
"Lin, masih siang nih gimana kalau kita nongkrong dulu di tempat biasa," Ajak Della.
"Oke," jawab Alin singkat, Iya teringat ucapan Keenan yang mengatakan 'hiduplah sesuai dengan keinginanmu'. Ini saatnya kembali menjadi Alin yang dulu, Alin yang suka kebebasan dan bar-bar.
"Tumben lo langsung mau tanpa mikir-mikir," celoteh Reno.
"Hari ini kalian semua gue traktir," ucap Alin dengan sombongnya.
"Nah ini yang gue suka, nyai barbar kita udah kembali lagi," Rizal hendak memeluk Alin namun, di halangi oleh Farrel.
"Jangan cari-cari kesempatan lo," Farrel menatap tajam Rizal.
Alin mengambil ponsel dari dalam saku "Gue kasih tau supir dulu biar pulang duluan."
"Wiih hebat lo Lin, kemaren HP keluaran baru, sekarang supir pribadi , pesugihan di mana lo cepet banget tajir? Apa nenek Ida udah tobat ya?" Reno sedikit penasaran karena walaupun Alin di katakan orang berada sang nenek selalu menjunjung tinggi asas penghematan dan mengajarkan Alin hidup sederhana.
"Enak aja lo, bukan pesugihan tapi gue melihara om-om," Alin kesal. tapi memang itu faktanya dia mendapat semua fasilitas om-om alias suaminya.
Namun trio pembuat onar menanggapinya dengan candaan, mereka mengira ucapan Alin hanya sebuah lelucon kecuali Della yang memang sudah tahu.
Mereka pun sampai di Cafe tempat biasa nongkrong yang jaraknya kebetulan tidak terlalu jauh dari kampus. Namun, tiba-tiba Alin teringat sesuatu.
"Mampus! Gue balik ke kampus bentar," ucap Alin panik.
"Kenapa Lin?" tanya Della penasaran.
"Tumpahware Nenek ketinggalan, bisa di coret dari daftar ahli waris gue. Kalian pesen duluan aja nanti gue balik lagi. Rel gue pinjem kunci motor lo," ucap Alin tergesa-gesa.
"Gue anter aja Lin," tawar Farrel.
"Gak usah gue gak lama," Alin mengambil kunci motor dari tangan Farrel kemudian segera berlari menuju parkiran.
Alin berlari menyusuri koridor kampus, seingatnya dia meninggalkan tumpahware di ruangan sekertariat UKM saat dia menyerahkan formulir pendaftaran.
"Permisi kak," ucap Alin sopan saat memasuki ruangan.
"Iya ada apa?" tanya salah seorang mahasiswi.
"Maaf barang saya ada yang ketinggalan tadi saat menyerahkan formulir apa kaka lihat?"
"Barang apa?"
"Paper bag warna kuning, di dalamnya ada tumpahware," ucap Alin sedikit malu.
"Oh itu, Seingat gue tadi ada yang bawa," Tutur mahasiswi tersebut.
"Haa? siapa yang bawa kak?" ucap Alin sedikit panik.
"Lo kenal Rey kan? Ketua BEM kita. katanya dia kenal sama lo,"
"Rey?" Alin sedikit lupa dengan yang namanya Rey.
"Lo cari aja di ruangannya," usulnya.
"Ah sumpah gara-gara itu tumpahware gue jadi ribet," gerutu Alin.
Alin mengetuk ruangan dengan sedikit ragu. seingatnya dia tidak punya teman atau saudara yang namanya Rey.
"Akhirnya datang juga lo Lin," ucap seseorang saat Alin memasuki ruangan.
Alin memicingkan matanya mengingat-ingat wajah seseorang di hadapannya.
"Serius gak kenal sama gue?"
"Kak Reynand? Beneran ini kak Reynand kan?" tanya Alin tak percaya. Reynand adalah sahabat sekaligus cinta monyet Alin di masa kecil. Semenjak Alin pindah rumah mereka tidak pernah bertemu atau berkomunikasi lagi.
"Lo gak kangen sama gue? 10 tahun loh kita gak ketemu," Reynand merentangkan tangannya.
Alin pun menghambur dalam pelukan Reynand. "Kaka masih ingat sama Alin?" tanya Alin terharu.
"Mana mungkin gue lupa, bakhan saat pertama lo masuk kampus ini gue udah tau," Reynand melepas pelukannya kemudian memegang bahu Alin.
"Kenapa gak pernah sapa Alin?"
"Sengaja, gue pengen lo yang cari gue. gue udah capek cari-cari lo selama 10 tahun ini," tutur Reynand.
"Alin sampe pangling, kaka udah banyak berubah," puji Alin
"Iya dan lo gak banyak berubah, bahkan tinggi lo hanya bertambah beberapa centi semenjak pertemuan terakhir kita." ledek Reynand. Alin hanya memiliki perawakan mungil yaitu tinggi 160 cm dan berat 45 kg saja.
Merekapun berbincang sebentar sebelum akhirnya berpisah kembali karena kegiatan masing-masing tak lupa mereka bertukar nomer ponsel.
***
Sudah pukul 7 malam Keenan menunggu Alin yang belum juga pulang sedangkan supirnya sudah sejak tadi siang berada di rumah. beberapa kali Keenan mengirim pesan dan menelpon tapi tidak ada jawaban dari Alin.
"Dari mana saja kamu?" tanya Keenan yang melihat Alin baru saja pulang.
"Bukan urusan Mas," jawab Alin cuek kemudian hendak masuk kedalam kamar.
"Alin, saya belum selesai bicara," panggil Keenan tak kalah dingin.
Alin menghela napas "Ada apa lagi sih mas?"
"Sudah jam berapa ini kenapa baru pulang? setidaknya kasih kabar dulu agar saya tidak khawatir,"
"Kabar? lalu apa kabar mas gak pulang semalaman dari tempat tante Laura, apa mas kasih kabar ke Alin? Mas gak tau kan kalau Alin nungguin semalaman?" Alin menumpahkan kekesalannya.
"Saya tidak menginap di tempat Laura," bantah Keenan.
"Memangnya Alin percaya?" Alin kemudian pergi meninggalkan Keenan.
Keenan memang belum sepenuhnya menerima pernikahan ini dan juga Alin sebagai istrinya. Jauh dari lubuk hatinya dia masih sangat mengharapkan Laura yang menjadi pendamping hidupnya. Tapi di satu sisi kini dirinya sudah terbiasa hidup bersama Alin walau baru dalam hitungan hari sikap Alin yang konyol dan kadang menyebalkan selalu membuatnya tertawa melupakan sejenak beban pikirannya. Juga dia merasa tidak terima saat Alin mengacuhkannya. Keenan sadar dia sangat egois saat ini.
"Dasar egois, Di bahkan semalaman nginep di tempat pacarnya gak kasih kabar apapun, " gerutu Alin.
Saat Keenan dan Alin tengah menikmati makan malam tiba-tiba ada yang memencet bell rumahnya.
"Siapa malam-malam bertamu?" gumam Keenan karena tidak banyak orang yang tahu alamat rumah barunya hanya kedua orangtua dan sahabatnya.
"Biar bibi yang buka," ucap Bi Atin kemudian pergi membuka pintu.
"Permisi Den, ada yang cari Den Keennan," ucap Bi Atin setelah membuka pintu.
"Siapa bi?"
"Maaf bibi lupa tanya," Bi Atin memang ART baru hingga dia tidak tahu semua anggota keluarga Keenan dan juga orang-orang tertedaktnya berbeda dengan Bi Inah yang sudah kurang lebih 4 tahun bekerja di rumah utama Keenan.
"Selamat malam sayang," sapa Laura tidak tahu malunya.
"Laura? ngapain kesini?" tanya Keenan heran.
Alin melihat Laura dengan tidak suka, dia mendadak kehilangan selera makannya.
"Gak boleh memangnya kalau aku kesini? bukannya ini rumah yang sudah kamu siapkan untuk kita?" ucap Laura dengan angkuhnya. "Hey bukannya kamu anak kecil yang waktu itu? ngapain di sini?" tanya Laura yang melihat Alin duduk di meja makan. "Oh apa jangan-jangan kamu? Hahah bisa-bisa nya kamu nikah sama anak kecil kaya dia sayang," ucap Laura dengan nada mengintimidasi.
"Laura," tegur Keenan.
"Tante, denger ya walaupun aku masih kecil tapi aku punya rasa tanggung jawab gak kaya tante," balas Alin kesal. "Tolong ya kalau bertamu ke rumah orang itu yang sopan."
"Ken ayo kita bicara,"
Kenan melirik ke arah Alin.
"Bicara aja mas, ajari pacarmu itu agar mulutnya tidak julid," Alin kemudian meninggalkan mereka di meja makan.
"Dasar tante girang gak tahu malu," gerutu Alin. Dia kembali merasakan sesak dalam dadanya.
"Ken," panggil Laura yang melihat Keenan hanya terdiam.
"Kita bicara lain kali saja,"
"Sayang, Kamu sudah berubah, apa kamu sudah gak cinta lagi sama aku? Apa kamu sudah melupakan kebersamaan kita selama lima tahun ini?"
"Cukup Laura, saat ini aku tidak sedang ingin membicarakannya, Aku butuh waktu untuk sendiri, tolong jangan egois lebih baik kamu pulang."
Laura kesal dia merasa Keenan sedang mengusirnya saat ini. "Oke kalau itu mau kamu, tapi asal kamu, aku tidak akan berhe ti sampai kamu kembali seperti dulu lagi," ucap Laura kemudian pergi dari rumah Keenan.
" Saya tidak tahu kalau dia akan datang," ucap Keenan memasuki kamar Alin.
"Alin gak perduli, itu urusan pribadi Mas Alin gak mau ikut campur, bukan begitu yang mas mau?" Alin kemudiam merebahkan tubuhbya di atas kasur. "Alin mau tidur tolong mas keluar,"
Jangan lupa like dan komen.
Style Alin yang tomboy namun masih terlihat sangat imut.