My Little Bride

My Little Bride
Meluruskan



"Cil, bocil wey tunggu," Randy berlari mengejar Alin sampai ke taman Hotel.


Alin tak menghiraukan panggilan Randy. Dada nya terasa sesak ingin rasanya menangis tapi sekuat mungkin Alin menahannya. Harusnya dari awal dia sudah siap kalau hari ini akan datang juga. ini memang semua salahnya yang membuka hati untuk Keenan. Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh Alin pun tak pernah menyadarinya. Rasa itu tumbuh seiring berjalannya waktu lewat momen yang mereka lewati bersama walau Keenan terkesan dingin dan cuek.


"Tunggu!" Randy memegang pergelangan tangan Alin. "Sumpah gue gak tahu apa-apa," ucap Randy merasa bersalah dia memang tidak tahu kalau ada Laura di dalam sana karena tadi Keenan hanya bilang ada Meeting dan memintanya untuk mengantar Alin pulang kerumah.


"Gak apa-apa om" Alin tersenyum getir.


Randy bisa membaca raut wajah Alin walau dia berusaha tersenyum tapi hatinya begitu hancur. "Kalau lo mau nangis, nagis aja jangan di tahan," Randy memberi saran.


"Alin gak nangis kok," Alin masih tetap memaksakan senyumannya.


"Bibir bisa bohong, tapi hati gak bisa," Randy kemudian membuka jas di kenakan nya kemudian menutupi kepala Alin. "Nagis aja, gak akan ada yang liat lo."


Tangis Alin pecah juga. tubuhnya bergetar menahan tangis sebisa mungkin agar tak mengeluarkan suara. Randy jadi bingung sendiri melihat Alin yang menangis di balik jasnya, Di sisi lain banyak orang-orang yang melihatnya dan mengira mereka adalah pasangan yang sedang bertengkar. Randy berusaha menguatkan Alin dengan menepuk-nepuk kepala Alin pelan.


Randy merasa bersimpati kepada Alin. Benar kata Sean walau bagaimanapun kini Alin adalah istrinya Keenan yang perasaanya harus di jaga. Tidak sepantasnya Keenan memiliki hubungan dengan wanita lain sekalipun mereka masih saling mencintai. Disini Alin tidak salah dia bukanlah orang ketiga dalam hubungan mereka.


Merelakan mu pergi bukanlah pilihan terbaik, namun meminta agar dirimu kembali pun bukan hal yang tepat. Mungkin saat ini kamu hanya melihat cintanya, namun ketahuilah kalau aku pun dapat mencintaimu lebih dari yang ia berikan untukmu. Aku tidak menyangka jatuh cinta akan se menyakitkan ini. Harusnya memang aku tidak pernah memulai.


Seseorang menarik Alin dalam pelukannya. Alin mencoba berontak dan menyangka itu adalah Randy karena kepalanya masih tertutupi oleh jas. "Om jangan cari-cari kesempatan ya," Alin mendorong orang tersebut.


"Ayo kita pulang," Keenan membuka jas yang menutupi kepala Alin.


***


Beberapa menit yang lalu...


Keenan baru saja selesai meeting dan berniat bersiap-siap untuk pulang lebih awal.


"Sayang," panggil seseorang membuka pintu ruangannya.


Keenan menoleh ke asal suara yang terdengar tidak asing lagi di telinganya. "Laura."


Laura menghambur ke dalam pelukan Keenan. "Maaf!" kata-katanya tercekat menahan tangis. "Maafin aku, aku yang salah."


Tidak ada respon dari Keenan dia masih terlalu terkejut dengan kedatangan Laura yang tiba-tiba.


Kemudian Alin datang membuka pintu, Keenan melepaskan pelukan Laura.


"Kita bicara lagi nanti," ucap Keenan yang mencoba menyusul Alin namun dirinya di tahan oleh Laura.


"Ken, dengar penjelasan ku dulu aku punya alasan sendiri. Tolong percaya padaku," Laura memohon.


"Iya aku percaya, tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan. Aku akan menghubungimu lagi nanti," Keenan memegang bahu Laura kemudian meninggalkannya.


Laura terdiam menangis di tempatnya. Ini pertama kalinya dia di acuhkan oleh Keenan. Dia tahu Keenan pasti akan sangat kecewa dengannya. "Ken, aku yang salah. Aku memang tidak pernah jujur tapi aku melakukan ini semua agar bisa hidup lebih lama denganmu," Laura menghapus air matanya kemudian pergi meninggalkan ruangan Keenan.


***


"Kenapa tidak pulang kerumah?" tanya Keenan saat perjalanan pulang.


"Maaf," ucapnya lirih.


"Saya tidak tahu kalau dia akan datang," Keenan mencoba meluruskan kesalah pahaman entah kenapa dia bisa lebih memilih mengejar Alin daripada mendengarkan alasan Laura yang jelas-jelas sudah lama ia tunggu.


Malam hari Alin melihat Keenan sudah berpakaian rapi dia yakin kalau Keenan akan menemui laura malam ini. Keenan pergi tanpa pamit, Alin hanya melihat kepergiannya dari jendela kamar.


Alin memasang headset di telinganya setidaknya mendengarkan musik bisa sedikit mengurangi kesedihannya tapi ternyata dia salah, mendengar lagu melow justru membuat dirinya kembali menumpahkan air matanya. "Kenapa gue jadi lemah sih," Alin mengusap air matanya kasar dia marah terhadap dirinya sendiri. Sosok Alin yang ceria, cuek dan masa bodo kini telah berubah menjadi seseorang yang melankolis dan cengeng. "Pokoknya ini pertama dan terakhir kalinya gue nangis," ucap Alin penuh tekad.



Keenan mendatangi apartemen Laura untuk mendengarkan penjelasannya. Bagaimanpun permasalahan di antara mereka harus segera di selesaikan.


"Masuk sayang," Laura meyambut hangat kedatangan Keenan. "Aku udah masak makanan kesukaan kamu, ayo kita makan dulu," Laura menuntun Keenan agar duduk di meja makan.


Dengan senyum yang terus mengembang Laura mengambilkan makanan untuk Keenan. Laura tahu betul apa yang di sukai Keenan hingga dia sudah tidak canggung lagi.


Setelah selesai makan mereka duduk berdua di balkon apartemen Laura.


"Sayang, Aku minta maaf. Aku memang salah pergi tanpa kabar apalagi di hari pernikahan kita. Tapi aku punya alasan sendiri," Laura mulai membuka percakapan.


"Aku sudah tahu," jawab Keenan datar.


"Kamu sudah tau tentang penyakit ku?" tanya Laura kaget selama ini dia bersusah payah menyembunyikan penyakitnya dari Keenan dan keluarganya. bahkan dan rela menahan rasa sakit jika sedang berada di samping Keenan agar tidak membuat Keenan khawatir.


"Aku baru tahu. Kenapa kamu tidak pernah jujur? Apa kamu tidak percaya padaku?"


"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin membuat khawatir orang-orang yang berada di sekitarku aku tidak mau membebani mu. Aku rela menahan semuanya sendiri," Laura mulai berkaca-kaca. "Dua tahun lalu saat aku di diagnosa mengidap gagal ginjal aku sempat sedih. Awalnya aku ingin jujur tapi aku berfikir jika aku jujur itu hanya akan menjadi beban untukmu, melihatmu tersenyum membuatku kembali bersemangat, dan aku tak mau senyum itu luntur hanya karena kamu tahu bagaimana kondisiku."


"Itu sebabnya kamu selalu menolak saat aku mengajakmu menikah?"


Laura mengangguk. "Menikah, kemudian tinggal dan hidup bersama tidak ada jarak diantara kita aku belum siap kalau kamu tahu semuanya. Selama kurang lebih satu tahun aku menjalani pengobatan rutin dan terapi namun tidak ada hasil dan alternatif terkahir adalah melakukan operasi transplantasi ginjal,"


"Dan itu sebabnya kamu sering pergi ke Luar Negeri dengan alasan bisnis?" tanya Keenan.


"Maaf aku memang sering berbohong, tapi itu semua aku lakukan demi kebaikan kita. Harusnya operasi ini di lakukan tiga bulan yang lalu itu kenapa sebabnya lima bulan yang lalu aku menerima lamaran mu karena aku yakin aku sudah sembuh saat acara pernikahan kita. tapi ternyata aku salah ada sesuatu yang tidak memungkinkan untuk melakukan tindakan operasi hingga jadwal operasi harus di undur." Laura menjelaskan panjang lebar.


"Tetap saja kamu salah, dan sayang sekarang semua sudah terlambat,"


"Maksud kamu apa?" Laura terkejut mendengar kata terlambat.


"Kamu tidak tahu bagaimana kacaunya saat hari itu, untuk pertama kalinya aku melihat kedua orangtua ku begitu hancur. Bahkan mereka tidak punya muka lagi di hadapan semua orang. Papa bersikeras tetap melanjutkan pernikahan dengan ada tau tidaknya kamu,"


"Kamu sudah menikah dengan wanita lain?"


"Aku tidak punya pilihan. Aku tidak ingin mengecewakan Mama, papa dan keluarga besarku untuk yang kedua kalinya. Andai saja kamu jujur dari awal mungkin aku tidak akan pernah memaksamu dan pernikahan itu tidak akan pernah terjadi,"


"Bagaimana bisa Ken? kamu tidak mencintainya kan? Aku berjuang untuk bisa hidup lebih lama bersamamu bagaimana mungkin sekarang kamu sudah menikah dengan wanita lain? Ken tinggalkan wanita itu kita mulai lagi semua dari awal. aku janji aku tidak akan pernah berbohong dan mengecewakanmu lagi," Laura menggenggam erat tangan Keenan.


"Maaf Laura tidak semudah itu mengembalikan kepercayaan." Keenan berdiri hendak meninggalkan Laura, Keenan yang tadinya mengira akan senang saat laura kembali dan bisa memaafkan apapun kesalahan Laura karena yakin kalau dirinya sangat mencintai Laura dan mereka akan hidup bahagia sebagaimana yang telah di mimpikan sebelumnya tapi kini malah sebaliknya.


Tiba-tiba laura memeluk Keenan dari belakang. "Sayang aku mohon, Aku benar-benar berjanji akan memperbaiki semuanya, kasih aku kesempatan sekali saja,"


Keenan melepaskan tangan Laura. "Tolong jangan seperti ini, pahami perasaanku juga," Keenan benar-benar pergi meninggalkan Laura.


"Siapapun tidak ada yang bisa merebut mu dari ku Ken," ucap Laura penuh tekad dia berjanji akan membuat Keenan kembali padanya bagaimanapun caranya.


Like, komen dan vote yaa....