
Benar saja suasana hati Alin berubah kacau saat Tania tak sengaja menyebut nama Laura beberapa kali sepanjang percakapan siang itu. Setelah selesai makan siang Alin meminta untuk pulang ke Villa.
"Yakin mau langsung pulang ke villa?" tanya Keenan saat memasuki mobil.
Alin hanya mengangguk.
"Emm bagus juga.. Jadi kita punya lebih banyak waktu di kamar," ucap Keenan bersemangat kemudian melajukan mobilnya.
Tak ada tanggapan dari Alin. Wanita itu hanya menatap kosong ke arah luar jendela.
"Mas?!... " panggil Alin kemudian.
Keenan yang awalnya fokus pada jalanan segera mengarahkan pandangannya ke arah Alin. "Ya, kenapa sayang?"
"Mas dulu sering ya liburan bareng sama tante Laura?" tanya Alin kemudian.
Keenan hanya diam karena takut salah bicara. Ternyata benar jika wanita selalu penasaran terhadap mantan sang pria. Padahal semua itu hanya bagian dari masa lalu.
"Nggak mau jawab?" Alin melayangkan tatapan tajam.
"Ya engga sering juga," Keenan garuk-garuk kepala tak gatal.
"Tadi kata mbak Tania sering," Sindir Alin.
"Dulu kan memang kita jarang ketemu jadi paling ketemu kalau liburan aja," Jawab Keenan ragu-ragu.
Alik sadar mengorek masa lalu suaminya hanya akan membuatnya sakit hati. Tapi entah mengapa dia begitu penasaran. Padahal dulu dia tak perduli dengan masa lalu Keenan dengan Laura.
"Ya udah kita juga LDR aja biar aku sering di ajak liburan juga," ucap Alin konyol.
"Jangan sayang... Mas nggak bisa jauh-jauh dari kamu," ucap Keenan pacaran
"Alah paling Mas bilang gitu juga sama tante Laura dulu," timpal Alin.
"Ya itu kan cuman masa lalu... Mas sudah kubur jauh-jauh kenangan masa lalu. Sekarang Mas hanya fokus sama kamu dan masa depan kita," ucap Keenan mengelus lengan Alin.
Alin hanya terdiam, Cemburu nya memang tak beralasan. Tapi entah mengapa ia tak suka jika orang-orang menyebut nama Laura di depannya.
Setelah sampai villa Alin segera masuk ke dalam kamar. Ia memilih untuk mandi dan berendam di air hangat untuk merilekskan badan dan pikirannya.
Sementara Keenan mencari cara untuk membujuk Alin. Keenan berdiri di balkon kamar. namun, pikirannya tiba-tiba teringat tentang Laura.
Bagaikan pun juga mereka punya banyak kenangan manis di tempat ini. Apalagi hubungan mereka tidaklah sebentar.
Keenan segera menepis bayangan tentang Laura, tapi semakin di lupakan bayangan itu semakin nyata.
Alin yang baru saja keluar mandi segera berpakaian dan sedikit berdandan. Matanya mencari sosok Keenan. Setelah di fikir- fikir tak ada gunanya juga ia marah pada Keenan. Entah mengapa rasa cemburu itu datang begitu saja.
Melihat Keenan yang sedang duduk melamun di balkon membuat Alin segera menghampiri nya. "Mas?!" panggil Alin menepuk bahu Keenan.
"Ya Laura," nama itu tiba-tiba saja keluar dari bibir Keenan.
Alin yang tadinya ingin meminta maaf pun mengurungkan niatnya. Ia hanya mendelik kemudian meninggalkan Keenan.
"Astaga!," gumam Keenan kemudian segera menyusul Alin. "Sayang?!" panggil Keenan kemudian.
Tidak ada tanggapan dari Alin. Ia memilih untuk keluar dari kamar.
"Mau kemana?" tanya Keenan meraih tangan Alin.
"Beri aku waktu sendiri Mas," Alin menepis tangan Keenan.
"Kenapa keceplosan sih!" Keenan mengacak rambut frustasi.
***
Alin sedang duduk melamun di pinggir kolam. Tiba-tiba ponselnya berdering. Tertera nama Mama Vero di layar dengan segera Alin menjawabnya. "Hallo Ma?" begitu panggilan terhubung.
"Enggak kok Ma, Alin lagi di kolam renang sendiri,"
"Keenan di mana?"
"Sepertinya di kamar," jawab Alin, nada bicaranya terdengar malas.
"Kenapa berantem?" sindir Mama Vero tertawa meledek.
"Mama.. Alin lagi kesel, masa Mas Keenan salah manggil Alin jadi Laura," Alin mengadu. Selama ini Alin memang selalu cerita apapun pada Mama Vero tidak ada batasan lagi antara mereka. Keakraban mereka layaknya seorang ibu dan anak.
"Benar-benar itu anak. Biar Mama Marahin Ken," Mama Vero ikut kesal saat mendengar cerita Alin.
" Jangan Ma!" tolak Alin segera.
"Sayang kamu harus hapus kenangan Laura dan Ken di Bali, jangan sampai Ken mengingat lagi tentang Laura. Pokoknya kamu harus beri kesan yang tak terlupakan oleh Ken" ucap Mama Vero bersemangat.
Alin menautkan kedua alisnya. "Gimana caranya?" tanya nya kemudian.
"Kamu ikuti aja tips dari Mama," Kemudian Mama Vero memberi masukan-masukan dan nasehat pada Alin. "Ya sudah Mama tutup dulu ya sayang? Di coba tips dari Mama, di jamin berhasil," Mama Vero terkekeh.
"Iya Ma," jawab Alin singkat, kemudian panggilan terputus.
***
Setelah selesai makan malam mereka masuk ke kamar. Namun, tidak ada percakapan di antara mereka. Keenan belum berani berbicara pada Alin setelah kejadian tadi.
Keenan mengecek ponsel dan ada beberapa email masuk mengenai urusan kantor. Jika dalam keadaan normal mungkin dia akan mengumpat pada sekertaris nya karena mengirim pekerjaan tak mengenal waktu apalagi pada saat mereka bulan madu. Berhubung keadaan sedang tidak baik maka bekerja bukanlah ide yang yang buruk dari pada ia harus mati kutu di hadapan Alin.
"Sayang.. Ada kerjaan penting, Mas selesaikan dulu di balkon sebentar ya? ," Keenan menenteng laptop dan berjalan menuju balkon.
Alin hanya mengangguk, sebenarnya ia tengah bimbang harus mengikuti saran Mama Vero atau tidak.
Alin mulai membuka lemari, Ia langsung bergidik melihat lingerie yang tersusun rapi karena baru satu yang terpakai.
Ia memilih memakai gaun warna merah yeng memiliki belahan dada rendah dengan punggung yang terbuka. Sudah bisa di pastikan itu pilihan Keenan karena memang hanya Keenan yang packing baju.
Tak lupa ia menyemprotkan wewangian dan juga memoles bibirnya dengan lipstik dengan warna merah senada dengan gaun.
Sebelumnya Alin telah meminta Bi Marni penjaga vila untuk mengantarkan kopi ke kamar.
"Kalau ini nggak berhasil Mama harus tanggung jawab" Gumam Alin sambil melangkah ragu membawa secangkir kopi.
"Mas?!" panggil Alin meletakan secangkir kopi kemudian duduk di samping Keenan. "Masih banyak kerjaannya?" tanya Alin kemudian mengelus punggung Keenan perlahan.
Keenan menelan ludah memperhatikan penampilan Alin dari atas sampai bawah. "Udah selesai sayang," ucap Keenan segera melipat laptopnya.
"Lanjut aja.. Aku cuma bawain kopi," Ucap Alin tersenyum menggoda.
Keenan memang terpesona dengan penampilan Alin yang cantik dan seksi malam ini. Tapi ia sedikit bingung kenapa tiba-tiba saja Alin bersikap baik, membuatnya over thinking.
Apa Alin memasukkan racun ke dalam kopinya? atau mungkin dia menyembunyikan pisau di balik punggungnya? seperti adegan-adegan di film yang ia tonton.
"Di minum kopinya nanti keburu dingin," Alin menyodorkan cangkir pada Keenan.
Keenan mengangguk kemudian mulai menyesap kopi tersebut.
-
-
-
Jangan lupa like dan Komen