
Waktu terus berlalu, musim pun terus berganti. Sedikit demi sedikit kini Alin dapat menerima kenyataan pahit itu. Kini ia bisa menjalani hari-hari seperti biasa.
Tak terasa kini Alin sudah memasuki semester 6 dan akan menjalani praktek kerja lapangan. Keenan meminta Alin agar magang di tempatnya.
Meski awalnya sempat menolak namun pada akhirnya Alin tidak ada pilihan lain.
"Mas... Apa nanti karyawan mas nggak pada canggung sama aku?" tanya Alin saat memasuki parkiran kantor.
"Kamu tenang saja mereka itu profesional. Kamu juga sudah kenal kan sama mereka," Keenan mengelus lengan Alin menenangkan istrinya. Mungkin ia merasa tak enak hati jika mendapatkan perlakuan khusus mengingat bukan hanya dirinya yang magang di tempat itu melainkan ada beberapa mahasiswa dari Universitas berbeda.
Sebelum memulai kegiatan para mahasiswa memperkenalkan diri dan di briefing terlebih dahulu. Setelah pembagian tugas selesai mereka di antar oleh staff ke ruangan masing-masing.
Seorang karyawan mengantar Alin ke ruangan yang telah di tentukan tadi. "Kalau ada yang tidak di mengerti silahkan tanyakan pada staff," ucapnya kemudian pamit.
Para karyawan seperti segan pada Alin walaupun dia seorang mahasiswa magang tapi tetap saja mereka merasa sungkan pada Alin yang statusnya adalah istri Keenan.
"Akhirnya istirahat juga," seru Tasya rekan magang Alin yang berbeda Universitas.
Alin membereskan meja kerjanya terlebih dahulu sebelum keluar ruangan.
"Mau makan siang bareng?" Gadis itu mengajak Alin untuk makan siang bersama.
"Boleh," Alin menyambut baik tawaran itu. kemudian mereka pergi bersama.
"Tapi nanti ada teman-teman aku di kantin nggak apa-apa kan? Kamu nggak ada temen sekampus?" tanya Tasya lagi.
"Nggak apa-apa kok. Aku juga cuman sendiri," jawab Alin santai.
Sampailah mereka di kantin, Dan sudah terlihat beberapa teman Tasya yang sudah duduk di kantin dengan makanan mereka masing-masing.
Alin dan Tasya kemudian mengambil makan siang yang telah di sediakan pihak hotel kemudian bergabung dengan mereka.
"Kenalkan ini rekan satu ruanganku namanya Alin," Tasya mengenalkan Alin pada rekannya.
"Hai aku Nayla, salam Kenal, " Gadis bernama Nayla itu mengulurkan tangannya.
Sementara satu orang lagi nampak acuh dan hanya fokus pada ponselnya.
"Oh iya yang itu namanya Indira," Ucap Tasya merasa tak enak dengan sikap Indira. Sebenarnya Tasya dan Indira tidak begitu akrab mereka hanya saling mengenal melalui Nayla.
Waktu makan siang hanya di isi dengan percakapan-percakapan ringan tentang hari pertama mereka magang.
"Toilet nya sebelah mana ya?" Tanya Indira bingung.
"Sebelah sana," Tunjuk Alin refleks.
"Lin aku mau ke toilet juga. Anterin ya," Tasya menggandeng tangan Alin. mereka terlihat cukup akrab meski baru saling mengenal setengah hari.
Akhirnya mereka berempat pergi ke toilet bersama.
"Cantik banget sih Indi, memangnya mau kemana?" Ledek Nayla yang melihat Indi memoleskan make up nya di kaca toilet.
"Serius gue cantik?" Tanya Indira dengan penuh rasa percaya diri.
"Kalau gak cantik mana mungkin lo jadi cewek populer di kampus," puji Nayla.
Sementara Tasya hanya mendelik, sejujur dia tak begitu suka pada Indira.
Alin nampak tidak perduli dengan obrolan mereka.
"Lo udah ketemu sama pemilik hotel?" Tanya Indira pada Nayla.
Nayla menggeleng. "Sepertinya belum,"
Sementara Alin menajamkan telinga nya saat Indira menyebut pemilik hotel. Pak Wira memang telah mempercayakan sepenuhnya hotel itu pada Keenan namun beliau sesekali masih datang untuk meninjau.
"Tadi gue di suruh nganter berkas ke ruangannya. Sumpah dia ganteng banget. Gue kira udah tua banget gitu kan tapi tenyata belum tua-tua amat, mateng lah berkarisma lagi," ucap Indira kagum membayangkan wajah Keenan tadi.
"Setahuku dia sudah menikah," Tiba-tiba Alin ikut nimbrung.
"Tapi gak semua kaya gitu kali Indi," celetuk Tasya.
"Ya enggak semua, tapi kebanyakan," bantah Indi lagi.
"Udah yuk.. Sebentar lagi jam istirahat habis," Nayla mencoba melerai Indira dan Tasya yang mulai beradu pendapat.
Setelah selesai istirahat Alin dan Tasya kembali ke ruangan mereka. Alin sampai lupa jika ponselnya tertinggal di dalam ruangan.
"Astaga!" gumam Alin kaget saat membuka ponselnya karena mendapatkan banyak pesan dan juga panggilan dari suaminya.
Ruangan yang tadinya bising mendadak menjadi hening seketika saat seseorang masuk ke ruangan tersebut.
"Lanjutkan saja kerja kalian, saya hanya melihat-lihat," ucapnya santai.
Meski tak menengok ke arah orang yang berbicara tapi Alin hafal betul kalau itu suara Keenan.
Kemudian Alin menyibukkan tangannya dengan benda-benda yang ada di atas meja. Sama dengan karyawan lain yang kembali beraktifitas seperti biasa.
Keenan menghampiri Alin yang sejak tadi bahkan tidak menengok ke arahnya. Sebenarnya dia sedikit kesal karena di abaikan Alin selama jam istirahat.
"Saya butuh satu orang untuk bantu beres-beres berkas di ruangan saya," ucap Keenan pada supervisor di ruangan tersebut.
"Boleh silakan Pak," ucap supervisor tanpa ragu.
"Ayo!" ajak Keenan pada Alin.
"Mas jangan gini dong... Aku gak enak sama yang lain jadinya," protes Alin saat telah meninggalkan ruangan itu.
"Tadi istirahat ke mana?" tanya Keenan kesal.
"Aku di kantin sama anak magang yang lain. Maaf ponselku tertinggal di meja," Alin menunduk ia merasa bersalah karena melupakan ponselnya.
"Hmmm begitu," ucap Keenan singkat.
"Kita mau kemana mas?" tanya Alin yang tak tahu tujuan karena ia hanya mengikuti langkah kaki Keenan.
"Mau nya ke mana? Di sini banyak kamar kosong kok," Ledek Keenan kemudian menekan tombol lift.
"Jangan aneh-aneh deh mas," dengus Alin kesal tapi tetap mengikuti Keenan dari belakang.
Ting!
Pintu lift terbuka.
"Suami mu ini belum makan hanya karena menunggu istrinya makan dengan teman-teman barunya," Sindir Keenan kemudian keluar dari lift.
Sesuai permintaan Keenan Alin menemaninya makan siang.
"Ayo makan juga," Keenan hendak menyuapi Alin.
"Aku sudah kenyang mas," tolak Alin karena memang dia sudah makan tadi.
"Kalau gitu suapi mas saja," Keenna tersenyum memberikan sendok yang tengah di pegangnya.
Alin mengambil sendok tersebut. "Manja," ucapnya sambil mencubit lengan Keenan.
Tok.. tok.. tok...
Suara ketukan pintu menghentikan aktifitas Alin yang tengah menyuapi Keenan. Kemudian ia menengok ke arah pintu.
"Paling Bu Ratna," ucap Keenan santai sambil mempersilahkan masuk pada orang tersebut.
Bu Ratna adalah sekretaris Keenan yang sudah dua tahun ini bekerja padanya. Usianya sudah mencapai hampir 40 tahun, Keenan memang sengaja memilihnya agar Alin tak lagi berfikiran macam-macam.
Dan benar saja yang datang memang Bu Ratna namun, dengan seorang mahasiswa magang yang tak lain adalah Indira.
Alin dan Indira saling tatap. Sepertinya mereka punya pertanyaan masing-masing yang ingin di utarakan.