My Little Bride

My Little Bride
Menggoda



Alin tiba-tiba terdiam saat menyadari Keenan sedang memperhatikannya. "Mas udah lama di situ?" tanya Alin tertunduk malu sambil memilin ujung dress yang dikenakan nya.


"Belum kok, baru saja sampai," Keenan berbohong padahal sejak tadi ia melihat Alin yang kebingungan memilih pakaian.


Alin berjalan mendekati Keenan "Tumben pulang cepat?" Kemudian mengambil alih tas kerja yang masih di pegang suaminya.


Keenan menarik Alin dalam pelukannya. "Iya mas kangen sama istri yang cantik ini," Tak lupa ia mendaratkan kecupan di puncak kepala Alin.


"Gombal," Alin melepaskan diri dari dekapan Keenan kemudian berjalan meletakan tas kerja yang masih ia pegang.


Seketika ia teringat dengan ucapan Laura siang tadi.


"Sebelumnya aku minta maaf karena secara tidak sengaja melibatkan kamu dalam hal ini. Aku yakin kamu pasti banyak mengalami kesulitan menghadapi Keenan kan? Bohong rasanya jika aku bilang aku sudah tidak mencintai Keenan. Bagaimanapun kami sudah menjalin hubungan selama 5 tahun. tapi aku sadar kini sudah tak berhak lagi mencintai seseorang yang sudah menikah.


Terimakasih kamu sudah menyembuhkan luka di hati Keenan, dia orang yang tidak mudah jatuh cinta dan tak bisa mentolerir apapun yang membuatnya kecewa. Tapi padamu Keenan bisa secepat itu jatuh cinta bahkan aku bisa melihat hanya dari tatapan matanya saat kalian berbicara lewat telpon. Untuk itu jangan pernah kamu kecewakan dia" jelas Laura panjang lebar.


Keenan menatap mata Alin kemudian membelai lembut pipinya "Lagi mikirin apa? dari pagi Mas perhatikan kok banyak bengong? ".


"Masa sih? Enggak kok," Alin selalu salah tingkah setiap saat Keenan menatap matanya dari jarak yang sangat dekat. "Ya sudah mandi dulu sana, Alin siapin bajunya, " Alin mendorong Keenan ke arah kamar mandi.


***


Sore itu Alin sibuk di dapur belajar masak bersama Bi Inah.


"Bi Inah, Mas Keenan makanan kesukaan nya apa sih?" Tanya Alin penasaran.


"Kenapa Neng gak tanya sama orangnya langsung aja?" Bi Inah malah balik bertanya.


Alin sadar selama ini dia memang tidak peka. Bahkan ia tidak tahu apa kesukaan suaminya, apa yang tidak di suka dan masih banyak hal lain yang Alin tidak tahu soal Keenan.


"Alin pengen tanya tapi malu Bi, semenjak ada kata 'Kepo' Alin jadi sungkan mau tanya-tanya," Jawab Alin datar dengan tangannya yang sibuk mengupas bawang.


"Sama Neng, semenjak ada kata 'Baper' Bi Inah jadi gak bisa tersinggung kalau di omongin orang,"


"Kita protes aja yuk Bi, sama pencetus kata baper sama kepo. sumpah mereka nyusahin orang se Indonesia,"


Alin dan Bi Inah memang nampak akrab bahkan Alin sudah menganggap bi Inah seperti keluarganya sendiri biarpun Bi Inah sudah tidak muda lagi tapi wanita itu selalu asyik di ajak ngobrol dan bercanda dengan bahasa yang kekinian ala anak muda jaman sekarang.


"Oh iya Bi Tuti pulang kampung kok gak balik sini lagi ya?" Alin menanyakan ART nya yang sudah lebih dua minggu tidak kembali.


"Bilangnya mau berhenti Neng, dia enggak bisa tidur kalau malam katanya takut,"


"Takut apa?" tanya Alin penasaran.


Bi Inah berbisik "Katanya takut hantu,"


"Bibi jangan nakutin deh," kesal Alin.


"Tapi kata temen bibi yang indihome di rumah ini ada penunggunya Neng,"


"Hah? indihome?"


"Itu loh yang bisa lihat hantu namanya indihome kan ya?"


"Astaga... bukan Bi, itu namanya Indomie," jawab Alin sekenanya.


"Ih si Neng," Bi Inah gemas.


"Oh iya Bi, mama Vero orangnya gimana sih?" tanya Alin memperhatikan sekitar takut Keenan tiba-tiba datang.


"Nyonya orangnya baik kok, walau terkadang cerewet. tapi dia gak pelit," jawab Bi Inah apa adanya.


"Dulu Mama Vero itu baik banget sama Alin, tapi sekarang kok... " ucapnya menggantung.


Bi Inah terkekeh "Makanya Neng Alin cepat kasih cucu biar jadi baik lagi,"


"Mau kemana Neng? ini masaknya belum selesai?" tanya Bi Inah takut Alin tersungging dengan ucapannya barusan.


"Mau bikin cucu buat Mama Vero," Jawab Alin setengah berteriak karena sudah berada jauh dari bi Inah.


"Jangan berisik ya Neng, kasihan Bibi yang LDR" Bi Inah meledek.


***


Alin segera berlari ke kamar karena teringat tugas yang belum sempat ia kerjakan padahal tugas itu sudah di berikan Dosen seminggu yang lalu. Namun, tak sengaja dia melihat pintu ruangan gym Keenan terbuka. Keenan memang sengaja membuat ruangan gym mini di sebelah kamarnya untuk berolahraga jika ada waktu luang di tengah sibuknya pekerjaan.


Alin susah payah menelan ludah saat melihat tubuh atletis Keenan yang terlihat seksi diguyur keringat meski terbalut pakaian walaupun sebenarnya bukan pertama kali Alin melihat tubuh suaminya tersebut.


Alin membuang pikiran nakalnya "Tugas.. tugas.. masa gagal lagi kerjain tugas, tapi sayang juga ada pemandangan kaya gini gak di nikmati. Ah enggak tugas udah dead line. " ia berniat meninggalkan ruangan tersebut.


"Gak usah ngintip gitu masuk aja kalau mau lihat," ucap Keenan dengan tangan yang masih memegang barbel.


Akhir-akhir ini Keenan sudah seperti peramal yang selalu saja bisa menebak isi kepala Alin. "Enggak kok.. siapa yang ngintip Alin cuman kebetulan lewat," jawab Alin gugup.


"Kebetulan lewat tapi sampai lupa berkedip," Keenan mendekati Alin.


"Siapa bilang? ini berkedip kok," Alin mengedipkan matanya beberapa kali namun terlihat seperti sedang menggoda.


"Sudah bisa menggoda ya sekarang?" Keenan menyimpan barbel kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Alin.


Alin menjadi serba salah padahal dia tidak berniat menggoda justru dia yang tergoda oleh pesona Keenan. "Enggak.. bukan gitu...," Belum sempat menyelesaikan perkataannya terlebih dahulu Keenan mendaratkan bibirnya di bibir Alin.


Dan akhirnya sore itu Alin gagal lagi mengerjakan tugasnya.


***


"Mau kemana mas? Tanya Alin menyipitkan matanya melihat Keenan yang sudah rapih padahal sudah tengah malam.


"Baru aja mas mau bangunin kamu. Mau ke rumah sakit, mama masuk rumah sakit,"


Alin segera bangun "Alin ikut mas,"


Keenan membelai lembut rambut Alin "Besok aja ya, ini sudah malam kamu pasti capek,"


"Alin antar ke depan ya?"


Keenan merebahkan tubuh Alin kemudian menyelimuti nya. "Lanjutin aja tidurnya biar Bi Inah yang kunci pintu,"


"Yasudah hati-hati di jalannya. Kabarin kalau sudah sampai," Entah kenapa Alin seperti tidak rela di tinggalkan oleh Keenan.


"Iya sayang, mas pergi dulu," Tak lupa Keenan mencium kening Alin sebelum pergi.


Hanya butuh waktu 20 menit bagi Keenan untuk sampai di rumah sakit karena jalanan tampak lenggang dia bisa dengan leluasa memacu kecepatan tinggi. Keenan segera berlari ke ruang IGD seperti yang seseorang bilang di telpon tadi.


"Julia, kok kamu di sini," tanya Keenan heran kenapa bisa kebetulan sekali pikirnya.


"Aku yang bawa Tante Vero ke sini, tadi aku yang telpon Kak Ken, Tante Vero masih dalam penanganan Dokter," jelas Julia.


Papa Wira memang sedang ada tugas di luar kota. mungkin belum pulang tapi yang membuat Keenan kecewa kenapa Mama Vero lebih memilih menghubungi Julia terlebih dahulu di bandingkan dirinya yang sejatinya adalah putra kandungnya.


_


_


_


Bonus pict Om Keenan lagi ngegym. jangankan Alin author pun ikut terKeenan-Keenan.. Eeaa...