
Hari demi hari berganti, setiap hari Alin hanya menghabiskan waktu di rumah dengan menonton film disney dan juga drama Korea. Ia juga tidak bisa sering-sering keluar bersama para sahabatnya karena mereka tengah sibuk dengan tugas kuliah yang menumpuk. Dan Keenan tentu saja sibuk bekerja dan hanya bisa libur saat weekend saja.
Tetapi ada yang berbeda dengan hari ini tidak seperti biasanya Keenan pulang lebih cepat. Waktu menunukan pukul 10 pagi dan Alin yang sedari pagi hanya bermalas-malasan belum sempat mandi.
Alin yang dalam posisi nyaman rebahan segera bangun ketika melihat Keenan tiba-tiba masuk kamar. "Mas kok udah pulang?" tanya Alin panik.
Keenan menelisik penampilan Alin yang belum berubah sejak tadi dia berangkat. "Belum mandi?"
Alin tersenyum memeperlihatkan deretan giginya. "Belum.... Lagian kan nggak ke mana-mana, Mas juga nggak ada di rumah," jawab Alin cengengesan. "Oh iya kok tumben pulang jam segini? Ada yang ketinggalan?" Alin mengerutkan keningnya.
Keenan mengeluarkan sesuatu dari tas nya. "Kita mau pergi honey moon," Keenan tersenyum nakal.
Alin meraih benda itu dari tangan Keenan. "Kok mendadak?" Bukannya senang Alin malah cemberut.
"Mas juga dapatnya mendadak. Ini hadiah dari Mama," ucap Keenan jujur.
"Aku belum persiapan," Rengek Alin.
"Persiapan apa? Kamu hanya perlu membawa badan kamu," Keenan tersenyum meledek Alin.
Alin refleks mencubit perut Keenan.
"Ya sudah sana mandi.. Biar Mas yang packing, Nggak usah terlalu barang karena kita mau liburan bukan pindahan," Keenan mulai membuka lemari.
"Tapi Mas pilihin baju nya yang bener ya," Alin mewanti-wanti.
"Iya sayang... Yaudah mandi nanti kita telat," Keenan gemas karena istrinya itu terlalu banyak protes.
Alin pun segera mandi sementara Keenan sibuk packing. Setelah Keenan hampir selesai packing tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Dan ternyata itu Bi Inah. "Maaf Den.. ini barusan ada kiriman dari Ibu Vero," Bi Inah memberikan sebuah paper bag pada Keenan.
Keenan menerimanya. "Terimakasih Bi," Ia tersenyum saat mengintip isi dari paper bag tersebut kemudian segera memasukannya ke dalam koper tanpa membukanya terlebih dahulu.
Alin baru keluar kamar mandi "Itu apa Mas?" Alin menahan lengan Keenan yang hendak menutup koper.
"Itu kiriman dari mama," jawab Keenan.
"Isinya apa?" Tanya Alin penasaran.
"Nanti saja kita lihat isinya kalau sudah sampai sana," Keenan sengaja tak memberi tahu agar Alin semakin penasaran.
Setelah semua selesai akhirnya mereka berangkat ke bandara di antar oleh Mang Didi. Bali di pilih Mama Vero untuk Keenan dan Alin menghabiskan waktu berdua.
Kurang lebih dua jam perjalan akhirnya mereka sampai di Bali. Dan ternyata di sana mereka sudah di jemput oleh sopir. Mama Vero nampaknya telah mempersiapkan semuanya dengan matang.
Mama Vero juga telah menyiapkan Villa mewah milik keluarganya untuk mereka menginap. Ia memang sengaja memilih Villa dibanding Hotel agar lebih nyaman dan leluasa apalagi ini villa milik kakek Keenan.
Alim berdecak kagum melihat seisi Villa, di tambah lagi dengan view yang menghadap langsung ke laut. "Bagus banget Mas tempatnya," Alin tak henti menatap kagum pemandangan di depan matanya.
Namun justru itu malah membuat Keenan menjadi sedih. Karena selama ini ia belum pernah mengajak Alin liburan. Waktu itu sempat dia merencanakan bulan madu namun, harus tertunda karena Alin sedang hamil. "Maaf Mas belum pernah ajak kamu liburan," Keenan mengelus puncak kepala Alin.
Alin langsung memeluk Keenan. "Nggak apa-apa kok Mas.." ucapnya sambil tersenyum manis.
"Ya sudah kita istirahat dulu," Ajak Keenan menuntun Alin masuk ke dalam kamar.
Keenan tampak tidur terlelap mungkin karena kelelahan. Sedangkan Alin, ia tak bisa memejamkan matanya kemudian ia pergi ke balkon untuk melihat pemandangan di sekitar sana.
kemudian Alin teringat anaknya yang sudah meninggal. "Kalau anakku masih ada usianya mungkin sudah 5 bulan. Sedang lucu-lucunya," gumam Alin dalam hati.
Semenjak sang anak meninggal Alin memang menjadi lebih pendiam tidak se cerewet dan seceria dulu. Luka di hatinya terlalu dalam hingga sulit baginya menata kembali kehidupan nya seperti biasa lagi walaupun ia terus mencoba setiap harinya.
Tiba-tiba saja sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang. "Kok enggak tidur?" Bisik lembut Keenan di telinga Alin.
Kedua tangan Alin menggenggam tangan Keenan yang tengah melingkar di perutnya. "Nggak ngantuk Mas,"
"Ya sudah mandi dulu... nanti kita jalan-jalan sekalian dinner," Keenan mengajak Alin masuk kembali kedalam kamar namun tidak mengubah posisi mereka yang tengah berpelukan.
"Oh iya Mas.. kiriman dari Mama tadi apa?" tanya Alin begitu penasaran sedari tadi. Bahkan saat di pesawat Alin sampai kepikiran kiriman itu.
"Yaudah kita lihat," ucapnya tersenyum mencurigakan.
Keenan mulai mengambil koper kemudian membukanya.
"Yakin mau lihat isinya?" Keenan mengambil paper bag tersebut kemudian mengintipnya.
"Iya.. Sini coba lihat," Alin hendak mengambil benda tersebut tetapi Keenan menjauhkannya.
"Nanti malam aja deh lihatnya," Ledek Keenan.
"Mas ihh... " Rengek Alin sambil cemberut.
"Mas kasih clue ya.. Ini isinya baju dinas," Ucap Keenan terkekeh.
"Daster?" Jawab Alin spontan.
Keenan tertawa mendengar jawaban Alin kemudian membayangkan Alin memakai daster. Karena memang selama ini Alin tak pernah memakai daster bahkan di saat hamil dulu ia lebih sering memakai dress maupun celana yang longgar dan nyaman ketimbang daster.
"Iya daster," Jawab Keenan menahan tawa.
"Nggak percaya kalau belum lihat sendiri," Alin kemudian mengambil paper bag itu dari tangan Keenan. Awalnya Alin hanya mengintip isi dari paper bag tersebut. namun ia tak mengerti benda apa yang ada di dalamnya. Kemudian ia mengeluarkan semua isi dari paper bag tersebut.
Dan ternyata isinya beberapa stel lingerie dengan berbagai warna. Alin menelan ludah melihat benda tersebut selama hidupnya ia tak pernah benda tersebut.
Sementara Keenan hanya garuk-garuk kepala tak gatal. Dalam hatinya bersorak sang Mama memang tahu apa yang dia butuhkan.
"Serius ini di pakai? Nanti masuk angin dong, " celetuk Alin polos sambil mengangkat lingerie berwana merah maroon di hadapannya.
"Nggak di pake juga enggak masalah, Mas lebih senang kamu polosan gak pake apa-apa," Keenan tertawa melihat raut wajah Alin yang bingung. Mereka sudah lebih setahun menikah tapi tingkah Alin masih polos dan malu-malu.
Alin bergidik membayangkan dirinya memakan baju transparan tersebut. "Ya udah aku pikir-pikir dulu," Kemudian ia memasukkan kembali lingerie tersebut kedalam paper bag.
Setelah mandi dan berganti pakaian Keenan mengajak Alin berjalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati sunset di sore hari.
-
-
-
Jangan lupa like, komen dan vote ya...