
Keenan tengah sibuk dengan setumpuk berkas di hadapannya. Ia sengaja mempercepat pekerjaan karena berniat mengambil cuti dan berencana untuk mengajak Alin berbulan madu. Semenjak menikah memang mereka tidak pernah pergi ke mana-mana bahkan tak pernah terpikir untuk pergi bulan madu seperti pasangan lainnya.
Tok.. tok.. tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Keenan. Ia menoleh ke arah pintu ternyata Rissa datang membawa schedule dadakan siang itu.
Rissa melangkah dengan anggunnya bahkan hingga saat ini Rissa belum menyerah untuk mengambil hati boss nya tersebut. "Maaf mengganggu pak, Hari ini ada Meeting di Restoran XYZ. Harusnya ini jadwal Pak Wira tapi berhubung beliau ada hal lain jadi minta Bapak untuk mewakilinya," Rissa memberikan sebuah berkas ke hadapan Keenan.
Keenan langsung melihat ponsel yang sedari tadi ia simpan di laci meja kerja nya. benar saja ada 5 panggilan tak terjawab dan 3 pesan dari Papa nya. Keenan sengaja memakai mode senyap agar pekerjaannya tidak mengganggu.
Keenan segera menyimpan file yang sedang dikerjakannya kemudian mematikan komputer. "Baik saya berangkat sekarang, dan tolong rapihkan meja setelah meeting saya langsung pulang ke rumah," Keenan mengambil berkas yang di berikan Rissa kemudian memasukannya kedalam tas kerja dengan tergesa-gesa Keenan pergi keluar ruangan.
***
Keenan segera berlari menuju tempat yang sudah di tentukan Papanya. Karena meeting di lakukan sekaligus makan siang bersama. Kliennya saat ini memang teman lama papanya hingga mereka memutuskan untuk membahas pekerjaan lebih santai.
"Untung belum datang," Gumam Keenan melihat bangku yang telah di booking masih kosong. Keenan memesan secangkir kopi sambil menunggu Kliennya datang.
Lagi-lagi ponsel nya berdering sedari tadi papanya selalu menelpon memastikan Keenan tidak terlambat. "Ken sudah sampai 15 menit yang lalu Pa, "
Pak Wira kini bisa bernapas lega "Syukurlah, Oh iya Pak Bimo bilang masih terjebak macet jadi agak telat sampai nya,"
"Hem pokoknya Ken tunggu sampai jam 1 siang. kalau belum datang Ken pulang, " Keenan paling tidak suka orang yang tidak disiplin soal waktu sekalipun itu Klien penting.
"Iya Pak Bimo pasti tepat waktu kok," Pak Wira meyakinkan.
"Ken tutup dulu," Keenan mengakhiri panggilan sambil berdecak. "Ck tepat waktu apaan ini aja udah telat 20 menit,"
Tiba-tiba seorang wanita duduk di depannya. "Hai!", Sapa wanita tersebut ramah.
Keenan mendongak, karena sedari tadi ia fokus ke ponselnya untuk melihat rekomendasi tempat honeymoon yang romantis.
Mata Keenan membulat "Kamu?"
"Udah lama gak ketemu, kamu apa kabar?" Laura tersenyum manis.
"Seperti yang kamu lihat aku baik, bahkan jauh lebih dari saat masih sama kamu," Jawab Keenan tak ramah.
Laura tersenyum sambil menutup mulutnya. " Kamu gak berubah Ken, Kamu masih dendam sama aku?"
"Aku gak pernah dendam, aku malah berterima kasih sama kamu. Karena kamu pergi dari pernikahan itu kini aku bisa menemukan sosok wanita yang istimewa yang bisa menerima aku apa adanya dan tidak pernah menuntut hal sekecil apapun,"
"Aku turut senang Ken. Sebenarnya aku mau menemui kamu secara langsung tapi kebetulan kita ketemu di sini. Aku mau minta maaf atas kesalahanku di masa lalu. Aku sadar aku memang tidak tahu malu masih juga sempat-sempatnya minta kamu balik, Hubungan kita memang terlalu di paksakan dari awal. Aku juga ingin sepertimu menata hidup yang baru untuk itu aku enggak mau terus dihantui rasa bersalah sama kamu," jelas Laura.
Keenan melipat tangan di atas dadanya. "Aku sudah memaafkan mu, mulai sekarang hiduplah dengan baik,"
"Dan ini," Laura menyodorkan sebuah undangan.
Keenan hanya memandang Kartu undangan tersebut. Tiba-tiba ponselnya berdering dengan segera Keenan mengusap layar berwarna hijau.
"Mas di mana?" Tanya seseorang di sebrang telpon yang tak lain adalah Alin.
Keenan melirik jam tangannya "Ini mau meeting sambil makan siang, Kenapa?" Keenan sedikit khawatir karena Alin jarang sekali menelponnya terlebih dahulu Alin hanya menelpon jika benar-benar ada hal mendesak saja.
"Oh lagi sibuk ya, Alin mau pulang udah enggak ada jadwal kuliah,"
"Maaf ya mas gak bisa jemput. pulang sama Mang Didi enggak apa-apa kan? mau mas telponin?" Keenan sebenarnya sangat ingin menjemput Alin tapi sekilas dia membaca pesan Papanya dan bilang Pak Bimo sudah sampai di parkiran.
"Emm.. Enggak usah nanti Alin telpon sendiri aja. yaudah Alin tutup ya,"
Panggilan berakhir dan perasaan Keenan semakin kacau karena Alin begitu tergesa-gesa menutup panggilannya.
***
"Hai, Kamu Alin kan?" Tanya Seseorang menepuk pundak Alin. "Masih inget aku?" Laura tersenyum ramah.
"Yang bener aja? masa gak inget," Alin tersenyum kecut "Tante Laura,"
"Kebetulan banget ketemu di sini, tadi aku ketemu Keenan juga di atas,"
"Maksudnya apaan sih ini tante-tante?" Mereka memang tak sengaja bertemu di parkiran.
"Jangan salah faham dulu, ikut aku sebentar aku mau ngomong sesuatu" Laura menggandeng tangan Alin dan sedikit menjauh dari teman-temannya.
"Ini lagi pake pegang-pegang," Alin sedikit risih namun tetap menurut.
Kemudian Laura menjelaskan kronologi pertemuannya dengan Keenan barusan tak lupa dia juga meminta maaf dan juga berterima kasih kepada Alin.
"Kalau tidak keberatan datang ya," Laura melambaikan tangannya sebelum masuk kedalam mobil.
"Eh gue enggak jadi ikut ke rumah 'lu ya Dell, mau buru-buru pulang gue," Tiba-tiba Alin berubah pikiran.
"Iya enggak apa-apa Lin," jawab Della santai.
"Yang ngajakin siapa? yang batalin siapa?" Sindir Reno.
Alin menyerahkan beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribu di tangan Reno "Bawel lu, nih gue tambahin buat beli kwaci,"
"Bukan duit pesugihan kan Lin? takut jadi tumbal gue, " Celetuk Rizal karena sejak dahulu Alin memang terkenal pelit turunan dari Neneknya tapi semenjak kuliah dia berubah menjadi sangat royal dan itu membuatnya merinding.
"Setan aja pilih-pilih makanan, yakali mau makan orang kaya 'lu," jawab Alin tak kalah pedas.
"Mau gue anter?" Tawar Farrel sebenarnya dia penasaran tentang tempat tinggal Alin sekarang.
"Enggak usah, gue naik taksi aja. Bye!... " Alin pamit kepada temannya.
***
Setelah sampai rumah Alin segera mandi namun, ia sedikit bingung saat memilih baju yang akan di pakainya. Jika biasanya dia cuek dalam hal berpakaian akhir-akhir ini Alin menjadi sangat pemilih meski tidak pergi ke mana-mana dan hanya berdiam diri di dalam rumah.
Alin memutar badan ke kanan dan ke kiri dengan tangan memegang ujung dress di atas lutut yang ia pakai.
"Sejak kapan gue suka pake baju beginian?" Alin memang aksesoris rambut yang di pakaiannya.
Tanpa ia sadari ternyata sedari tadi Keenan sudah bersandar di pintu kamar yang setengah terbuka. Alin memang lupa untuk menutup pintu saking terburu-buru.
-
-
-
Hayo siapa yang udah suudzon sama tante Laura dan Om Keenan? Tante Laura di sini udah taubatan nasuha ya ceritanya. Jadi udah berkurang pelakornya. tinggal Julia dan Rissa aja nih. Do'ain mereka cepet taubat juga ya.. hehehe
Jangan lupa tinggalkan jejak kaki ya biar author lebih semangat lagi UP nya...
Alin malu-malu saat terciduk Om Keenan