My Little Bride

My Little Bride
Bunda!



Ceklek....


Pintu ruangan terbuka, Terlihat seorang perawat keluar dari ruangan operasi.


"Bagaimana keadaanya Sus?" tanya mereka serempak.


"Mohon bersabar ya Pak, Bu... Kondisi pasien masih kritis saat ini. Dan untuk bayi nya kami harus membawanya ke ruangan NICU untuk perawatan lebih lanjut." jelas perawat tersebut.


Tak berselang lama seorang perawat keluar dari ruangan operasi dengan mendorong sebuah inkubator. Seorang bayi mungil terbaring di dalam sana dengan terpasang beberapa alat medis. Tak ada gerakan maupun tangisan bayi mungil itu.


Keenan berjalan mengikuti perawat ke ruangan NICU sambil terus memandangi wajah bayinya, sungguh hatinya terasa hancur. Ia mengantar sampai ke depan pintu dan belum di ijinkan masuk karena masih harus mendapatkan perawatan intensif dari dokter.


***


Hari ini tepat hari ulang tahun Alin yang ke 19 tahun juga bertepatan dengan hari meninggalnya sang Bunda. Sepanjang hidupnya Alin memang tak pernah merayakan ulang tahun.


Keenan membawa sebuah bouquet bunga untuk Alin. Ia berharap agar istrinya bisa segera sadar. Wajah Alin terlihat sangat pucat Keenan membelai lembut kepala Alin kemudian mencium keningnya. Keenan menggenggam tangan Alin yang masih terpasang selang infus sambil berbisik lirih. "Selamat ulang tahun istriku sayang, kamu wanita hebat sudah bisa bertahan sejauh ini. Tapi Mas mohon.. Bangunlah!" ucap Keenan sambil terisak ia tak mampu lagi berkata-kata lidahnya terasa kelu dan dadanya terasa sesak bagaikan tertimpa batu yang besar.


Terlihat para keluarga dan sahabat berada di luar ruangan karena memang tak di ijinkan untuk masuk kedalam. Mereka tak henti memanjatkan do'a untuk kesembuhan Alin.


Cobaan berat untuk Pak Adi. 19 tahun lalu dia harus kehilangan istrinya sewaktu melahirkan anaknya dan kini bayi itu telah tumbuh dewasa dan cantik. Pak Adi menyanyangi putrinya lebih dari apapun ia tak menyangka tepat di hari ini putrinya sedang berjuang di antara hidup dan mati dengan di bantu alat-alat medis dan begitu juga dengan cucunya. Ia hanya berharap ada keajaiban dari Tuhan untuknya. Cukup sekali saja ia merasakan patah hati terbesar yaitu kehilangan istri tercintanya dan tak ingin hal itu terjadi pada putri maupun cucunya.


***


"Bunda!" panggil Alin pada wanita cantik yang sangat mirip dengannya. Segera ia berlari dan memeluk wanita itu.


Wanita itu tersenyum dan membalas pelukan Alin. Pelukan yang selama ini Alin rindukan. Pelukan yang baru sekali ia rasakan semasa hidupnya yaitu saat ia di lahirkan.


"Selamat ulang tahun sayang," Bunda Rina mengelus lembut puncak kepala Alin,


"Alin kangen Bunda.." Alin terisak.


Bunda Rina tersenyum. "Bunda juga kangen sama Alin, Tapi bunda harus pergi," Bunda Rina melepaskan pelukan Alin.


"Alin ikut sama bunda," Alin menggenggam tangan bundanya.


Bunda Rina menggeleng. "Tidak sayang! kamu harus kembali banyak orang-orang yang sayang sama kamu terutama Ayah dan suami kamu", kemudian ia berjalan menjauh dari Alin.


Alin hanya diam terpaku ia berusaha melangkah mengikuti sang bunda tapi tak bisa langkahnya terasa begitu berat.


"Maaf Bunda tidak sempat merawatmu, maka kini bunda akan merawat anakmu dengan sebaik mungkin. Bunda tidak akan membiarkan ia kesepian seperti dirimu," itu kalimat terakhir yang bunda Rina ucapkan sebelum akhirnya dia benar-benar pergi menggendong seorang bayi.


"Tidak!" Alin sekuat tenaga ingin berteriak tapi entah mengapa suaranya seperti tertahan. Hanya sesak yang ia rasakan.


***


Keenan merasakan ada pergerakan kecil dari jari-jari tangan Alin.


Alin perlahan membuka matanya samar-samar ia melihat Keenan sedang tertunduk sambil menggenggam erat tangan nya.


"Mas... " panggil nya lirih.


"Sayang... syukurlah kamu sudah bangun," ucap Keenan penuh haru.


Alin meraba perutnya yang terasa sakit mungkin karena jahitan pasca operasi. seketika ia teringat ucapan terakhir Bunda nya. "Bayi kita mana Mas?" tanya Alin kemudian.


"Tenang dulu ya sayang.. Mas panggil dokter dulu," Kemudian Keenan menekan bell memanggil petugas medis.


"Jawab Mas!" Alin mulai berkaca-kaca karena Keenan hanya diam tak mampu menjawab pertanyaannya.


"Tenang dulu sayang.. bayi kita baik-baik saja," Keenan berusaha menangkan Alin.


"Dimana sekarang? Alin mau lihat," Alin berusaha bangun dari tidurnya.


Keenan dengan sigap membantu Alin untuk duduk. "Iya nanti kita lihat.. Yang penting kamu harus sembuh dulu," bujuk Keenan.


"Alin mau lihat sekarang... Di mana Mas? Jangan bohong" Alin mulai menangis histeris.


Kemudian dokter datang beserta satu orang perawat.


"Tenang dulu ya Mbak.. Biar kami periksa dulu,"


Kemudian dokter mengangguk seperti mengisyaratkan sesuatu pada perawat.


Tak berselang lama Alin terdiam dan mulai tak sadarkan diri.


"Istri saya kenapa dok?" tanya Keenan mulai panik melihat setelah melihat istrinya kembali tertidur.


"Tidak apa-apa Pak.. Kami terpaksa menyuntikan obat penenang. Pasien tidak boleh terlalu shock dan terlalu banyak bergerak karena akan sangat berpengaruh pada masa pemulihannya," jelas Dokter.


"Nanti kalau beliau sudah bangun coba ajak bicara pelan-pelan ya Pak.." tambah suster.


Sementara orang-orang yang berada di luar ruangan tak kuasa menahan tangis saat mendengar suara Alin.


***


Yuna sedang melipat pakaian sambil menonton televisi. Semenjak ibunya sakit dia mengambil alih pekerjaan rumah dan mungkin mulai saat ini ia juga harus mengambil alih tanggung jawab mencari nafkah karena ayahnya masih mendekam di penjara. Sementara tabungannya sudah terkuras habis untuk biaya pengobatan ibunya di rumah sakit beberapa hari yang lalu.


Kemudian adik laki-laki nya mengambil remote dan mengganti-ganti chanel.


"Eh tunggu," Yuna memegang lengan Yudha agar tak mengganti chanel terlebih dahulu.


Ia melihat sebuah berita kecelakaan tentang mobil yang masuk ke dalam jurang. Seketika ia teringat Randy yang kemarin sempat memperlihatkan rekaman CCTV mobil yang menabrak Alin. "Sama persis," gumam Yuna kemudian ia segera mengambil ponselnya.


"Ah siyal! Belum ada nomer dia ternyata," gumam Yuna. "Beresin lipatan bajunya.. Kakak pergi dulu," ucap Yuna pada adiknya tak lupa ia memotret layar televisi terlebih dahulu kemudian ia segera bergegas.


Yuna menaiki ojek online agar segera sampai di rumah sakit. Dia menduga Randy ada di sana. Kemudian berlari menuju ruangan dimana Alin di rawat.


"Pak Randy," panggil Yuna ngos-ngosan sambil berlari.


"Cil.. Ada apa?" Randy segera menghampiri Yuna.


Yuna menunjukan ponselnya.


Kening Randy berkerut saat melihat layar ponsel Yuna yang memperlihatkan fotonya sendiri yang sedang berselfie.


"Astaga! Bukan ini," Yuna malu kemudian segera menggeser layar ponselnya.


Randy tercengang melihat foto yang kedua. "Nggak salah lagi ini pasti mobil yang sama," gumam Randy, semenjak kemarin Randy sudah memintaorang kepercayaannya untuk mencari informasi tapi belum ada titik terang. "Gue harus cek ke lokasi,"


"Aku ikut," pinta Yuna.


Kemudian Randy dan Yuna pamit pada keluarga Alin dan Keenan.


Yuna dan Randy sampai di lokasi.


"Di bawah sana," Yuna menunjuk ke bawah jurang dan sudah ada beberapa petugas kepolisian dan tim SAR dan juga beberapa wartawan di bawah sana.


"Lo tunggu di sini! Gue turun ke bawah buat pastiin," Pinta Randy pada Yuna.


"Aku ikut turun,"


"Bahaya Cil, medannya terjal. Udah lo di sini aja," Tolak Randy kemudian dia segera menuruni jalan yang curam dengan pelan dan hati-hati.


"Hati-hati Pak.. Bahaya! ," Yuna dengan santai menuruni jalan yang cukup terjal berbeda dengan Randi yang meraba-raba akar dan pepohonan dengan susah payah.


"Kampret dasar Bocil," umpat Randy.


Yuna berhasil sampai lebih dulu dia mencoba masuk diantara kerumunan petugas. Terlihat mobil sudah ringsek parah namun, beruntung sang sopir masih selamat dan hanya mengalami luka ringan. Yuna kaget melihat wajah sopir tersebut ternyata orang yang dia kenal. "Om Gani!" pekik Yuna.


"Yuna?" panggil pria itu tak kalah kaget.


-


-


-


Yang penasaran kondisi Bayi nya Alin dan Keenan di next episode ya. Di tunggu aja.. hehehe


Jangan lupa like dan komen agar author semakin semangat lagi menulis...