My Little Bride

My Little Bride
Memulai hari baru



"Tak ku sangka rasa kecewa bisa mengalahkan besarnya rasa cinta. Semula aku pikir akan mudah menerimanya kembali tapi ternyata aku salah. kecewa tetaplah kecewa walau sebesar apapun rasa cinta yang ku miliki". Keenan


Hujan deras malam itu membuat Alin semakin gelisah. Sudah hampir tengah malam dirinya masih mondar-mandi di depan pintu rumah menunggu Keenan pulang. Sesekali dia mengecek ponsel untuk memastikan apakah Keenan akan menghubunginya. Bahkan beberapa kali Alin mengetik pesan untuk menanyakan keberadaan Keenan namun dia urungkan.


"Ngapain juga gue nungguin, Bodo amat gue gak peduli lagi," Alin kemudian memutuskan pergi ke kamar.


Alin memejamkan matanya meskipun sebenarnya tidak benar-benar mengantuk, dia nampak gusar berjuta pertanyaan hadir dalam benaknya. Di malam yang dingin di dertai hujan deras apalagi yang mereka lakukan kalau bukan sedang melepas rindu begitu pikirnya.


***


Saat perjalanan menuju rumah tiba-tiba ponsel Keenan berdering tanda panggilan masuk. Dan ternyata panggilan itu berasal dari sang papa, Keenan yakin kalau kedatangan Laura tadi sore sudah sampai ke telinga papanya. Terlebih lagi mereka berada dalam satu kantor.


"Iya ada apa Pa?" Jawab Keenan saat panggilan terhubung.


"Papa tunggu di rumah utama sekarang juga," suara Wira terdengar marah.


Belum sempat Keenan menjawab Wira sudah memutuskan panggilan terlebih dahulu.


Keenan nampak ragu memasuki rumah utama. Dirinya sudah tahu pasti sang Papa akan marah besar kepadanya.


"Ken, masuk sayang," Vero sudah menunggunya di depan rumah. Keenan hanya menuruti sang mama tanpa bicara sepatah katapun.


"Papa sudah nunggu di dalam, Apapun yang Papa katakan nanti jangan di ambil hati ya, kamu tahu kan watak papa kamu itu keras," Vero mengusap punggung Keenan ketika berada di depan pintu.


"Ken masuk dulu ya Ma," kemudian Keenan mengetuk pintu ruangan kerja Wira.


"Ada apa Papa panggil Ken?" Tanya Keenan ragu saat melihat wajah sang Papa yang sudah tidak bersahabat.


"Kamu masih berhubungan dengan wanita itu?" Tanya Wira dengan tatapan tajamnya.


"Laura maksud papa?"


"Siapa lagi kalau bukan dia."


"Tidak Pa, Ken bahkan sudah tidak pernah komunikasi dengannya"


"Lalu kenapa dia bisa datang ke kantor?"


"Pa, Laura hanya ingin menjelaskan penyebab kepergiannya, dan dia punya alasa yang kuat,"


"Masih berani kamu bela dia?"


"Pa, papa pikir Ken mudah menerima pernikahan ini? Menikah dengan seseorang yang bahkan ken tidak mengenalnya. Ken hanya tahu namanya tapi tidak dengan kehidupnya. Apa papa pikir mudah melupakan seseorang yang sudah menemani Ken selama lima tahun ini. Dari awal Ken sudah menolak tapi papa tetap dengan keputusan papa di sini siapa yang egois?" Ken meluapkan apa yang dia pendam selama ini.


"Ken papa melakukan itu semua untuk menyelamatkan harga diri keluarga kita."


"Papa hanya memikirkan harga diri sedangakan papa tidak pernah memikirkan perasaan anaknya, Maaf kalau Ken sudah bersikap tidak sopan sama Papa, Keenan permisi," Keenan hendak pergi meninggalkan ruangan.


Vero yang sedari tadi berada di luar menguping pembicaraan antara ayah dan anak tersebut


"Ken," panggil Vero ketika Keenan keluar.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Laura?" tanya Vero penasaran.


Keenan menghela napas dalam.


"Ayo ceritakan semua sama mama," mama Vero mengajak Keenan untuk berbicara.


Sampailah mereka di kamar Keenan. Keenan mulai menceritakan apa yang terjadi dengan Laura. Vero sangat kaget mendengar pernyataan Keenan.


"Apa separah itu kondisi Laura? Tapi kenapa dia tidak pernah cerita?"


Keenan mengangkat bahunya "Entah lah ma."


"Ken pulang dulu ya Ma," pamit Keenan.


"Ken ini sudah tengah malam, di tambah hujan deras di luar, tidur di sini saja ini juga rumahmu," bujuk Vero yang khawatir melihat keadaan putranya dia takut Keenan tidak fokus saat mengemudi.


"Ken takut Alin nungguin Ma,"


"Ken, Mama hanya takut kamu kenapa-kenapa. ini sudah larut malam di tambah hujan pula, tolong dengarkan ucapan Mama," Vero memohon membuat Keenan tidak tega.


"Baik Ma," Keenan menurut.


***


Pagi hari Alin terbangun dia bertekad untuk melupakan apa yang terjadi di hari kemarin dan memulai hari yang baru. Walau matanya masih terlihat sembab karena terlalu banyak menangis semalam.


"Bi, Mas Ken pulang jam berapa semalam?" tanya Alin penasaran.


"Den Keenan tidak pulang Non," jawab Bi Inah ragu.


"Oh gitu," ada sedikit rasa kecewa mendengar Keenan tidak pulang, tapi Alin mencoba menepis segala rasa kecewanya. "Supir Alin sudah mulai kerja kan bi hari ini?"


"Alin berngkat dulu ya bi,"


"Enggak sarapan dulu non?"


"Enggak bi, nanti aja di kampus," Alin pamit kemudian berangkat ke kampus.


Tak lama setelah Alin berangkat Keenan datang. "Bi Alin sudah berangkat se pagi ini?," tanya Keenan melihat satu mobil sudah tak ada di garasi tidak biasanya Alin berangkat pagi bahkan jam baru menujukkan pukul 06.15 pagi


"Iya den baru saja non Alin berangkat bersama mang Didi, bahkan non Alin tidak mau sarapan terlebih dahulu"


"Dia melewatkan sarapan?" tanya Keenan sedikit khawatir.


Bi Inah mengangguk. "Iya Den."


Sesampai di kampus Alin di sambut oleh Della dan trio pembuat onar.


"Tumben lo datang pagi-pagi," Tanya Reno heran karena biasanya mereka akan menunggu Alin lebih dari satu jam.


"Lecek amat muka lo pagi-pagi kaya baju belum di setrika," ledek Rizal yang melihat wajah Alin yang masih sedikit kacau. mata yang sedikit sembab dengan lingkaran mata yang agak hitam.


"Komen mulu kaya netizen," kesal Alin.


"Udah jangan dengerin mereka Lin, mereka emang rese," Della ikut komentar.


"Lo gak papa kan Lin?" tanya Farrel sedikit cemas.


"Dia mana pernah kenapa-kenapa sih Rel, dia kan cucu nya Wonder Woman," ledek Reno.


"Hahah... Bukan lagi, Wonder Woman ketemu Nenek Ida minder dia No," tambah Rizal.


"Kualat lo ngomongin orangtua, kalo ketemu langsung pasti pada diem udah kaya jangkrik keinjek," Ledek Della.


"Nenek, ngapain di sini?" tanya Alin tiba-tiba.


"Gak mempan Lin, itu tipuan lama," Reno terbahak.


Della mencubit lengan Reni dan mengkode supaya menengok ke belakang.


"Lo juga Del mau ikutan ngeprank kita ya?" jawab Rizal santai.


Tiba-tiba dari belakang ada yang menarik telinga Rizal dan Reno.


"Nenek," ucap mereka bersamaan.


Alin, Della, dan Farrel tak kuat menahan tawanya.


"Berani kalian bicarain nenek di belakang?" Nenek Ida menjewer telinga dua bocah semprul tersebut.


"Ampun Nek, kami hanya becanda, saya permisi dulu ada kelas pagi" pamit Reno takut kemudian berlari masuk kedalam.


"Saya juga mau ke toilet, udah kebelet," Rizal meyusul Reno.


"Nenek pagi-pagi kok kesini?" tanya Alin heran.


"Nenek ada acara kegiatan baksos di sekitaran sini, jadi sekalian mampir bawain makanan kesukaan Alin," nenek menyodorkan sebuah paper bag.


Alin bernafas lega dia kira neneknya tahu apa yang terjadi padanya, dia bahkan takut kalau sang Ayah tau kejadian kemarin di kantor dan menceritakannya pada sang nenek, apalagi nenek mempunyai riwayat penyakit jantung dan darah tinggi. Alin begitu terharu walau kini tidak tinggal serumah lagi tapi tiap hari nenek menanyakan kabarnya melalui telpon dan bahkan sekarang menyempatkan waktu hanya untuk memberikan makanan kesukaan Alin.


"Jaga diri baik-baik ya Alin, inget terus pesan nenek," nenek mencium kening Alin.


"Makasih ya nek, Alin sayang nenek," Alin memeluk sang nenek.


"Dan satu lagi yang harus Alin ingat," ucap sang nenek penuh penekanan.


"Apa lagi nek?" tanya Alin sedkit heran pesan yang mana lagi yang harus dia ingat.


"Jangan sampai Tumpahwarre nenek hilang," Nenek menujuk Tumpahwarre di dalam paper bag yang di pegang Alin.


"Astaga nenek," Alin tepuk jidat.


"Itu limited edition, Nenek susah dapatnya,"


Seketika Alin melemas....


Dukung terus karya aku yaa....


Jangan lupa like dan komen...


Harap maklum jika masih terdapat kesalahan dalam penulisan dan typo...