My Little Bride

My Little Bride
Karma



Julia menyadari keberadaan Yuna dan seorang pria di bandara yang sedang berjalan ke arahnya kemudiam segera ia lari menjauh.


Tak ingin kehilangan jejak, Yuna dan Randy segera mengejar Julia.


Randy berhasil mengimbangi langkah Julia "Mau pergi kemana lo?" ucap Randy sambil mencengkram erat lengan Julia.


Julia memasang wajah angkuh seolah ia tak punya rasa bersalah. "Lepas! Aku nggak ada urusan sama kamu..," Julia mencoba berontak melepaskan cengkraman Randy.


"Urusan lo sama polisi sekarang!" Randy menyeret Julia ke arah pintu keluar.


"Jangan mimpi," Julia mengambil sesuatu dari saku celananya.


Srot...


Julian menyemprotkan suatu cairan tepat di wajah Randy.


Seketika mata Randy terasa panas dan perih. "Sial! Mata gue," Randy memegang kedua matanya yang terasa panas dan perih. Entah cairan apa yang di semprotkan Julia.


Setelah melihat Randy yang kesakitan Julia menyeringai kemudian segera pergi.


"Jangan lari!" Yuna berhasil meraih baju yang di kenakan Julia.


Julia menoleh kemudian hendak menyemprotkan cairan yang tadi, tapi Yuna berhasil menangkisnya hingga benda itu terjatuh.


"Udahlah kamu nyerah aja.." Kini Yuna mencengkram satu tangan Julia.


Julia tersenyum sinis "Nyerah? lebih baik aku mati dari pada membusuk di penjara," Kini satu tangan Julia yang lain menarik rambut Yuna dan menyeret nya ke arah eskalator.


"Dasar wanita gila!" umpat Yuna yang kesakitan karena rambutnya di jambak.


"Mari kita mati bersama," Julia menyeringai kemudian menarik Yuna dan hendak menjatuhkan diri ke lantai bawah.


Beruntung dengan sigap Randy berhasil menarik tubuh Yuna. namun Julia melepaskan pegangan nya pada Yuna hingga dia terjungkal dan jatuh tergelincir dan berguling di atas eskalator.


krak...


Semua orang menjerit melihat seorang wanita yang jatuh terguling di atas eskalator dan nahasnya kakinya terjepit bagian bawah eskalator.


Dengan sigap seorang petugas menghentikan laju eskalator.


Randy menangkup kedua pipi Yuna terlihat jelas gadis itu masih gemetar. "Lo nggak apa-apa Cil?" Randy nampak khawatir pada gadis itu padahal kondisi matanya sendiri masih terasa perih.


Yuna hanya mengangguk entah bagaimana nasibnya jika Randy telat datang. Karena orang-orang di sekitar terlihat begitu sibuk dengan urusan masing-masing atau memang mereka tak menyadari.


****


Saat ini Keenan sedang membujuk Alin agar mau makan. Semenjak tadi pagi wanita itu selalu menolak makan. Para keluarga dan sahabat bergantian membujuk Alin namun tetap Alin tak mau.


Tiba-tiba ponsel Keenan berdering ia melihat nama Randy tertera di layar. Dengan segera Keenan meminta ijin pada Alin untuk menjawab panggilan dan keluar dari ruangan agar Alin tak mendengar percakapan mereka.


"Gimana?" Tanya Keenan seolah tak sabar mendengar jawaban dari Randy.


"Lo tenang aja. Pelakunya sudah tertangkap tapi sekarang dia sedang dirawat di rumah sakit." jawab Randy di seberang sana.


"Kerja bagus! Tapi siapa pelakunya? Keenan terlihat emosi saat menenangkan identitas pelaku.


" Julia.. Dia pelakunya, dan masih banyak lagi kejahatan lain yang dia lakukan. Hubungi pengacara minta dia dampingi gue sekarang!" pinta Randy.


Keenan tercengang ketika mendengar nama Julia di sebut. Ia tak menyangka Julia akan bertindak sekeji itu.


"Pokoknya lo usut semuanya, beri dia hukuman seberat mungkin" ujar Keenan bersungut-sungut sebelum akhirnya menutup panggilan..


"Gimana Ken? pelakunya sudah tertangkap?" tanya mama Vero tak kalah penasaran saat mendengar percakapn Randy dan Keenan barusan.


Keenan mengangguk.


"Syukurlah... " Mama Vero sedikit bernafas lega. "Siapa orangnya Keen? tanya mama Vero kemudian.


" Julia," jawab Keenan sambil memasukan kembali ponselnya kedalam saku.


Seketika dada Mama Vero menjadi sesak dan tubuhnya menjadi lemas.


"Mama... " Keenan segera menahan tubuh Mama Vero agar tidak ambruk.


"Ini semua salah mama Ken," Mama Vero menangis histeris dan kini semua perhatian tertuju padanya.


"Ma... Tenang dulu," Keenan memapah mama Vero untuk duduk di bangku tunggu.


"Ada apa Ken? " Papa Wira yang baru datang heran melihat Mama Vero yang tiba-tiba menangis.


"Pa... Ini semua salah Mama. Mama yang buat Alin dan cucu kita celaka," Mama Vero terisak sambil memukul-mukul dadanya sendiri.


Papa Wira menatap Keenan seolah meminta jawaban.


Tangan Papa Wira mengepal erat dan emosinya meledak-ledak setelah mengetahui siapa pelakunya.


***


"Kalian gak bisa kerja ya?" Maki Julia pada perawat yang sedang bertugas memeriksanya. Dia melempar obat-obatan yang di bawa perawat sampai berceceran di lantai.


Perawat hanya diam dan memahami mungkin pasiennya terlalu kaget pada kondisinya saat ini.


"Aku gak butuh obat-obatan... Aku cuman mau kaki ku kembali," teriak Julia. Julia tak mau menerima kenyataan melihat kondisi dirinya sendiri. satu Kakinya harus di amputasi karena kerusakan tulang yang parah dan tak bisa di selamatkan lagi. dan amputasi adalah Satu-satunya tindakan yang bisa dokter ambil.


Belum selesai dengan permasalahan kakinya Julia juga di hadapkan dengan proses hukum yang kini sedang menantinya. Julia harus mempertanggung jawabkan semua tindakan kejahatannya.


Terlihat beberapa orang polisi tengah berjaga di luar ruangan di mana tempat Julia di rawat.


***


Keenan mengelus pipi Alin yang sedang tertidur. Rasa bersalah itu selalu muncul saat Keenan menatap wajah Alin.


Seandainya saja dia tak meninggalkan Alin waktu itu. Dan seandainya saja dia tak pernah berbuat baik pada Julia mungkin ini semua tak akan terjadi pada Alin dan juga anak mereka. "Ini semua salah Mas.. " gumam Keenan lirih dia selalu mengalahkan dirinya sendiri karena tak bisa menjaga istrinya dengan baik.


"Mas.. " panggil Alin dengan suara yang parau.


"Maaf Mas nganggu tidurmu ya?" Keenan segera mengusap air matanya setelah menyadari Alin terbangun.


Alin mengangkat tangan mengusap air mata Keenan yang masih tertinggal di sudut matanya.


"Kalau Mas mau nangis.. Nangis aja," Alin merentangkan tangannya. Alin tau Keenan hanya berpura-pura tegar dan kuat namun sebenarnya suaminya itupun sama rapuh seperti dirinya.


Keenan segera memeluk Alin dan menumpahkan air matanya di sana. Alin mengelus lembut rambut Keenna memberikan rasa nyaman.


***


Yuna saat ini sedang meneteskan obat tetes mata pada Randy. Mata Randy masih terlihat merah dan sedikit bengkak karena cairan tadi.


"Bapak masih bisa lihat kan?" pertanyaan konyol Yuna terlontar begitu saja.


"Ck.. Kalau gue nggak bisa lihat nggak mungkin gue bisa nyetir sampe sini," Randy berdecak kesal mendengar pertanyaan Yuna.


"Bagus kalau gitu.. Aku mau pulang dulu," ujar Yuna memberikan tetes mata tersebut di tangan Randy kemudian hendak berdiri.


Dengan cepat Randy menahan tangan Yuna dan membuat mata mereka salim menatap.


"Gue anter," Kemudian Randy berdiri mendahului Yuna.


"Aku bisa pulang sendiri. Lagian Bapak masih harus menyelesaikan urusan dengan Julia," Tolak Yuna halus tak ingin merepotkan Randy.


"Bawel.. Ayo cepat sudah malam," Randy menggandeng tanga Yuna.


Sementara Yuna hanya menurut.


Saat tiba di parkiran Randy yang baru menyadari sedari tadi ia menggandeng tangan Yuna pun segera melepaskannya.


Sampailah mereka di halaman rumah Yuna. "Terimakasih untuk hari ini," Ucap Randy tulus. Dan mungkin kalau tanpa bantuan Yuna belum tentu dia bisa menangkap Julia secepat ini.


Yuna hanya mengangguk dan hendak membuka pintu mobil.


"Gue janji bakalan bantu bebasin Bokap lo," ucap Randy kemudian.


Yuna segera menoleh ke arah Randy. "Serius Pak?" tanya Yuna dengan mata yang berbinar seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Iya tapi lo jangan manggil gue Bapak.." ucap Randy dengan ketusnya.


"Kemarin di panggil Om gak mau, di panggil Bapak masih protes juga. Pak Keenan saja nggak keberatan aku panggil Bapak," ucap Yuna tak kalah ketus.


"Keenan kan emang udah jadi Bapak. Gue belum,"


"Terus aku panggil apa? kakak?" Kesal Yuna.


"Jangan kaka, lo mirip SPG yang di Mall.. Boleh lihat-lihat dulu kakak," Randy memeperagakan para SPG yang sedang menawarkan barang.


"Ck... " Yuna berdecak kesal. "Yaudah aku pikirin besok aja mau manggil apa.. Aku masuk dulu, adik dan ibuku pasti sudah menunggu," ucap Yuna dan kali ini Yuna benar-benar turun dari mobil Randy.


-


-


-


Jangan lupa like dan komen...