
Terlihat seorang wanita terlihat begitu anggun berjalan di atas karpet merah, kehadirannya menjadi sorotan bak primadona serta senyuman nya manis dan menawan membuat siapa saja yang melihatnya akan terpana.
"Selamat ulang tahun tante," sapa gadis itu memberikan pelukan hangat pada mama Vero.
"Terimakasih ya sayang sudah datang ke acara ulang tahun tante," balas mama Vero dengan ramahnya.
"Aku yang makasih tante udah ngundang aku, ini hadiah buat tante semoga suka ya," gadis itu memberikan sebuah kado.
"Terimakasih ya sayang," mama Vero menerimanya dengan mata yang berbinar berbeda saat dia menerima hadiah dari Alin.
"Om apa kabar?" Kemudian gadis itu menyapa papa Wira kemudian mencium tangannya.
"Kabar baik nak," pak wira menyambut uluran tangan gadis itu dengan hangat.
"Kak Ken!" kemudian wanita itu berpindah memeluk Keenan.
Keenan merasa risih dengan pelukan wanita itu segera dia menjauhkan dirinya dan memperkenalkan Alin. "Ini Alin, istriku!" ucap Keenan dengan tegas.
Alin mengulurkan tangannya. pipinya merona ketika Keenan memperkenalkan dirinya dengan sebutan "istriku" hal yang sederhana namun terasa begitu bermakna.
"Julia. Tapi kok? bukannya... " Julia menyambut tangan Alin namun disertai dengan rasa penasaran.
"Ceritanya panjang, ayo kita mulai dulu acaranya," mama Vero menyela kemudian menggandeng tangan Julia untuk pembukaan pesta ulang tahun.
Acara demi acara telah selesai di laksanakan kini tinggal acara pemotongan kue. Seperti biasa Papa Wira menerima suapan kue pertama dari mama Vero, sedangkan Keenan menerima suapan kedua. Namun, saat suapan ketiga mama Vero malah memberikannya kepada Julia.
Semua orang larut dalam acara dengan rasa suka cita terkecuali Alin. Gadis itu merasa asing, beruntung sang Ayah tidak hadir di acara tersebut. Alin tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya ayahnya jika melihat putri semata wayangnya di perlakukan demikian. Sakit hati ayahnya mungkin akan lebih dalam daripada sakit yang ia rasakan saat ini dan bahkan ayahnya akan merasa bersalah seumur hidup. Merasa dirinya sedang tidak baik-baik saja lantas Alin memutuskan untuk pergi dari tempat. "Mas, Alin ke toilet dulu ya," pamitnya.
"Mau di anter?" Keenan khawatir melihat keadaan Alin.
"Gak usah Alin bisa sendiri,"
pertahanan Alin runtuh juga perlahan air matanya mulai menetes di pipi chubby nya. "cengeng! ngapain juga harus nangis," Alin menatap cermin di hadapannya segera ia mencuci wajahnya agar tak terlihat orang lain dan beruntung keadaan toilet sedang sepi.
tiba-tiba seseorang datang kemudian mencuci tangan di sebelahnya. "Are you okay," Tanya Julia yang melihat Alin mengeringkan wajahnya dengan Tissue.
"Tentu saja," jawab Alin seraya pergi meninggalkan Julia. Alin begitu malas kembali ke pesta tersebut kemudian ia memutuskan untuk keluar.
"Papa lihat Alin?" tanya Keenan panik, 40 menit sudah Alin tidak kembali dari toilet bahkan Keenan sampai 2x menyusulnya namun tetap Alin tidak berada di sana.
"Papa gak lihat," Pak Wira ikut celingukan mencari sosok Alin.
"Ken cari Alin dulu,"
"Tunggu Ken! sebentar lagi acara peresmian butik mama," Mama Vero menahan lengan Keenan. Acara ulangtahun itu memang sengaja di laksanakan berbarengan dengan peresmian butik mama Vero.
"Tapi Alin ma, Ken mau cari dulu sebentar,"
Sementara itu Alin berjalan lesu menjauhi hotel tersebut. dengan gaun yang panjang hanya selutut dan menenteng sepatu high heels yang tak nyaman di pakai. Alin bermaksud memesan taksi online namun bodohnya ia lupa memasukan dompet dan ponsel kedalam tas nya.
"Sial! begini amat sih nasib gue," Alin mengumpat kemudian berjongkok membenamkan wajah di atas kedua lututnya. Tak lama ia melihat cahaya silau di depannya Alin segera mengangkat kepalanya.
"Mas Ken," ucapnya lirih saat melihat Keenan yang baru saja turun dari mobil sambil mengusap sisa-sisa air mata yang masih tersisa.
"Masuk!" Keenan menunjuk mobil dengan wajahnya mengisyaratkan agar Alin segera masuk.
"Kenapa pergi gak bilang?" Tanya Keenan dengan nada dingin sambil melajukan mobilnya.
Alin hanya membisu. Ia ingin jujur namun takut menyinggung perasaan Keenan karena bagaimanapun Keenan adalah Putra semata wayang Mama Vero.Alin Masih menundukkan kepalanya "Maaf" hanya kata itu yang lolos dari mulutnya.
"Kamu gak percaya sama suamimu?"
Alin mengangkat kepalanya dan memberanikan diri menatap Keenan "Bukan begitu mas! Alin hanya..." Alin tak sanggup melanjutkan kata-katanya saat mata mereka saling bertatap seakan terkunci.
Keenan menepikan mobilnya. Walau di bawah lampu yang redup Keenan bisa melihat jelas hidung Alin yang memerah karena menangis.
Keenan mendekatkan wajahnya dan mengusap sudut mata Alin yang masih sedikit basah "Maaf mas maksa kamu buat datang ke acara ulang tahun mama,"
"Alin yang salah pergi gak bilang," Alin menundukkan pandangannya menghindari tatapan Keenan yang membuatnya salah tingkah
Sadar Alin berusaha menghindari tatapannya Keenan malah sengaja mendekatkan wajahnya dan hanya berjarak beberapa senti saja. Keenan mengecup bibir wanita itu sekilas dan membuat Alin terkaget hingga mulutnya setengah terbuka tak mau menyia-nyiakan kesempatan di depannya Keenan segera.
Kemudian Alin merasakan tangan Keenan berpindah ke belakang lehernya dan laki-laki itu mulai menyatukan bibir mereka.
Tidak ada penolakan dari Alin seperti saat pertama mereka berciuman, meski tidak secara aktif merespon namun Alin memejamkan matanya terhanyut dalam kehangatan yang menjalar keseluruhan tubuhnya.
Keenan yang terhanyut juga sepertinya lupa ia berada di mana. Alin memang bukan wanita pertama yang berciuman dengannya ia cukup sering melakukannya dengan mantan-mantannya terlebih Laura yang sudah 5 tahun di pacari nya. Bohong rasanya jika Keenan belum pernah melakukan hal yang lebih dengan Laura untuk sekedar berciuman panas dan bercumbu mesra namun masih dalam batasan dan prinsip Keenan tidak pernah mau berhubungan badan sebelum ikatan pernikahan walau terkadang Laura sering iseng menggodanya.
Alin diam pertanda sudah memberi ijin pikir Keenan. Perlahan ciumannya mulai berpindah-pindah. Dari bibir, pipi, telinga, kemudian turun ke leher. Begitu juga tangannya yang mulai aktif menyentuh bagian tubuh Alin yang selama dua minggu terakhir ini selalu jadi bahan fantasi liarnya.
"Mas... "
"Boleh kan?" Tanya Keenan menghentikan aktifitasnya sejenak.
Alin tak menjawab ia hanya mengisyaratkan lewat kontak mata pertanda dia mengijinkan.
Ketika Keenan akan memulai kembali tiba-tiba saja mobil patroli polisi berhenti tepat di depan mobilnya.
"Sial!" umpat Keenan yang terpaksa harus kembali mengubur hasratnya yang sudah meledak-ledak.
***
Jangan lupa like dan komen ya biar author semangat nulisnya. Terima kasih yang sudah setia nungguin Om Keenan sama Alin up.