
Hari ini Alin terlihat kurang sehat, ucapan tante Monica selalu terngiang-ngiang dalam pikirannya setelah pulang dari rumah Mama Vero kemarin. Sebenarnya Alin mencoba tak perduli tapi entah mengapa dia tak bisa mengabaikan begitu saja.
Keenan telah meminta Alin untuk beristirahat dan tidak berangkat ke kantor. Namun Alin menolak dengan alasan karena baru hari kedua ia magang. Ia merasa tidak enak pada rekan dan juga karyawan lainnya jika tidak masuk. Dan terpaksa Keenan hanya menuruti keinginan Alin.
"Apa sebaiknya kita ke rumah sakit dulu?" tanya Keenan saat tiba di parkiran.
"Aku gak sakit Mas.. Ayo turun! nanti aku telat," Alin segera membuka pintu mobil. Ia khawatir akan terlambat.
"Kalau ada apa-apa bilang ya," Keenan menyusul Alin yang berjalan cepat.
"Iya Mas,"
Alin masuk ke ruangan dan ternyata di sana tengah di adakan briefing. Alin tersenyum kaku kemudian ikut bergabung bersama karyawan dan juga mahasiswa yang lain.
Setelah briefing selesai mereka pun kembali pada pekerjaan masing-masing.
"Lin.. tadi kamu telat kok gak di omelin? Aku masuk lima menit sebelum jam kerja aja udah kena ceramah," Bisik Tasya sambil berpura-pura memberikan berkas pada Alin.
Alin tersenyum kikuk mendengar pertanyaan dari Tasya. "Ah itu.. Aku sudah ijin mau berobat dulu," ucapnya ragu.
"Kamu sakit? Eh iya wajah kamu pucat gitu," Tasya mengambil cermin kecil di sakunya kemudian memberikannya pada Alin.
"Astaga," Alin kaget melihat wajahnya sendiri ia lupa memoleskan lipstik sebelum berangkat.
Alin mengambil sesuatu dari tasnya. "Aku ke toilet dulu," pamitnya pada Tasya.
"Padahal nggak sakit kok kelihatan pucat kalau gak pakai lipstik," gumam Alin memandang cermin kemudian memoleskan sedikit lipstik di bibirnya.
"Ya mungkin bawaan bayi," ucap Indira yang muncul entah dari mana.
Alin kaget dengan kehadiran Indira yang tiba-tiba muncul di belakangnya ia kira itu hantu toilet yang sering di ceritakan karyawan.
"Kamu hamil anak Pak Keenan kan?" tanya Indira spontan.
"Mau nya sih gitu," jawab Alin santai.
"Ku kira cupu ternyata suhu," Sindir Indira.
"Maaf ya kamu kalah cepat," ucap Alin kemudian pergi meninggalkan Indira begitu saja.
"Belagu amat tuh anak, " Gumam Indira kesal.
Jam istirahat tiba, Alin berencana makan siang bersama Keenan, kali ini ia tidak ikut bergabung bersama Tasya dan juga yang lainnya.
"Mas makan di luar yuk," Ajak Alin saat memasuki ruangan Keenan.
Keenan langsung tersenyum begitu mendengar suara Alin, segera ia menutup laptop yang sedang di pegang nya. "Mau makan di mana?"
"Di luar angkasa kalau bisa, Abisnya orang-orang bumi pada jahat," ucap Alin kemudian duduk di sofa.
"Siapa yang jahat sama kamu? Bilang sini sama Mas," Tanya Keenan nampak serius sambil berjalan menghampiri Alin kemudian ikut duduk di sampingnya.
"Becanda kali," Alin tersenyum kemudian mencubit gemas pipi Keenan.
"Mau makan di mana?" tanya Keenan lagi.
Alin nampak berfikir ia pun belum memutuskan ingin makan di mana. "Terserah deh di mana aja asal jangan di sini,"
"Restauran Jepang?"
"Enggak deh... Kemarin kan baru makan di situ," tolak Alin.
"Makanan Korea?"
"Perut aku lagi gak bersahabat sama makanan pedas," tolak Alin lagi.
"Ya terus mau makan di mana?" Tanya Keenan masih dengan sabarnya.
"Ya terserah Mas aja... Tapi jangan di dua tempat itu," Jawabannya enteng.
"Terus mau nya di mana?"
"Terserah.. Mas maunya makan apa?" Alin malah balik bertanya.
"Mas mau makan kamu aja kalau begitu," Ucap Keenan menggigit pipi Alin gemas.
"Mas jangan sekarang deh! serius aku lapar," tolak Alin menepis tangan Keenan yang tengah memegang kancing baju nya kemudian hendak pergi meninggalkan ruangan.
***
"Alin gak ikut makan bareng lagi Sya?" tanya Nayla yang melihat Tasya duduk sendirian di kantin.
"Enggak.. katanya mau makan di luar," jawab Tasya santai.
"Alin sepertinya anak orang kaya ya Sya, Kita di kasih makanan kantin gratis gini aja udah perbaikan gizi daripada di kost makan nasi sama kerupuk terus," ucap Nayla cengengesan.
Nayla dan Tasya memang satu kost karena mereka berasal dari luar kota. Karena itulah mereka menjadi akrab.
"Hahaha itu sih kamu aku aja kelewat ngirit," Tasya membenarkan ucapan Nayla yang memang terlalu irit.
"Ya jelas kaya, dia kan istri simpanan nya Pak Keenan," Indira tiba-tiba nimbrung.
"Tahu dari mana? kalau gak ada bukti jatuhnya fitnah," Kesal Tasya mendengar ucapan Indira.
"Kemarin waktu ke rumah sakit gue lihat dia ke dokter kandungan sama Pak Keenan," Indira berucap menggebu-gebu.
"Ya bisa saja mereka memang suami istri kan?" Tasya membela Alin, meski mereka baru saling mengenal dalam hitungan hari tapi Tasya yakin kalau Alin adalah wanita baik-baik.
"Udah deh kalian gak usah berdebat tentang kehidupan orang lain. Salah jadi fitnah benar jadi ghibah," selah Nayla kesal mendengar Tasya dan Indira berdebat.
Tasya dan Indira memang tidak terlalu akrab. Mereka kenal karena Indira satu kelas dengan Nayla sedangkan Nayla dan Tasya mereka tinggal satu kost dari awal kuliah.
***
"Tasya!" Alin menghampiri Tasya yang sedang duduk di ruangan. Kemudian menyodorkan sebuah paper bag di atas meja. "Ini buat kamu,"
"Eh Alin... Ya ampun jadi ngerepotin," ucap Tasya sungkan karena merasa tak enak.
"Abisnya kamu aku ajak makan di luar gak mau,"
"Oh iya, Aku mau tanya sesuatu boleh? tapi kamu jangan tersinggung. Kalau gak mau jawab juga enggak apa-apa," ujar Tasya sedikit ragu.
"Apa?" Alin penasaran dengan apa yang akan di tanyakan Tasya.
"Aku dengar gosip katanya kamu istri simpanan Pak Keenan," ucap Tasya terbata. "Aku sebenarnya enggak percaya, Hanya saja ingin memastikan langsung kalau itu memang tidak benar,"
Alin tertawa mendengar pertanyaan Tasya. "Kamu dengar gosip darimana?"
"Ada lah pokoknya, gak bisa aku sebutin," ujar Tasya sedikit was-was.
"Aduh tukang gosip kurang update. Kalau aku bicara kebenaran kamu bakal percaya apa enggak?" Alin bertanya balik.
"Memangnya benar?"
"Iya memang benar," jawab Alin santai
Seketika Tasya terdiam mendengar jawaban Alin. Ia sedikit syok dengan apa yang baru saja Alin ucapkan.
"Tapi aku ini bukan istri simpanan melainkan istri sah nya Pak Keenan. Ya memang perbedaan usia kami cukup jauh jadi wajar lah orang bilang aku istri simpanan," Jelas Alin agar Tasya tak bingung lagi.
"Syukur deh kalau begitu," Tasya merasa lega. "Pantas saja karyawan sini enggak ada yang berani nyuruh-nyuruh kamu," Ujar Tasya berbisik.
"Iya karyawan gak ada yang berani tapi bos nya langsung yang nyuruh-nyuruh aku," ujar Alin sambil cemberut.
Setelah jam kerja selesai Alin berjalan menuju ruangan Keenan. Karena katanya suaminya itu akan pulang sedikit terlambat jadi Alin di minta untuk menunggu di ruangan saja.
"Loh Indira kok kamu belum pulang?" Tanya Alin yang melihat Indira di ruangan Keenan.
"Aku di suruh lembur sama Bu Ratna," ujar Indira sok sibuk dengan laptop di tangannya.
"Pak Keenan di mana?" tanya Alin yang melihat Keenan tidak ada di tempatnya.
Indira hanya mengangkat bahu nya tanpa menjawab pertanyaan Alin. "Emm kamu ngapain ya di sini bukannya ini sudah jam pulang?" tanya Indira dengan angkuhnya.
"Saya yang minta dia datang kesini," jawab Keenan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
"Maaf Pak," Indira tertunduk malu karena ucapannya ternyata terdengar oleh Keenan.
"Ini istri saya," Keenan merangkul Alin.
"Istri sah," Ralat Alin dengan sengaja karena tahu Indira lah yang bergosip tentang dirinya di kalangan anak magang.