My Little Bride

My Little Bride
Istri sah VS pelakor



Sampailah Keenan di halaman rumah Julia. "Sudah malam sebaiknya kamu masuk Jul," Keenan menghela nafas karena sudah hampir 5 menit Julia tak turun juga.


Julia sepertinya enggan turun dari mobil Keenan. "Gak mampir dulu kak? Mama sama Papa sepertinya baru tiba dari Singapura"


Keenan beralih posisi menghadap Julia "Kapan-kapan ya Jul, enggak enak sudah malam," Tolaknya halus.


Tiba-tiba Julia memeluk Keenan. "Julia jangan begini," Keenan mencoba melepaskan pelukan Julia namun, wanita itu semakin mempererat pelukannya.


"Sebentar saja Kak, Aku mohon," Julia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Keenan. "Sudah lama sekali Kak Ken gak peluk aku kaya gini. Dulu Kak Ken yang sering peluk aku saat sedih, Kak Ken juga yang hapus air mataku saat aku menangis," Tangis Julia pecah.


"Itu kan dulu, sekarang keadaanya sudah berbeda. Aku hanya menganggap kamu sebagai Adikku. Tolong jangan salah faham," Kini Keenan benar-benar melepaskan pelukan wanita itu.


Kini tangan Julia meraih kedua tangan Keenan "Aku cinta Kak Ken sedari dulu, kenapa Kak Ken gak pernah kasih aku kesempatan sekali saja?"


"Julia kamu itu wanita baik. Kamu pasti bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik. Dan orang itu bukan aku, aku sudah menikah." Tegas Keenan.


"Lihat saja! Cepat atau lambat Kak Ken pasti bisa menerima perasaanku," ucap Julia penuh tekad kemudian dia turun dari mobil Keenan.


***


Tak ingin Alin salah faham Keenan menceritakan sedetail mungkin kejadian sewaktu mengantar Julia tadi.


Masih dengan wajah yang cemberut. "Yasudah Mas mandi sana! Takut gatel soalnya abis di peluk-peluk sama ulat bulu,"


Walau sudah malam Keenan tetap menuruti perkataan Alin. "Sayang! Kok air hangatnya enggak keluar," Teriak Keenan dari kamar mandi.


"Oh iya Alin lupa... Kata nenek Water Heater nya lagi rusak," Alin tertawa.


Keenan terpaksa mandi air dingin di malam hari. Tak lama ia keluar dengan hanya menggunakan handuk, mulutnya menggigil karena kedinginan. "Mas gak bawa baju ganti,"


Alin yang sedang asyik memainkan ponsel segera bangun dan berjalan menuju lemari. Dia mencari-cari baju yang kira-kira cukup di badan suaminya. "Mas pakai ini saja, " Alin memberikan setelan Jersey Bola berwana pink yang kebesaran di badannya.


"Gak ada yang lain?" Dan ini..."Ia menunjuk logo Real Madrid di jersey tersebut. "Mas bukan pecinta madrid,"


"Mau Alin pinjamin baju Ayah aja?"


"Enggak usah," Kemudian Keenan memakai jersey yang di berikan Alin dan ternyata jersey itu cukup ketat di badannya.


Alin tak kuasa menahan tawanya. "Mas sesak nafas gak?" ledeknya.


"Gak usah pake baju deh," Keenan membuka kembali bajunya.


"Mas!" Panggil Alin membelai lembut pipi Keenan. Alin tak bisa memejamkan kembali matanya setelah terbangun tadi sementara Keenan terlihat sangat mengantuk mungin karena kelelahan.


"Hmm.. " Jawab Keenan namun, dengan mata yang terpejam.


Sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal dalam hatinya yaitu mengenai Julia. "Mas sedekat apa dulu sama tante Julia?" tanya Alin.


Walau terasa berat Keenan membuka kedua matanya. "Enggak terlalu dekat biasa aja. Karena Mas anak tunggal dan tidak punya saudara jadi Mas sudah anggap dia sebagai Adik. Itupun awalnya Mama yang minta karena keluarga kita sudah sangat akrab,"


"Tapi dulu kok Mas galak sama Alin? Padahal keluarga kita juga sudah akrab. Boro-boro di sapa Alin deketin aja langsung di usir," Kesal Alin.


Keenan mencubit hidung Alin gemas "Karena dulu kamu itu nyebelin, gimana Mas gak usir tiap kali deketin bawa peliharaannya aneh mulu. Kodok, Tokek, cacing sampai anak tikus kamu bawa-bawa," Keenan tertawa mengingat momen masalalu nya bersama Alin.


Alin malu dengan tingkah konyol masa kecilnya. "Masa sih? Enggak Ah,"


***


"Kalau masih sakit enggak usah jenguk sekarang ya sayang. Kan bisa besok-besok," Bujuk Keenan yang khawatir pada kondisi Alin.


"Alin sudah sehat kok, Alin mau tau kondisi Mama juga,"


Kebetulan hari libur Alin mengajak Keenan untuk menjenguk Mama Vero di rumah. Suka atau tidak Alin tetap harus menunjukan rasa hormat kepada mertuanya tersebut.


"Mobil siapa itu Mas?" Tanya Alin menunjuk mobil asing yang berada di parkiran rumah Keenan.


"Mobil Om Fahru, Papanya Julia," jawab Keenan sambil melepaskan seatbelt miliknya.


"Tante Julia ada di dalam juga?" Tanya Alin kemudian.


Tiba-tiba saja Alin mencium bibir suaminya yang membuat Keenan kaget sekaligus senang. Ciuman itu terhenti sejenak untuk menghirup udara.


"Masih kurang yang tadi malam?" bisik Keenan menggoda Alin.


Tak ada jawaban dari Alin. Dia kembali mencium bibir Keenan tangannya mulai menelusuri tengkuk leher Keenan, ciuman yang semakin lama semakin panas dan kini Alin mulai menurunkan ciumannya menuju rahang kemudian leher suaminya dan memberikan beberapa tanda merah di sana. Entah sejak kapan Alin menjadi seorang yang profesional dalam hal ciuman.


"Udah yuk Mas turun," Alin mengakhiri ciuman panas pagi itu.


"Mau lama-lama juga enggak apa-apa," ucap Keenan pasrah.


"Ayok," Alin membuka pintu mobil kemudian turun.


Keenan ikut turun sebenarnya dia tidak ingin mengakhirinya begitu saja.


"Dasar tante gatal, kamu sengaja buat tanda lipstick di baju Mas Keenan biar aku cemburu?. Biar aku tunjukan cara mainnya. Lihat bakhan aku bisa membuat tanda-tanda cinta supaya kamu kebakaran jenggot,"


Alin tersenyum puas melihat maha karya yang di buatnya barusan. Dan Keenan? mungkin dia tak menyadari tanda yang di buat Alin.


Keenan dan Alin masuk ke dalam rumah. Dan benar saja di sana sudah ada Julia dan kedua orang tuanya yang sedang mengobrol dengan Mama Vero dan Juga Papa Wira mereka terlihat sangat Akrab.


Keenan dan juga Alin menyapa semua orang yang sedang duduk di sofa. Kemudian Mama Vero mengajak semua orang untuk ke taman belakang agar suasana menjadi lebih santai. Mama Vero, Alin, Julia dan Ibu Ayu duduk di gazebo sedangkan Papa Wira, Keenan dan Pak Fahru duduk di samping kolam ikan sambil memberi makan ikan peliharaan Papa Wira.


"Sebentar ya Jeng, saya panggil Bi Een dulu biar di bikinin teh herbal," Mama Vero hendak berdiri.


Dengan cepat Julia menahannya. "Tante duduk aja ya, Biar Julia yang bikinin," Julia tersenyum manis.


"Ck... pintar cari muka juga rupanya ini tante girang"


"Julia rajin ya jeng, Seneng saya sama dia jadinya," puji Mama Vero.


"Kurang rajin apa menantumu ini Ma? Mau makan onde-onde aja aku hitungin dulu biji wijennya"


"Jeng bisa aja, Julia emang rajin cocok deh di angkat jadi mantu. Oh iya ini menantunya ya?" Tanya Ibu Ayu menatap Alin dari ujung kaki sampai ujung rambut.


Alin merasa risih mendapat tatapan yang begitu terlihat mengintimidasi. "Dari tadi lihat aku tapi baru di tanyain. Heran kok orangtua dukung anaknya jadi pelakor sih,"


Perasaan Alin mulai tak enak dia memilih untuk tidak mendengarkan kelanjutan percakapan antara Mama Vero dan Ibu Ayu. "Alin permisi kedapur dulu ya Ma, mau ambil buah," Pamit Alin sopan kemudian menyusul Julia pergi Ke dapur.


Keenan khawatir melihat Julia dan Alin berjalan beriringan masuk ke dapur. Dia takut terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. "Pa, Om Fahru Ken ke dapur sebentar ya," Pamitnya kepada dua laki-laki paruh baya tersebut dengan segera Keenan berlari menyusul Alin.


"Cari muka sampai segitunya. Biasa di rumah aja gak pernah ngapa-ngapain," Sindir Julia.


"Gak kebalik tuh? Kasihan ya yang punya muka dua skincare nya boros, makanya kalau punya muka dua sini bagi satu aku kan lagi cari muka. " Ceplos Alin.


Julia mengambil satu set cangkir dan mulai menyeduh teh herbal. sepertinya Julia memang sudah hafal secara detail dapur itu.


Sementara Alin mencuci buah yang akan di kupasnya.


"Sampai kapanpun Tante Vero tidak akan pernah nerima kamu. Tadi dengar sendiri kan? dia suka nya sama aku," Ucap Julia dengan penuh percaya diri.


"Kalau anaknya cinta sama aku gimana dong? Jangan gunakan kecantikanmu untuk dicintai sana-sini. Karena itu bukan kelebihan, tapi KEGATELAN." ucap Alin penuh penekanan.


"Heh... Berani kamu ngatain aku?" Julia menunjuk wajah Alin.


"Kamu pikir aku takut?," Tak mau kalah Alin mengacungkan pisau yang saat ini di pegangnya.


"Astaga sayang!" Keenan panik kemudian berlari ke arah Alin.


-


-


-


Kira-kira kehebohan apa lagi yang di buat Alin dan Julia? Ikuti terus cerita My Little bride jangan lupa masukan ke favorit yaa...