
Beberapa hari ini Keenan di sibukkan dengan pekerjaan dan juga mengurus Mama Vero yang masih di rawat di rumah sakit. Dokter mendiagnosis Mama Vero mengidap penyakit aterosklerosis. Aterosklerosis adalah pengerasan arteri. Arteri seringkali mengeras karena adanya endapan wabah, racun dan lemak. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah dan stroke jantung.
Sebagai anak tunggal Keenan bertanggung jawab penuh dalam mengurus Mama Vero. Sehingga akhir-akhir ini Keenan jarang pulang ke rumah jika pulang pun itu hanya untuk mandi dan berganti pakaian. Saking sibuknya bahkan Keenan tak sempat mengurus dirinya sendiri terlihat dari rambutnya yang mulai panjang serta pipi yang tirus dan mulai di tumbuh bulu-bulu halus.
Dan Julia? Wanita itu tentu saja semakin akrab dengan Mama Vero. Julia rajin mengunjungi dan menjaga Mama Vero saat Keenan dan Papa Wira ada urusan penting di kantor.
Alin memeluk Keenan melepas rindu karena beberapa hari ini ia hanya bisa bertemu beberapa jam saja dengan suaminya. "Nginap di rumah sakit lagi mas?"
"Mudah-mudahan hari ini Mama sudah bisa pulang. Maafin Mas ya? akhir-akhir ini gak ada waktu buat kamu," Keenan mencium puncak kepala Alin, sama seperti Alin Keenan pun rindu sebenarnya sangat rindu.
Alin melepaskan pelukannya kemudian mendongakkan kepalanya memandang Keenan serta tangannya membelai lembut pipi Keenan. "Alin rindu Mas," ucapnya dengan tatapan sendu.
Keenan semakin merasa bersalah karena telah mengabaikan Alin akhir-akhir ini. Padahal Alin selalu perhatian padanya mulai dari hal kecil sekalipun. "Mas juga rindu," Keenan mengecup lembut bibir Alin.
"Apa Alin boleh nginap di rumah Ayah?" Alin meminta ijin.
"Iya boleh sayang, Nanti sekalian Mas antar ya,"
"Makasih Mas," Bukan Alin tak ingin ikut ke rumah sakit. Tiap kali Alin menjenguk Mama Vero selalu acuh dan seperti tak mau menerima kedatangannya, Alin justru takut hal itu akan menggangu kesehatan Mama Vero. Beberapa kali Keenan dan Papa Wira juga membujuk Mama Vero namun mereka juga tidak bisa memaksa apalagi melihat Kondisi Mama Vero saat ini.
***
Nenek Ida menyambut hangat kedatangan Alin. Nenek sudah tahu kondisi Mama Vero dari Pak Adi. meski Pak Adi sudah tidak bekerja lagi dengan Pak Wira namun, mereka masih menjalin hubungan baik sebagai teman dan juga besan tentunya. Pak Adi juga sudah menjenguk Mama Vero di rumah sakit.
"Keenan titip Alin ya Nek, maaf merepotkan Nenek sama Ayah,"
"Enggak kok Nak, Nenek malah senang Alin nginap di sini. Biar Nak Keenan fokus dulu saja sama kesembuhan Bu Vero,"
Keenan mencium punggung tangan Nenek Ida "Keenan pamit ya Nek,"
"Hati-hati di jalan, sampaikan salam Nenek buat kedua orang tua Nak Keenan," Nenek mengelus bahu Keenan.
"Iya Nek nanti Keenan sampaikan" Kemudian Keenan beralih pada Alin. "Mas pergi dulu ya sayang,"
"Iya Mas, kabarin kalau sudah sampai," Alin meraih tangan Keenan kemudian menciumnya. Alin terus memperhatikan Keenan sampai benar-benar mobilnya tidak terlihat lagi.
"Suamimu cuman pergi ke rumah sakit bukan pergi perang," Ledek Nenek yang sedari tadi melihat wajah Alin cemberut.
"Alin yang lagi perang Nek, perang melawan pelakor".
"Nenek kaya gak pernah muda aja," Sergah Alin.
Nenek Ida mengelus rambut Alin sambil memberi petuah. "Kamu harus mengerti Keadaan Keenan sekarang. Anak laki-laki itu tetap milik ibunya meski dia sudah menikah, berbeda dengan anak perempuan. Anak perempuan menjadi milik suaminya jika sudah menikah,"
"Iya Nek," Jawab Alin singkat. Seandainya Nenek tahu keadaan yang sebenarnya kurang pengertian apa lagi Alin?
***
Kini Keenan dan Papa Wira kini bisa bernafas lega karena dokter sudah mengijinkan Mama Vero pulang ke rumah meski masih harus berobat jalan.
"Mulai sekarang Mama harus perhatikan kesehatan Mama, jangan terlalu kelelahan. Lagian untuk apa lagi sih Mama buka butik? Di usia Mama dan Papa sekarang harusnya sudah beristirahat biar Ken yang mengurus semuanya," Keenan menggenggam kedua tangan Mama Vero.
"Mama jenuh Ken hanya berdiam diri. Mama juga ingin seperti teman-teman Mama mereka setiap hari bermain bersama cucu-cucu mereka. Tapi apa? sampai sekarang Mama belum menimang cucu. Mama kesepian Ken," Mama Vero melirik Julia yang berdiri di belakang Keenan.
Keenan meyakinkan. "Sabar ya Ma, semua butuh waktu setidaknya tunggu sampai Alin lulus kuliah,"
"Kapan? empat tahun lagi? Dia memang masih muda... Tapi kamu harus ingat usia kamu sekarang berapa?"
Pak Wira datang menangkan Keenan dan Mama Vero yang sedikit bersitegang. Karena bagaimanapun itu urusan internal keluarga sedangkan di sana ada Julia yang memang bukan bagian dari keluarga.
"Sudah... Lebih baik Mama istirahat dulu, sekarang fokus sama kesehatan Mama. Soal cucu Tuhan sudah mengatur semuanya. Tuhan pasti kasih titipan di waktu yang tepat," ucap Papa Wira bijak.
"Julia terimakasih sudah banyak membantu kami. Sebaiknya kamu juga istirahat," Papa Wira melirik Julia.
"Ken kamu antar Julia pulang ya," Pinta Mama Vero.
Keenan menolak. "Maaf Ken gak bisa Ma... "
"Julia pasti kelelahan. Mama takut dia kenapa-kenapa di jalan, Ayo dong Ken! anggap saja balas budi, " Mama Vero memaksa.
"Baik Ma," jawab Keenan terpaksa.
Kemudian Keenan dan Julia berpamitan.
Hening.. Tidak ada percakapan diantara Keenan dan Julia di sepanjang perjalanan pulang.
Akhirnya Keenan merasa lega karena kondisi Mama Vero sudah cukup stabil dan lagi malam ini dia bisa tidur nyenyak dan melepas rindu dengan Alin.
Sebelum masuk ke kamar Keenan menyempatkan diri untuk berbincang dengan Nenek dan juga Pak Adi.
"Alin sudah tidur, tadi dia muntah-muntah terus. Di suruh makan enggak mau, minum obat juga enggak mau. Emang bandel banget itu anak udah tau punya penyakit asam lambung ngeyel banget enggak mau makan. Udah kambuh aja nangis-nangis minta di elus-elus. kalau belum tidur belum berhenti nangis dia" Nenek Ida membuka kartu AS Alin namun tangannya masih sibuk mengelap tumpahwarre koleksinya.
Keenan terdiam mendengar cerita nenek. Dia memang selalu menyuruh Alin makan tepat waktu tapi dia tak tahu Alin benar-benar makan atau tidak.
"Alin pasti banyak merepotkan Nak Keenan ya? Dia itu memang sangat manja dan susah di atur," tutur Pak Adi.
Hati Keenan sedikit sakit saat mendengar cerita Alin dari Pak Adi. Keenan memang sudah mengenal sosok Alin yang ceria dan tak bisa diam sedari dulu. Tapi semenjak mereka menikah Alin berubah menjadi lebih dewasa walaupun watak ceria dan tak mau diam tak hilang namun, sekalipun Alin tak pernah bermanja-manja padanya. Keenan merasa sangat bersalah apalagi jika mengingat saat awal pernikahannya dulu.
Keenan menatap Alin yang sudah tertidur pulas dengan lampu kamar yang masih menyala padahal biasanya Alin tak bisa tidur jika dalam keadaan terang. Terlihat jelas matanya sembab mungkin karena terlalu lama menangis.
"Sayang," Panggil Keenan lembut sambil mengusap air mata yang masih tertinggal di ujung mata Alin.
"Mas udah pulang?" tanya Alin dengan suara parau ia menyipitkan mata karena silaunya nyala lampu.
Keenan mengangguk. "Sudah,"
Alin segera bangun dari tidurnya. "Bagaimana keadaan Mama?" Alin tampak gusar.
"Mama sudah pulang, kondisinya sudah stabil," Keenan tak mau membuat Alin khawatir.
Alin bernafas lega. "Syukurlah!"
"Kata Nenek perutnya sakit?" Keenan menyentuh perut Alin.
"Udah mendingan kok Mas," Alin memegang tangan Keenan yang masih menempel di perutnya.
"Besok ke Dokter ya?" Bujuk Keenan kemudian.
Alin menggeleng. "Alin gak suka obat,"
"Maaf Mas sudah lalai jadi suami," ucap Keenan penuh penyesalan.
Tak sengaja Alin melihat noda lipstik berwana merah di kemeja yang Keenan pakai.
"Mas tadi dari mana dulu? " Tiba-tiba Alin bertanya dengan tatapan tajam.
"Enggak dari mana-mana sayang," jawab Keenan bingung karena tiba-tiba ekspresi Alin berubah.
"Jangan bohong!" Tatapan Alin semakin mengintimidasi.
"Tadi Mas antar Julia pulang," Jawab Keenan jujur.
"Pantas saja," Alin membuang muka.
Keenan merasa bingung dengan pertanyaan Alin. Bagaimana mungkin Alin bisa tahu kalau Keenan tidak langsung pulang setelah dari rumah Mama Vero. apa istrinya kini punya ilmu cenayang? Walaupun begitu Keenan masih bersikap tenang karena memang tidak melakukan apapun dengan Julia kecuali tadi......
-
-
-
Hayo Om Keenan sama Tante Julia ngapain ya? Hmmm.. sampai ada noda lipstik segala.
Bonus Pict Om Keenan yang gondrong dan brewokan.
Curcol author: Kata Emak othor kalau nyapu gak bersih nanti dapat suami brewokan. Kalau brewokan nya kaya gini mending othor gak usah bersih-bersih amat deh nyapu nya.. hhehe