My Little Bride

My Little Bride
Rumor



Semenjak pembicaraan Devan waktu itu rumor berhembus semakin panas. Bahkan tak jarang Della selalu beradu mulut dengan orang yang bergosip tentang sahabatnya.


Tania berkali-kali meminta maaf pada Alin atas kecerobohan nya. Sedangkan Alin tampak lebih santai dengan segala pemberitaan tentangnya.


"Lin mending lo klarifikasi deh.. Sekarang semua orang lagi ngomongin lo," Della memberi saran.


Alin tertawa. "Gue harus klarifikasi di mana? di infotainment. lo pikir gue artis?" ucap Alin dengan santai nya.


"Ya di mana kek.. di mading, atau di radio kampus, bila perlu lo bikin banner lagi pegang buku nikah, atau enggak lo pasang billboard tuh di halte," kesal Della.


"Udah biarin aja Dell.. gosip begini nanti juga akan hilang dengan sendirinya. Nanti Lama-lama mereka juga bakal bosen."


Della menghela napas. "Serah lo deh."


Kini Devan pun ikut menghilang bagai di telan bumi semenjak kejadian hari itu ia tak terlihat lagi. Bahkan tidak pernah datang ke cafe Alin.


Alin sama sekali tidak mau ambil pusing dengan omongan orang lain. Saat ini dia hanya ingin fokus pada pendidikan dan juga usahanya.


"Lin.. Lo mau ikut seminar gak? Sekalian daftar bareng kalau mau" ajak Tania memberikan sebuah formulir pada Alin.


Alin hanya melirik sekilas. "Kapan waktunya?"


"Tiga hari lagi. Lumayan koleksi sertifikat buat formalitas doang," Tania tertawa.


"Gak bisa ikut deh kaya nya gue,"


"Lo pasti masih kepikiran sama omongan orang-orang itu ya? Maafin gue ya.. Lagian kenapa juga lo harus ngomong gitu. kan lo tau sendiri kalau gue ini telmi," Tania merasa bersalah.


"Bukan karena itu kok.. Lagian gue gak pernah dengerin omongan mereka toh itu semua gak bener. Gue lagi sibuk mau pindahan rumah," Alin memberikan alasannya agar Tania tak merasa bersalah lagi padanya.


"Syukur deh kalau begitu," Kini Tania bisa sedikit tenang.


***


Hari seminar pun tiba. Alin masih tetap dengan pendirian nya tak ingin ikut acara itu. Tiba-tiba Keenan mengabarinya jika tidak bisa menjemput karena ada sesuatu yang mendesak.


"Udah mending ikut aja Lin," ajak Tania.


"Gak deh.. Gue mau ke kantin aja lapar," Alin kemudian pergi ke kantin sendirian.


Lebih dari satu jam Alin berada di kantin. Ia tak bisa menelpon mang Didi karena ponselnya lowbat. "Mudah-mudahan masih bisa hidup" Alin mencoba menyalakan ponselnya dengan segera ia menelpon mang Didi tapi ternyata nomernya tidak aktif.


Banyak notif masuk ke ponsel Alin hingga membuat ponselnya kembali mati.


Mau tidak mau dia harus naik angkutan umum ataupun ojeg karena tidak bisa memesan kendaraan via online.


"Alin..!" Panggil Della berlari dengan napas yang tersengal.


"Loh Dell? Ada apa?"


"Gue udah keliling cari lo.. Lagian HP lo kenapa gak aktif?" kesal Della segera menghampiri Alin.


Alin mengangkat ponselnya. "Mati,"


"Innalillahi," jawab Della spontan.


"Ada apa sih Dell.. bukannya lo ikut seminar itu ya? Emang udah selesai?" Tanya Alin heran.


"Justru itu gue kesini.. Sebentar lagi mau selesai. ayo ikut gue," Della menarik tangan Alin.


"Eh.. Gue gak daftar gak bisa masuk," Tolak Alin melepaskan tangannya.


"Aduh bawel banget ikut aja," Della memaksa.


Akhirnya Alin pun mengikuti Della.


"Gue gak tertarik ikut seminar begituan. Gue udah punya mentor pribadi," Alin mengomel di sepanjang perjalanan.


"Iya gue tahu lo gak usah ikut seminar begituan. Karena lo udah jadi pengusaha sukses" Ledek Della.


"Ya itu lo udah tahu," Sombong Alin.


Benar saja seminar hampir berakhir dan hanya tinggal sesi tanya jawab.


Alin seperti tidak asing lagi dengan suara itu. Dan benar saja ternyata itu suara Keenan. Dia menjadi salah satu narasumber dari seminar hari ini.


"Loh kok ada Mas Keenan Dell?" tanya Alin heran.


"Lo aja istrinya gak tau, apalagi gue," Jawab Della sewot.


Dari kejauhan Keenan tersenyum ke arah Alin. Bahkan dia bisa mengenali Alin meski dari jarak yang jauh dan juga di tengah kerumunan banyaknya orang.


Tiba-tiba seorang mahasiswi unjuk tangan sepertinya dia ingin menanyakan sesuatu pada Keenan.


Dengan ramah Keenan mempersilahkan mahasiswi itu untuk bertanya.


"Bapak masih lajang apa sudah menikah?" Tanya mahasiswi itu malu-malu.


Sontak saja pertanyaan nya itu si sambut jeritan histeris oleh para mahasiswi sedangkan para mahasiswa menyoraki nya.


"Mohon tenang semua," Keenan meredam suasana yang cukup riuh sore itu.


Seketika suara riuh itu berubah menjadi lebih tenang.


"Sepertinya itu pertanyaan terlalu pribadi, Tapi baiklah saya akan jawab," Keenan memberi jeda.


"Saya sudah menikah," ucapnya kemudian sambil tersenyum.


"Yaaahhhh," Suara serempak para mahasiswi kecewa dengan pernyataan Keenan.


"Dan kebetulan istri saya juga kuliah di sini semester satu jurusan business management," Keenan tersenyum menunjuk ke arah Alin. Sepertinya ia memang sengaja berbicara demikian agar tak ada lagi yang mengganggu Alin di kampus.


Seketika semua mata tertuju pada Alin. Sedangkan Alin hanya tersenyum canggung dan menjadi salah tingkah.


"Mas kok gak bilang kalau ngisi seminar di kampus?" tanya Alin saat perjalanan pulang.


"Mas cuman gantikan papa, harusnya papa yang ngisi seminar tapi papa masuk rumah sakit jadi gak bisa datang, Mas juga gak tahu kalau ternyata acaranya di kampus kamu. Tadi sudah coba telpon sama kirim pesan sepertinya ponsel kamu mati" jelas Keenan.


"Ponselku lowbat, Papa sakit apa Mas?" tanya Alin khawatir.


"Diare, sepertinya papa salah makan,"


"Ya ampun kok bisa," Alin geleng-geleng kepala. "Emmm tapi terimakasih ya mas... "


"Terimakasih untuk?"


"Mas udah ngakuin aku sebagai istri mas," jawab Alin polos.


Sontak Keenan tertawa. "Memang sejak kapan Mas gak ngakuin kamu sebagai istri mas?" Tanya Keenan gemas.


"Bukan itu maksud aku.. Tapi ada rumor yang bilang katanya aku ini simpanan om-om," Ucap Alin sebal.


"Siapa yang bilang seperti itu? Harusnya mereka bikin rumor kalau seorang Sabrina Naufallyn Nugraha simpanan pengusaha sukses," Kini Keenan malah meledek Alin. "Memangnya Mas setua itu ya?" Kini Keenan yang tak terima di samakan dengan om-om.


"Dih gak inget umur," kini Alin balik meledek Keenan.


"Tapi dengan begitu gak akan ada lagi yang godain kamu sampai kasih hadiah setiap hari," Sindir Keenan.


"Makanya Mas dong yang kasih hadiah aku tiap hari," celetuk Alin.


"Memangnya mau?"


"Mau," jawab Alin cepat dengan mata yang berbinar.


"Semua uang Mas kan kamu yang pegang tinggal beli sendiri lah,"


"Gak usah ngomong," tiba-tiba raut wajah Alin menjadi sebal.


Keenan hanya tertawa melihat wajah Alin yang cemberut. Keenan lebih suka Alin yang seperti ini, yang selalu ceria, cerewet dan manja padanya.


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya...


Ini gambaran Mas Keenan lagi ngasih materi seminar. Ganteng banget kan suami orang?... hehehe