My Little Bride

My Little Bride
Bali



Mereka berjalan menapakkan kaki di pasir putih, berhiaskan langit senja berwarna jingga yang memancarkan warna senada pada airnya. Alin dan Keenan berjalan bergandengan di tengah bisingnya deburan ombak di lautan.


Alin memungut sebuah ranting kemudian menuliskan nama Keenan di atas pasir namun, tak lama tulisan itu hilang tersapu oleh ombak. Tak menyerah Alin menuliskan nama Keenan kembali di pasir dan lagi-lagi hilang tersapu ombak.


Keenan mengambil ranting tersebut dari tangan Alin. "Sayang... Percuma mau tulis seribu kali pun tulisannya akan tetap hilang,"


"Balikin mas!" Alin hendak mengambil kembali ranting tersebut namun Keenan mengangkatnya tinggi-tinggi.


Keenan meledek Alin ia menjulurkan lidah nya ke arah istrinya. "Ayo ambil kalau bisa," kemudian mengangkat lebih tinggi lagi rantingnya.


Alin berusaha mengambil ranting tersebut namun apalah daya tingginya hanya 160 cm sementara Keenan 185 cm, Ia tak bisa mengambil ranting tersebut dari tangan Keenan.


Alin berjinjit sambil mengangkat kepalanya, tangannya mencoba meraih ranting di tangan Keenan.


Cup...


Tanpa permisi Keenan mengecup bibir Alin sekilas. Seketika Alin terdiam, harusnya ia tak tertipu akal bulus Keenan yang sedari tadi mencari-cari kesempatan. "Buang aja Mas.. rantingnya masih banyak," Alin tertawa sambil berlari menjauhi Keenan kali ini dia tak mau tertipu lagi.


"Sayang!" Panggil Keenan berlari menyusul Alin.


Kini giliran Alin yang meledek Keenan. "Ayo kejar kalau bisa,"


Tak butuh waktu lama bagi Keenan untuk mengejar Alin mengingat postur tubuhnya yang tinggai sehingga mempunyai langkah yang panjang.


Keenan langsung memeluk Alin dengan erat tak ingin istri kesayangannya itu berlari lagi.


Tak terasa hari mulai gelap mereka memutuskan untuk dinner terlebih dahulu sebelum kembali ke villa.


Restauran seafood menjadi pilihan mereka. Apalagi Alin sangat menyukai seafood. Keenan dengan senang hati menuruti apapun yang Alin minta.


Setelah perut mereka terisi kenyang akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke Villa. Karena malam semakin larut dan juga sudah cukup lelah hari ini.


Begitu sampai villa Alin segera membersihkan diri ia merasa tak nyaman karena badannya terasa lengket terkena air laut tadi. Walau tidak banyak hanya berupa percikan saja. Sementara Alin mandi Keenan memindahkan baju dari koper ke lemari.


Setelah Alin keluar dari kamar mandi kini Keenan bergantian membersihkan diri.


Alin membuka lemari menimbang-nimbang apakah dirinya akan memakai pemberian mama Vero atau tidak. Tangan Alin perlahan mengambil satu lingerie walau dengan ragu dia mencobanya.


Alin menatap tubuhnya di cermin. Tak seperti kebanyakan wanita yang merasa bangga melihat tubuh seksinya Alin justru merasa malu.


Ceklek...


Tiba-tiba Keenan membuka pintu kamar mandi. Ia begitu tertegun melihat Alin berpenampilan seksi dengan lingerie berwarna hitam yang dikenakannya.


Spontan Alin menyilangkan kedua tangan di atas dadanya. "Aku ganti aja ya Mas," kemudian Ia hendak membuka lemari.


"Jangan!" cegah Keenan cepat kemudian segera menghampiri Alin. "Mas suka," ucapnya kemudian.


Alin menundukkan kepalanya karena masih kurang percaya diri.


"I love you sayang," Bisik Keenan lembut di telinga Alin.


Bak tersengat aliran listrik, sekujur tubuh Alin terasa merinding saat Keenan membisikkan kata-kata manis.


"I love you to," jawab Alin tersenyum memandang wajah Keenan.


Kemudian Keenan mengangkat tubuh Alin ke atas ranjang.


***


Selain terkenal dengan wisata lautnya ternyata Bali juga terkenal dengan beberapa bukit yang indah. Alin begitu penasaran dengan bukit yang beberapa waktu terakhir viral di media sosial. Ia pun mengajak Keenan untuk pergi Ke sana. Walaupun perjalanan dari Villa menuju bukit terbilang cukup jauh tetapi Keenan tidak merasa keberatan.


Mata Alin berbinar menatap pemandangan hijau nan asri di hadapannya. Udaranya yang sejuk membuat Alin betah berlama-lama. "Bagus banget pemandangannya. Coba di ibu kota ada tempat kaya gini," ucap Alin kagum.


"Sepertinya kita harus menambah masa honey moon," ucap Keenan.


Alin mengacungkan kedua jempol pertanda setuju "Ide bagus,"


"Ayo foto Mas," Alin mengambil ponsel dan mengajak Keenan berfoto bersama.


Hamparan bunga liar juga menambah indah pemandangan. Keenan memetik segenggam bunga liar kemudian memberikannya kepada Alin.


Dengan senang hati Alin menerimanya. "Makasih Mas,"


Keenan mengangguk. "Habis ini mau kemana?" tanya kemudian.


"Terserah Mas aja deh.. Aku nggak tahu daerah sini kalau bukan tau dari sosial media," jawab Alin jujur. Dulu ayahnya memang pernah mengajak Alin liburan ke Bali tapi waktu ia masih sangat kecil.


"Kita pikiran lagi nanti, sekarang kita nikmati pemandangan di sini," Keenan merangkul Alin dalam pelukannya.


Tidak banyak pengunjung bukit hari itu mungkin hanya beberapa orang saja. "Tempat bagus gini tapi kok enggak banyak orang datang ya?" Tanya Alin memperhatikan sekitar.


"Mungkin belum banyak yang tahu tempat ini, atau memang mereka lebih senang liburan ke pantai," tebak Keenan.


"Iya juga," Alin membenarkan kan.


Matahari mulai terik Keenan dan Alin memutuskan untuk turun dari bukit kemudian mencari tempat beristirahat.


***


Jam makan siang tiba, Kali ini Keenan mengajak Alin untuk makan si restauran milik teman Keenan.


Sebelumnya Keenan telah mengabarkan pada temannya akan berkunjung sekalian makan siang. Tentu saja kedatangan mereka di sambut hangat oleh teman Keenan sekaligus pemilik restauran.


"Selamat datang bro! Lama tak jumpa, bagaimana kabarnya?" Pria itu memeluk Keenan.


"Ah iya sepertinya sudah lebih dua tahun, Kabar baik." Keenan menepuk bahu pria itu.


"Maaf waktu resepsi pernikahanmu aku nggak bisa hadir. Ini istrimu?" Tanya pria itu melirik Alin.


"Tidak apa-apa. Iya Kenalkan ini istriku," Keenan merangkul bahu Alin.


"Wildan" Pria itu mengulurkan tangannya pada Alin.


"Alin," jawab Alin mengangguk sopan menerima jabat tangan pria tersebut.


"Ya sudah ayo masuk, Tania sudah siapkan makanan spesial buat kalian," Wildan mengajak mereka ke ruangan VIP. Dan istrinya telah menyiapkan makanan spesial untuk mereka.


"Sayang... Keenan sudah datang," Panggil Wildan pada istrinya.


"Hai Keenan.. Apa kabar?" sapa Tania ramah. mereka memang satu angkatan waktu kuliah jadi sudah mengenal satu sama lain. "Oh iya di mana Laura?" Tania mencari sosok Laura.


"Aku tidak datang bersama dia," jawab Keenan.


"Bukannya kalian sudah menikah? Waktu pacaran saja kalian sering liburan bersama," Tania tertawa.


Spontan Wildan menyikut lengan Tania. "Sayang ini istrinya Keenan," Wildan menunjuk Alin yang berdiri di samping Keenan.


Tiba-tiba Tania terdiam ia menjadi tak enak hati "Ya Ampun maaf, Hai Aku Tania," Tania mengulurkan tangannya pada Alin.


"Alin," jawab Alin menjabat tangan Tania.


Keenan menyadari perubahan wajah Alin saat Tania menyebut nama Laura. Dan kini Keenan mulai resah Keenan takut malam ini tak berjalan mulus seperti semalam.


-


-


-


Jangan lupa like dan komen.


Bonus visual Keenan dan Alin...