
Bu Ratna masuk ke dalam ruangan diikuti Indira yang berjalan di belakang nya.
"Maaf saya kira bapak sudah selesai makan siang," Ratna menunduk merasa tak enak karena telah mengganggu waktu atasan nya itu.
"Kalau begitu biar nanti saja pak.. Saya permisi," Ratna kembali keluar di ikuti oleh Indira.
"Maaf Bu, Bukannya yang di dalam tadi mahasiswa magang ya?" tanya Indira penasaran.
"Tidak usah ikut campur urusan pribadi orang lain. Di sini kamu untuk belajar," jawab Bu Ratna tegas.
Indira hanya mengangguk. "Maafkan saya bu," sebenarnya dia begitu penasaran dengan kehadiran Alin di sana, terlebih posisi mereka tak ada jarak.
Hari pertama berjalan cukup lancar, bahkan Alin merasa sangat bosan karena lebih banyak diam tak seperti anak magang lain yang selalu di suruh-suruh oleh karyawan. Siapa yang berani menyuruh istri CEOmereka akan berfikir ulang tentunya.
Jam kerja selesai kini Alin tengah bersiap untuk pulang. Ia masih menunggu Tasya yang masih membereskan mejanya.
"Yuk!" Tasya menggandeng tangan Alin menuju keluar ruangan dan teryata di luar sudah ada Nayla dan Indira yang telah menunggu Tasya karena mereka akan pergi ke suatu tempat untuk merayakan ulang tahun teman sekampus nya.
"Aku pulang duluan ya," Pamit Alin pada ketiga gadis itu. Alin nampak tergesa-gesa pergi sambil terus melihat layar ponselnya.
"Hati-hati di jalan," ucap Tasya dan Nayla bersamaan.
Alin berbalik kemudian melambaikan tangganya.
"Eh tadi aku lihat si Alin itu ada di ruangan pak Keenan," Indira mulai bergosip.
"Oh itu.. Tadi Pak Keenan memang meminta satu orang mahasiswa magang untuk beres-beres di ruangannya," jawab Tasya yakin dengan apa yang ia dengar setelah jam istirahat tadi.
"Tapi tadi aku lihat dia sedang menyuapi Pak Keenan. kok Aku jadi curiga ya?" Indira semakin penasaran.
"Kamu salah lihat kali," Kini Nayla berpendapat.
"Gak mungkin aku salah lihat," ucap Indira yakin.
"Emmm tapi... " Tasya seperti ragu untuk berbicara.
"Kenapa Sya?" Kini Nayla pun ikut penasaran.
"Enggak apa-apa.. Sebaiknya kita cepat nanti yang lain nunggu lama," Tasya tidak mau berburuk sangka terlebih dahulu. dirinya pun menyadari sikap karyawan yang terlihat beda pada Alin di banding dengan anak magang lainnya.
Alin berlari menuju parkiran karena ternyata Keenan sudah menunggunya di sana.
"Sudah lama ya Mas?" Tanya Alin ketika masuk ke dalam mobil. Nafasnya nampak ngos-ngosan akibat berlari.
Keenan mengambil tisu kemudian mengelap keringat yang bercucuran di kening Alin "Kenapa harus lari?"
"Aku takut Mas kelamaan nunggu, Nanti kita telat rumah sakitnya" ujar Alin sambil memasang seatbelt. "Ya sudah kita langsung berangkat aja mas," ajak Alin nampak tak sabaran.
Alin dan Keenan memang masih rutin berkonsultasi pada dokter mengenai program kehamilan. Kini mereka terlihat lebih lapang menerima apapun hasilnya namun walaupun begitu yang penting bagi mereka tak berhenti untuk terus berikhtiar.
"Kalian duluan aja. Aku angkat telpon dulu," Ujar Indira saat berjalan di lorong rumah sakit. Tasya, Indira, dan Nayla rupanya pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya rekan mereka yang mengalami kecelakaan tiga hari yang lalu.
"Kamu udah tahu kan ruangan sama nomor kamar nya? Tanya Nayla.
" Iya... Aku sudah tahu," jawab Indira tergesa kemudian segera menjawab telponnya.
Alin keluar dari ruangan dokter bergandengan dengan Keenan. Jika di lihat dari raut wajahnya sepertinya ia harus kecewa lagi kali ini.
Dan momen itu tak sengaja terlihat oleh Indira. Indira segera mematikan panggilan nya kemudian bersembunyi agar tak terlihat oleh Alin dan juga Keenan.
Setelah Alin dan Keenan tak terlihat di area tersebut Indira berjalan menuju ruangan yang baru saja di masuki oleh Alin.
Indira terkejut saat melihat papan nama di depan pintu tersebut.
"Bukannya ini dokter kandungan? Kok bisa mereka?" gumam Indira penuh dengan tanda tanya.
"Mas.. Mama nyuruh kita ke rumah, Katanya ada tante Monica" ujar Alin saat memasuki mobil.
"Hmmm kita langsung pulang saja ya," ujar Keenan seperti tak bersemangat.
"Memangnya kenapa Mas? tante Monica itu siapa?" tanya Alin beruntun.
"Tante Monica adiknya Mama,"
"Aku belum pernah ketemu ya?" Alin mengingat-ingat, sepertinya dia memang belum pernah ketemu.
"Dia tinggal di luar negeri dan jarang sekali pulang," jelas Keenan.
"Oh," jawab Alin singkat karena melihat Keenan seperti tak nyaman. "Kok Mas Keenan kaya badmood gitu, apa karena kecewa sama hasil yang tadi?" gumam Alin dalam hati.
Tak beselang lama Keenan mendapatkan panggilan masuk dari mama Vero. Mau tidak mau dia harus pergi kerumah orangtuanya dan menemui tante Monica serta keluarganya.
Alin dan Keenan berjalan bergandengan memasuki rumah Mama Vero yang tengah ramai malam itu.
"Ken, Alin sudah datang nak ayo gabung," Mama Vero menyambut kedatangan anak dan menantunya.
Di sana sudah terlihat Tante Monica, suami, beserta anak, menantu dan juga cucu-cucunya.
"Apa kabar Ken?" Tante Monica memeluk keponakan nya tersebut. Sudah lebih 5 tahun mereka tidak bertemu.
"Kabar baik tante," jawab Keenan datar.
"Ini istri kamu ya?" tanya tante Monica melirik Alin.
Alin tersenyum sambil mengangguk sopan.
"Maaf tante waktu itu tidak datang ke pernikahan kalian," Tante Monica memeluk Alin.
"Semua sudah kumpul lebih baik kita makan malam dulu.. Nanti di lanjut langit ngobrolnya," Ajak Vero.
Setelah selesai makan merekapun berbincang-bincang. Sementara Alin dan Keenan nampak Asyik bermain dengan cucu tante Monica.
"Kalian menikah duluan kok belum punya anak? Tuh Rio saja yang menikah belakangan sudah punya dua anak," ucap tante Monica tiba-tiba.
"Memang punya anak itu ajang perlombaan?" jawab Keenan sekena nya.
Alin mengelus tangan Keenan. Ia tahu suaminya itu terbawa emosi mendengar ucapan tantenya.
"Kamu masih meneruskan hotel papa mu Ken?" tanya Tante Monica lagi.
"Masih," jawab Keenan singkat.
"Rio di usia nya yang masih muda dia sudah berhasil membangun perusahaannya sendiri enggak cuman satu tapi dua sekaligus. Dari dulu Rio memang selalu unggul dalam hal apapun di bandingkan dengan Keenan," Ucap tante Monica bangga.
Semua orang terdiam dan suasana menjadi canggung.
"Setidaknya saya tidak mencuri perusahaan keluarga kemudian menjualnya demi obsesi ingin membangun perusahaan sendiri," ucap Keenan datar.
"Apa maksud kamu?!" tanya tante Monica dengan nada tinggi.
"Tante jangan pura-pura nggak tahu. Bukannya tante dalang dari semua itu. Padahal di situ juga ada hak mama sebagai ahli waris. Ayo sayang kita pulang," Keenan berdiri sambil menggandeng tangan Alin.
"Ken," panggil Mama Vero lirih.
"Maaf Keenan tidak memberi tahu Mama sejak awal. Ini semua atas permintaan papa. Keenan permisi," Ucapnya kemudian benar-benar pergi meninggalkan rumah itu.
Vero dan Monica adalah dua bersaudara, orangtua mereka mempunyai perusaan yang cukup besar pada masa nya namun sayang orangtua mereka meninggal karena sebuah kecelakaan. Setelah menikah Vero lebih memilih merintis usaha sendiri dan mempercayakan perusahaannya di kelola oleh adiknya. Selang satu tahun adiknya pun menikah dan suaminya ikut andil mengurus perusahaan. Hingga suatu hari perusahaan mereka terlilit hutang dan untuk membayar gaji karyawan terpaksa perusahaan itu harus di jual.
Namun ternyata itu hanya cerita karangan tante Monica saja karena sebenarnya perusahaan mereka baik-baik saja. Mereka menjual perusahaan itu untuk menghilangkan jejak dan mengambil keuntungan sebanyak-banyaknya serta tidak memberikan hak mama Vero sepeserpun.