebenarnya ia tidak percaya diri memberikan kado itu yang hanya kalung biasa dan juga harganya tidak seberapa jika di bandingkan dengan perhiasan yang sering di pakai oleh Mama Vero.
Mama Vero menggenggam tangan Alin untuk meyakinkan. "Mama suka banget kalungnya,"
-
-
-
jangan lupa like dan komen...
Terimakasih...