My Little Bride

My Little Bride
Kecewa untuk kesekian kalinya



Sementara itu di kantor, Keenan terlihat uring-uringan tak jarang para karyawan yang tak bersalahpun menjadi sasaran kemarahannya.


Pak Wira masuk ke ruangan Keenan "Ken... Setelah makan siang Pak Fahru datang untuk bahas kerjasama pembangunan hotel baru," Mereka memang akan bekerja sama dalam pembangunan hotel baru karena perusahaan yang di miliki Pak Fahru bergerak di bidang konstruksi yang sudah cukup terkenal.


"Maaf Keenan enggak bisa ikut Pa, Papa bisa kan handle sendiri? atau minta di temani sama yang lain," Keenan begitu malas berhubungan dengan Julia dan keluarganya. Belum lagi kini Julia terjun langsung mengelola perusahaan.


"Siapa? Di sini orang yang paling Papa percaya hanya kamu dan Pak Adi. Dan Pak Adi sudah tidak bekerja di sini lagi," Jelas Pak Wira.


Keenan hanya diam dia tak mungkin berbicara langsung kalau sebenarnya dirinya enggan bertemu Julia. "Ya sudah tidak apa-apa. Papa bisa handle semua sendiri. Lebih baik kamu istirahat dan selesaikan urusan dengan istrimu dulu," walau Keenan tidak berbicara langsung mengenai isi hatinya namun Pak Wira sudah bisa menebak dari perubahan sikap dan raut wajahnya sedari pagi.


"Terima kasih Pa," Kini Keenan bisa bernafas lega.


"Jangan pernah lagi membuat istrimu menagis. Kamu tahu? saat hari pernikahan itu Papa sangat bersyukur Laura tidak datang. Dan Papa juga tidak sembarang meminta Alin untuk menikah sama kamu. Papa sudah mngenal Alin bahkan dari sewaktu dia bayi. Papa sangat menyayangi dia dan sudah menganggap dia sebagai putri Papa sendiri," Pak Wira menepuk bahu Keenan sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.


Pak Wira sedari dulu memang menyayangi Alin. Tak jarang dahulu Keenan selalu di minta Pak Wira untuk mengawasinya dari kejauhan. wajah Alin selalu mengingatkan Pak Wira pada putrinya yang telah meninggal. Keenan dulu memang mempunyai Adik perempuan namun meninggal karena suatu penyakit dan tak lama setelah Adiknya meninggal Mama Vero harus menjalani operasi pengangkatan rahim karena terinveksi tumor dan jalan satu-satunya agar tak menjalar ke bagian tubuh yang lain yaitu dengan cara pengangkatan rahim.


Tak banyak kenangan yang Keenan miliki bersama adik perempuannya karena waktu itu Keenan masih balita. mungkin kalau masih hidup kini usianya sudah menginjak 28 Tahun.


***


Seperti biasa setelah jam makan siang Rissa selalu membuatkan Keenan secangkir kopi.


"Itu kopi buat Kak Keenan ya? Sini aku aja yang bawa" Julia segera mencegat Rissa yang hendak masuk ke ruangan Keenan.


"Iya. Memangnya kamu siapa?" Rissa ketus.


Julia berbicara dengan angkuhnya "Aku ini client sekaligus calon istrinya,"


"Bangun mbak! Pak Keenan itu sudah menikah,"


Julia merebut nampan yang di bawa Rissa. "Diam kamu! " bentak Julia


"Kak Ken," Julia datang dengan secangkir kopi nyang di bawa nya.


Keenan kaget melihat Julia yang tiba-tiba datang. "Julia... Ngapain kamu di sini? sebaiknya kamu ke ruangan meeting ketemu Papa."


"Justru itu.. Aku kesini karena enggak lihat Kak Ken di ruangan meeting. Oh iya ini kopinya," Julia hendak meletakan cangkir di atas meja Keenan namun, tak sengaja kakinya tersandung hingga kopi yang ia bawa nyaris tumpah.


Julia pun kaget, beruntung kopi itu tidak benar-benar menumpahi Keenan hanya saja kemeja Keenan terkena sedikit cipratan cairan hitam tersebut. "Astaga! Maaf Kak.. Aku enggak sengaja," Julia mengambil tissue hendak mengelelap noda di kemeja Keenan.


Dengan segera menepis tangan Julia. "It's Oke," Keenan kemudian mengambil tissue sendiri kemudian mengelapnya kemejanya.


"Aku cuciin ya Baju Kak Ken,"


"Enggak usah, aku banyak stok baju di kantor sebaiknya kamu ke ruangan Meeting sekarang," Keenan berjalan menuju sebuah lemari kemudian berganti pakaian di dalam kamar mandi.


Hanya butuh waktu beberapa menit untuk berganti pakaian. Keenan keluar dari kamar mandi dan ternyata Julia belum juga pergi dari ruangannya.


"Sekali lagi aku minta maaf ya Kak," ucap Julia penuh penyesalan.


"Enggak masalah Jul," Keenan merasa risih Julia berada di sana padahal dia sudah beberapa kali meminta julia untuk pergi ke ruang Meeting.


"Aku bantu ya rapihin Kak," Julia meraih kerah kemeja Keenan yang belum terlipat rapi.


Krek... Pintu terbuka.


"Mas Keenan!" panggil Alin di ambang pintu.


***


Della menutup mulunya yang sejak tadi menganga karena melihat hasil test pack Alin. "Eror gak sih ini?" Della membolak balikan alat itu.


Alin mengedikkan bahunya."Entah,"


"Kyaa.... selamat ya Alin," Della langsung memeluk Alin sambil meloncat-loncat kegirangan.


Della mencubit pipi Alin. "Aww sakit," rintih Alin.


"Ini nyata Alin, bukan mimpi," lanjut Della.


Tangis Alin pecah juga. Dia enangis karena terlalu bahagia tak ada kata yang mampu di ucapkan selain rasa syukur.


"Cepat kasih tau suami lo lin," ucap Della bersemangat.


Raut wajah Alin berubah murung "Tapi Dell... gue masih kesel sama dia,"


"Yaelah udah mau jadi emak-emak juga masih aja gengsian. Biar bagaimanapun dia ayahnya dia berhak tau kehadiran anak ini," Della mengusap perut Alin yang masih rata itu.


"Iya lu bener Dell," Alin memang masih kesal terhadap suaminya namun, kehadiran janin di rahimnya membuat Alin dengan cepat melupakan kekesalannya. bagaimanapun Alin ingin segera memberitahu Keenan.


Alin nampak berfikir. "Gue ke kantornya aja kali ya Dell,"


"Gue temenin Lin," Della menggandeng tangan Alin.


"Lin gue anter sampe sini aja ya," Della hanya memastikan Alin sampai degan selamat dia menjadi orang yang protektif saat ini.


"Makasih ya Dell... Gue turun dulu," kemudian Alin turun dari taxi sementara Della langsung pulang ke rumahnya.


"Siang tante Rissa," sapa Alin saat berpapasan dengan Rissa.


"Eh kamu.. Mending kamu cepetan deh ke ruangan Pak Keenan,"


"Emang kenapa?" tanya Alin heran.


"Banyak tanya udah sana aja,"


"Gak jelas," gumam Alin kemudian segera berjalan menuju ruangan Keenan.


Rissa menyeringai. "Kayaknya bakal seru nih," Desas desus tentang Keenan yang gagal menikah dengan Laura dan mengganti pengantin wanita dengan Alin memang sudah menyebar di seluruh kantor dan sempat menjadi gosip hangat seluruh karyawan.


Sedikit ragu Alin mendorong pintu yang sedikit terbuka.


Mata Alin terbelalak melihat Keenan yang sedang berduaan dengan Julia bahkan dengan jarak yang sangat dekat. Tangan Julia kini sedang memegang kerah kemeja Keenan. Jika Alin perhatikan kemeja yang kini di pakai Keenan berbeda dengan yang tadi pagi suaminya kenakan.


"Mas Keenan," Panggil Alin dengan emosi yang sudah meledak-ledak. Lagi-lagi wanita itu seperti tidak pernah ada habisnya. Sekali lagi Alin harus merasa sesak, kecewa dan terluka.


"Sayang," Keenan segera menepis tangan Julia kemudian menghampiri Alin yang masih terpaku di ambang pintu.


"Kenapa gak telpon? Mas kan bisa jemput,"


"Kalo Alin telpon Alin Gak bakalan tahu kelakuan Mas sama Tante Julia di kantor,"


"Kak Ken," Julia menghampiri Keenan dan Alin.


"Sebaiknya kamu keluar Jul," Keenan mendorong Julia keluar ruangan kemudian menutup pintu.


"Sayang jangan salah paham dulu ya Mas bisa jelasin." Keenan menuntun Alin untuk duduk di sofa.


"Mau jelasin apa Mas? Tadinya Alin ke sini mau kasih kejutan malah Alin yang terkejut," ucap Alin lirih.


Kini keraguan itu datang lagi. Entah ia harus percaya lagi atau tidak. Sudah sering rasanya di buat kecewa, dengan susah payah ia menata hati mengembalikan kepercayaan kepada Keenan terlebih kini hadir malaikat kecil antara mereka.


-


-


Jangan lupa Like dan Komen ya...