
Alin berdiri di depan cermin dan mengamati bentuk tubuhnya saat ini. Ia memegang kedua pipinya yang semakin hari semakin mengembang itu, kemudian tangannya beralih mengelus perut buncit nya.
"Sehat-sehat di dalam ya sayang, Mami jadi nggak sabar pengen cepat ketemu" Tiba-tiba Alin merasakan sesuatu, tendangan pertama dari calon bayi nya. Senyumannya mengembang sempurna tidak ada kata yang mampu menggambarkan kebahagiaan nya saat ini.
Keenan baru saja keluar dari kamar mandi dengan tangan yang masih memegang handuk untuk mengeringkan rambutnya.
"Mas sini deh... " Panggil Alin begitu bersemangat dengan senyum yang masih mengembang.
Keenan segeran menghampiri Alin yang masih berdiri di depan cermin. "Ada apa sayang?"
Alin mengelus perutnya "Barusan dia nendang Mas.. kenceng banget,"
Keenan segera berjongkok kemudian menempelkan pipinya di perut Alin, Ia pun ingin merasakan tendangan dari sang calon buah hati. "kok enggak nendang lagi?" raut wajah Keenan berubah cemberut sudah lebih 3 menit tapi sang calon bayi tak juga menunjukan tanda-tanda tendangannya.
"Ajakin ngobrol dulu Mas.. " usul Alin.
Sesuai apa yang di usulkan Alin, Keenan mengajak sang calon bayi berbicara dengan lembut sambil mengelus-elus perut istrinya itu tak lupa sesekali mendaratkan ciuman di sana.
Alin terkekeh karena yang di dalam sana tak kunjung menunjukan respon. "Coba di nyanyiin Mas.."
Keenan menyanyikan sebuah lagu walau dengan suara yang pas-pasan.
"From the first breath she breathed
When she first smiled at me
I knew the love of a father runs deep
Someday you might know what I'm going through
When a miracle smiles up at you
I loved her first" ( I lover her first - Heartland)
Setelah Keenan selesai bernyanyi ternyata hasilnya tetap sama sang calon bayi tak merespon, tak ada gerakan dari dalam sana.
"Mungkin dia masih malu sama Papinya," Alin mencoba menghibur Keenan.
Tak mengapa bagi Keenan walaupun belum bisa merasakan tendangan calon bayinya sekarang. yang terpenting baginya saat ini adalah kesehatan dan keselamatan mereka berdua "Terimakasih sayang," Keenan memeluk Alin menghujani wanita itu dengan ciuman.
Baginya Alin adalah wanita hebat, Di saat gadis-gadis seusianya masih mengejar karir dan cita-cita justru Alin harus mengemban tanggung jawab yang sangat berat yaitu menjadi seorang istri dan juga calon ibu. Bahkan Alin rela menunda pendidikannya serta meninggalkan para sahabatnya.
Alin sudah berdandan rapi rencananya hari ini ia akan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter kandungan. Sementara Keenan dia masih mengenakan kaos oblong dan juga celana boxer.
"Cepat di pakai bajunya Mas," Alin menyodorkan baju yang telah ia siapkan untuk Keenan.
***
Alin pun melakukan pemeriksaan rutin dari mulai tensi darah, pengecekan HB sampai USG.
"Apa gender nya sudah kelihatan Dok?" tanya Alin penasaran karena setiap melakukan pemeriksaan Dokter selalu bilang belum terlihat jelas.
Dokter itu tersenyum. "Sudah Bu, bayinya..."
Sebenarnya tak masalah mau itu anak laki-laki atau perempuan tidak akan mengubah sedikitpun rasa sayang orang tua terhadap anaknya.
Pemeriksaan telah selesai. Keenan telah beberapa kali mendapat panggilan dari Randy dan memintanya untuk segera ke kantor. "Ikut ke kantor sebentar nggak apa-apa kan?"
Alin mengangguk pertanda setuju.
Randy tengah fokus dengan monitor yang ada di depannya. Namun, fokusnya teralihkan tatkala pintu ruangannya terbuka ternyata Keenan datang bersama Alin. "Eh kok bawa bini?"
Keenan menggandeng Alin untuk duduk di sofa. "Ya namanya juga udah punya istri ya bawa istri lah," sindir Keenan pada Randy yang masih menjomblo di usia 30 tahun.
"Gimana kabarnya ibu hamil?" tanya Randy mengalihkan pembicaraan.
"Baik Om," Alin tersenyum ramah.
"Baik Kek.. " jawab Keenan mengejek.
Keenan mengajak Randy untuk berbicara di ruangan lain. Dia tak ingin Alin mendengar masalah yang terjadi padanya saat ini.
Keenan nampak tak sabar saat Randy mengetikan sesuatu di laptopnya. "Jadi gimana?"
Tangan Randy nampak lihai berselancar di papan keyboard "Sebentar, perasaan tadi udah di simpan.. Oh ini dia," Kemudian ia mengarahkan laptopnya ke hadapan Keenan.
Keenan nampak fokus memperhatikan layar monitor. "Apa masih ada yang lain?"
"Sejauh ini hanya dua perusahaan dan mereka sedang melakukan kerjasama."
Pantas saja beberapa hari terakhir ini hotel milik Keenan sepi pengunjung ternyata ada pihak yang menyabotase website mereka. Para pengunjung tidak dapat reservasi kamar secara online karena website telah di retas.
"Tenaga aja sekarang website udah bisa di akses lagi. Gue pastiin gak bakal ada yang retas lagi," ucap Randy dengan santainya padahal semalam dia bergadang dan di buat pusing dengan ulah hacker tersebut.
"Bagus! Lanjutkan kerja lo bro.. Gue balik dulu," Keenan meninggalkan ruangan.
"Dasar kampret!" umpat Randy
Sebenarnya Randy sangat penasaran dengan identitas peretas jika di lihat-lihat tidak ada kebocoran data sama sekali dia hanya mengirim virus dan mengacaukan sistem. "Gue jadi penasaran... siapa tikus kecil ini?"
Sebelum pulang ke rumah Keenan mengajak Alin untuk makan siang terlebih dahulu. Alin memilih makanan Jepang untuk menu makan siangnya hari ini.
***
Randy berjalan menyusuri sebuah tempat yang ia yakini dimana sang peretas berada, Beberapa kali ia mengecek ponsel untuk memastikan.Tibalah dia di sebuah taman dan melihat seorang gadis berseragam SMA sedang duduk memangku laptopnya. Randy memperhatikannya dari kejauhan. "Apa mungkin itu bocil peretasnya?" gumam Randy.
Awalnya dia ragu tapi dari semua petunjuk yang ia peroleh semua tertuju pada gadis itu. perlahan Randy berjalan mendekati gadis itu. "Oh jadi lo tikus kecilnya,"
Gadis itu terlonjak segera ia berdiri memeluk laptop yang sebelumnya telah ia lipat. "Anda siapa?" tanya nya dengan tatapan tajam.
"Yakin mau tau siapa gue?" tatapan Randy tak kalah mengintimidasi.
Seketika gadis itu menciut, dia mulai menyadari kalau orang ini mungkin yang semalam mengancamnya. "Maaf mungkin ada salah orang," gadis itu membungkuk hormat kemudian hendak pergi meninggalkan pria di hadapannya.
Dengan sigap Randy menarik ransel gadis itu. "Nggak semudah itu kabur dari gue," ancam Randy.
Gadis itu semakin ketakutan, dia mencari cara agar bisa kabur dari pria di hadapannya. "Tolong! Tolong!" teriak gadis itu tiba-tiba.
"Apa-apa sih lo?" kesal Randy menutup mulut gadis itu.
Namun terlambat, karena orang-orang di sekitar taman telah berdatangan. "Ada apa dek?" tanya seorang pengunjung.
"Ini pak... Om ini mau melecehkan saya," acting gadis itu tampak terlihat sempurna bahkan tak akan ada yang menyangka kalau sebenarnya ia sedang ber acting.
"Enggak Pak.." Randy tampak sedikit panik takut-takut dia akan di keroyok masa ternyata tikus kecil itu licik juga.
"Bawa aja ke pos scurity," usul seorang ibu-ibu.
"Iya bener bawa aja," ucap warga lainnya.
Kemudian Randy di bawa ke pos scurity untuk di amankan, tidak ada penolakan dari Randy ia hanya mengikuti warga yang kini tengah menggiringnya. Gadis itu memandang punggung Randy dengan penuh rasa bersalah. "Maaf," gumamnya lirih.
-
-
Buat yang penasaran sama Abang Randy nih author kasih bonus visualnya
Jangan lupa like dan komen yaa...