
Di tengah tidurnya yang nyenyak terdengar suara getar ponsel beberapa kali yang membuat Keenan terbangun. Ia melihat sekilas ponselnya dan terlihat 3 panggilan tak terjawab dari nomor yang tidak di kenal, awalnya Keenan mengabaikan panggilan itu namun setelah membaca pesan yang mengabarkan kalau Mama Vero masuk rumah sakit Keenan segera menelpon balik nomor tersebut.
Begitu panggilan terhubung terdengar suara seorang wanita yang begitu panik. Mungkin salah satu ART di rumah pikir Keenan kemudian segera berganti pakaian.
Keenan memandangi Alin yang masih tertidur pulas. Ia tidak tega untuk membangunkan Alin namun juga tidak mungkin pergi tanpa pamit. "Mau kemana mas?" Tanya Alin Tiba-tiba terbangun.
"Baru aja mas mau bangunin kamu. Mau ke rumah sakit, mama masuk rumah sakit,"
"Alin ikut mas,"
Sebenarnya Keenan ingin mengajak Alin tapi ini sudah larut malam dan Alin juga terlihat kelelahan. Keenan membelai lembut rambut Alin "Besok aja ya, ini sudah malam kamu pasti capek,"
"Alin antar ke depan ya?"
Keenan merebahkan tubuh Alin kemudian menyelimuti nya. "Lanjutin aja tidurnya biar Bi Inah yang kunci pintu," Sebenarnya Keenan juga khawatir melihat wajah Alin yang sedikit pucat. Alin memang tidak pernah mengeluh tapi Keenan cukup peka terhadap kondisi istrinya.
"Yasudah hati-hati di jalannya. Kabarin kalau sudah sampai," Entah kenapa Alin seperti tidak rela di tinggalkan oleh Keenan.
"Iya sayang, mas pergi dulu," Tak lupa Keenan mencium kening Alin sebelum pergi.
***
"Bagaimana kondisi Ibu saya Dok?" Tanya Keenan kepada seorang dokter yang sedang menangani Mama Vero.
"Kami sudah melakukan pertolongan pertama dan pasien telah sadar dari pingsan tapi untuk mengetahui kondisi lebih lanjut kami harus melakukan observasi terlebih dahulu. Silahkan selesaikan administrasi dahulu untuk mendapat kamar rawat inap. besok pagi Dokter spesialis akan melakukan CT scan untuk mengetahui diagnosa lebih lanjut," jelas Dokter tersebut.
"Baik terimakasih Dok," Keenan sedikit lega mendengar Mama Vero telah siuman namun masih sangat khawatir karena Dokter belum bisa memastikan penyakit apa yang di derita oleh ibunya.
Keenan segera menyelesaikan administrasi agar Mama Vero segera mendapatkan kamar rawat inap. Tak lupa ia menghubungi Papa Wira dan juga Alin.
Keenan meraih tangan Mama Vero yang kini terpasang selang infus. "Yasudah Mama istirahat ya, Keenan sudah hubungi Papa katanya beliau sedang di perjalanan pulang."
"Iya Ken," jawab Mama Vero lesu.
Keenan melirik Julia yang masih setia menemani sejak tadi. "Sebaiknya kamu pulang Jul, biar aku yang jaga Mama. Terimakasih sudah mengantar Mama ke rumah sakit maaf sudah merepotkanmu,"
"Kalau boleh aku ikut jaga ya Kak, aku sangat khawatir sama kondisi tante Vero," Sebenarnya bukan karena khawatir namun ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk dekat dengan Keenan.
"Enggak usah Jul, lebih baik kamu istirahat di rumah," Keenan menolak dengan halus.
"Ken, biarin aja Julia di sini dulu, lagian ini sudah dini hari Mama Khawatir dia kenapa-kenapa di jalan kalau pulang sendirian," bujuk Mama Vero.
"Yasudah terserah," jawab Keenan terpaksa.
***
"Neng Alin lagi sakit ya?" Tanya Bi Inah khawatir.
Alim memegang dahinya sendiri karena dirasa dirinya baik-baik saja tidak merasakan demam atau semacamnya. "Enggak kok Bi Alin sehat-sehat aja," Namun, matanya tak henti mengawasi pintu.
"Tapi Neng Alin kelihatan pucat banget," Bi Inah ikut menyentuh dahi Alin untuk memastikannya.
"Alin belum pakai lipbalm kali makanya kelihatan pucat, Mas Keenan belum pulang ya Bi?" sebenarnya itu adalah pertanyaan bodoh tanpa ia tanya pun sudah tau jawabannya tapi Alin sangat penasaran.
"Belum Neng, Kalau lagi kasmaran gak ketemu semalam aja serasa sebulan ya," Ledek Bi Inah.
"Bibi bisa aja, tapi itu Bi Inah kok bisa betah LDR sama suami dan anak?" tanya Alin penasaran karena benar kata bi Inah sepertinya sekarang Alin tidak bisa jauh dari Keenan.
"Ya gimana lagi Neng bukannya betah namanya juga butuh, di kampung susah sekali cari pekerjaan paling mentok ke sawah sama jualan gorengan itupun hasilnya gak seberapa," jawab Bi Inah tertawa namun terlihat jelas kerinduan yang mendalam kepada keluarganya.
Bi inah memang pernah cerita kalau dia dan suaminya pergi merantau untuk bekerja sedangkan kedua anaknya di titipan kepada Ibunya.
"Maafin Alin ya Bi," Alin merasa bersalah kemudian memeluk Bi Inah.
"Gak apa-apa kok Neng. Lagian 3 bulan sekali Den Keenan selalu suruh bibi pulang kampung biar bisa ketemu suami dan anak-anak, oh iya Neng Alin gak pergi ke kampus?" tanya Bi Inah melirik jam dinding.
"Ke kampus kok bi, Alin mandi dulu. Tolong sarapannya di bungkusin aja ya Bi sekalian Alin mau ke rumah sakit dulu takut Mas Keenan masih repot," Alin bergegas naik Ke kamar.
Beberapa kali Alin mengecek ponsel menunggu kabar dari Keenan. Dan benar saja Keenan belum bisa pulang saat ini karena masih harus menunggu hasil diagnosis Dokter dan Papa Wira juga belum sampai di Ibu kota.
Sampailah Alin di depan ruangan yang Keenan sebutkan tadi di telpon. Sebenarnya dia sedikit ragu untuk masuk ia hanya takut keberadaannya malah mengganggu istirahat Mama Vero.
Alin mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya mengetuk dan membuka pintu. Dan tidak di sangka ternyata Julia berada di sana. Terlihat Julia duduk di sisi kanan Mama Vero memegangi mangkuk dan juga sendok tengah menyuapi Mama Vero sedangkan Keenan duduk di sisi kiri sedang membujuk Mamanya.
"Maaf Alin mengganggu," ucap Alin sopan kemudian masuk dan meletakan keranjang buah dan juga kotak bekal untuk Keenan.
"Sayang," Panggil Keenan tersenyum kemudian segera berjalan ke arah Alin.
"Bagaimana kondisi Mama?" tanya Alin sedikit canggung.
Tidak ada jawaban dari Mama Vero. "Mama sudah lebih baik dari semalam. Setelah ini baru akan di lakukan pemeriksaan lebih lanjut," jawab Keenan.
Benar saja kehadiran Alin tidak di sambut baik oleh Mama Vero. Dia malah asyik mengobrol dengan Julia.
"Alin pamit ke Kampus dulu ya Ma," pamit Alin tak lupa ia mencium tangan Mama mertuanya. Meskipun Mama Vero tidak ramah kepadanya Alin tetap menghormati dan bersikap sopan.
Keenan mengantar Alin sampai ke depan pintu.
"Tante Julia kok ada di sini?" Pertanyaan yang sedari tadi ingin ia tanyakan kepada Keenan.
"Semalam Julia yang bawa Mama Ke rumah sakit,"
"Jadi tante Julia nginep di sini juga? Semalaman sama Tante Julia? " Tanya Alin kesal.
Keenan mengangguk. " Jangan salah paham ya sayang, Ini hanya karena keadaan mendesak saja." Keenan memeluk Alin untuk menenangkannya. ternyata benar wanita bisa memendam rasa cinta selama bertahun-tahun tapi tidak bisa menahan cemburu walau hanya untuk sesaat.
"Enggak kok. Yasudah Alin berangkat ke kampus dulu. Mas juga jaga kesehatan jangan lupa sarapannya di makan," Kemudian Alin pamit.
Keenan seperti berat melepas Alin pergi. "Maaf Mas gak bisa antar,"
"Mama lebih penting sekarang," jawab Alin menenangkan Keenan.
Bukan Alin tak cemburu melihat Keenan berada di ruangan yang sama dengan waktu yang lama bersama Julia. Terlebih Julia secara terang-terangan menyukai Keenan. Tapi di sini dia harus membuang egonya, Alin lebih memilih mempercayai suaminya. Apalagi menyangkut dengan Ibu kandung Keenan, Selama ini Alin belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu untuk itu ia tak mau Keenan mengecewakan Ibunya. Karena Ibu adalah adalah malaikat dan juga surga untuk anak-anaknya.
***
"Lin, lo hari ini keliatan lemes banget deh, muka lo pucat. Lagi sakit ya?" tanya Della sedikit khawatir melihat Alin sedari pagi sudah terlihat murung.
"Lo orang ke seribu yang bilang gitu, gue gak apa-apa kok. cuman lagi gak enak badan aja, kayaknya masuk angin deh,"
"Di ajak lembur mulu ya sama si Om," tanya Della polos.
Alin mendelik. "Udah ah gue lagi gak mood bahas si Om,"
"Lagi berantem?" tanya Della lagi.
Alin menggeleng kemudian berdiri. "Enggak kok, Yaudah ke kantin yuk gue haus nih,"
"Yuk gue juga lapar," Della menyetujui ajakan Alin.
Di kantin Alin hanya terlihat mengaduk-aduk jusnya. "Lin gak makan?" Tanya Della yang sudah menghabiskan satu porsi mie ayam.
Alin meminum sedikit jusnya. "Gak lapar Dell, gue mual nih kayaknya asam lambung gue kumat," Alin menutup mulutnya karena mual.
"Pasti gak sarapan ya tadi pagi? kebiasaan banget deh. kalo nenek tahu bisa ngomel dia tujuh hari tujuh malam gak kelar-kelar," bukan Nenek justru kini Della yang mengomeli Alin. Della sangat hafal kebiasaan Alin sedari SMA jika Alin melewatkan jam makan di tambah stress pasti asam lambungnya naik.
-
-
Siapa yang penasaran sama visualnya Juleha eh Julia.. nih author kasih bonus pict Julia.
Cantik ya?