
Keenan menatap Alin yang tertidur di sofa rumah sakit, Begitu juga dengan mama Vero yang sudah tertidur di ranjangnya. kemudahan ia mengecup kening Alin dan menyelimuti nya.
Kemudian berpindah ke tempat tidur Mama Vero. Dia duduk tepat di hadapan mama Vero, tangannya mulai meraih tangan Mama Vero yang mulai keriput tak lagi kencang seperti dulu.Tangan yang selalu menjaga dan merawatnya hingga Ia bisa seperti sekarang.
Tiba-tiba Mama Vero terbangun tangannya merasakan basah akibat tetesan air mata sang putra tercinta."Ken... Sudah datang?"
Segera Keenan mengusap air mata nya. "Sudah Ma, maaf Keenan membangunkan Mama,"
"Kamu menangis?" Tanya Mama Vero kemudian menangkup wajah Keenan dengan kedua tangannya.
"Tidak Ma... " bohong Keenan.
Mama Vero berbicara selembut mungkin tak ingin salah dalam berucap, sebab dari tadi ia memperhatikan Alin yang juga tampak murung berbeda dengan biasanya. "Kamu pikir Mama percaya? Ada apa jujur sama Mama?"
"Maaf Keenan belum bisa mewujudkan keinginan Mama, kami belum bisa memberi mama cucu, Keenan tahu keinginan terbesar Mama di masa tua ingin menikmati hasil kerja keras dan merawat cucu.. Maaf ya Ma," ucap Keenan tertunduk.
Mama Vero menggelengkan kepala. "Sekarang bukan lagi keinginan Mama... Mama bahagia dengan apa yang Mama miliki sekarang. Jangan pernah kamu berpikiran seperti itu lagi," Mama Vero mengelus lembut wajah Keenan.
***
"Ken.. Sudah siang apa kamu tidak mau bangun?" Papa Wira menepuk pundak Keenan yang tertidur di kursi sedangkan kepala nya bertopang di ranjang Mama Vero.
"Papah sudah datang?" tanya nya kemudian, mereka memang berbagi tugas dalam menjaga Mama Vero. Papa Wira hanya di perbolehkan menjaga saat siang agar malam tetap bisa beristirahat. "Alin di mana?" matanya langsung terfokus ke sofa tempat Alin tidur semalam. Namun ternyata istrinya sudah tidak ada di sana.
"Alin tadi ijin pulang lebih dulu, katanya ada tugas mendadak. Dia gak tega kalau bangunin kamu... kalian gak lagi bertengkar kan?" tanya Mama Vero penasaran.
"Enggak kok Ma... kami baik-baik saja," jawab Keenan yakin karena memang mereka baik-baik saja. Tiba-tiba ponsel Keenan berdering, kemudian ia segera menjawab panggilan tersebut.
"Ma, Pa... Keenan pulang dulu," Pamit Keenan begitu tergesa-gesa.
"Sekali lagi maaf sudah merepotkan," ujar Laura saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Aku gak setega itu biarkan kamu nyetir sendiri," Jawab Keenan fokus pada jalan di depannya.
Laura hanya menunduk, Lagi-lagi ia harus merepotkan orang yang pernah di sakitinya.
"Apa kamu masih tinggal di Apartemen lama?" Tanya Keenan memastikan tujuan mereka.
Laura mengangguk. "Iya," jawabnya singkat.
Keenan memang sudah tak asing dengan tempat itu banyak sekali kenangan mereka berdua di dalam sana. Tak ada yang berubah dari tempat itu sejak terkahir kali Keenan datang ke sana. Hanya saja kini ada kamar bayi yang di buat khusus oleh Laura.
"Aku pamit dulu," Ujar Keenan setelah mengantarkan Laura masuk.
"Terimakasih banyak.. sampaikan salamku pada Alin," Laura nampak canggung.
***
Alin pulang ke rumah lebih dulu untuk menghindari Keenan dan meminta ijin memakai mobil papa Wira. Rasanya untuk saat ini ia tak ingin bertemu dengan suaminya itu. Semalam tak sengaja ia mendengar percakapan antara Mama Vero dan Juga Keenan. Ia hanya bisa menangis dalam diam dan berpura-pura tidur.
"Apa aku egois?" ujar Alin frustasi, Akhirnya dia memutuskan untuk putar balik dan kembali ke rumah sakit.
Namun tanpa di duga dia malah melihat Keenan yang sepertinya akan mengantar Laura pulang Karena mereka berdua masuk ke dalam mobil yang sama yaitu mobil milik Keenan.
Karena penasaran Alin pun mengikuti mobil itu sampai ke suatu tempat yang mungkin di sana tempat tinggal Laura. Dan bahkan suaminya itu ikut masuk ke dalam mengantarkan Laura juga bayi nya.
Setelah melihat Keenan masuk Alin pun memutuskan untuk segera pulang.
Alin selalu mencoba berfikir positif, Suaminya itu memang orang baik dan selalu berbuat baik pada setiap orang. Sekalipun orang itu telah mengecewakan nya.
Ponsel Alin berdering ia begitu enggan untuk menjawabnya. Namun juga ingin mendengar kejujuran dari Keenan.
"Iya Mas.. Sudah bangun?" Tanya Alin berbasa-basi.
"Sudah.. Kenapa tidak bangunkan mas tadi pagi?"
"Aku gak tega Mas.. Mas kelihatan capek banget, lagian ini hari libur. Mas lagi di mana?"
"Emmm Mas... Masih di parkiran rumah sakit ini mau pulang," Jawab Keenan agak terbata.
"Oh gitu.. Ya sudah aku tutup dulu, aku lagi nyetir," Alin segera mengakhiri panggilannya.
"Di parkiran rumah sakit ya?" Gumam Alin kecewa.
***
Keenan sampai lebih dulu di rumah. Ia melihat ke arah garasi dan tidak ada mobil Papa Wira di sana. Kemudian ia memastikan masuk ke dalam dan bertanya pada bi Inah.
Tak lama terdengar suara mobil dan Keenan sangat yakin kalau itu suara mobil Papa Wira yang di pakai Alin.
Keenan segera menghampiri Alin. "Sayang? Darimana saja kok baru sampai?"
"Maaf Mas.. Aku lupa ijin, tadi aku habis antar Laura pulang ke Apartement nya," Sindir Alin.
"Sayang maaf.. " belum selesai Keenan berbicara Alin memotong pembicaraan nya.
"Lebih baik meminta maaf daripada meminta ijin. Begitu bukan?" Ucap Alin kemudian pergi begitu saja meninggalkan Keenan.
Penyesalan kini tiada berarti. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Salah seorang staf rumah sakit menelpon Keenan dan memintanya datang untuk penandatanganan berkas-berkas milik Laura karena pagi itu juga Laura sudah di ijinkan untuk pulang mengingat kondisinya sudah sangat baik. Karena kemarin mau tidak mau Keenan harus menjadi wali dari Laura karena tak ada orang lagi di sana.
Dan setelah melihat kondisi Laura secara langsung dia tak tega melihatnya pulang sendiri.
Keenan berulang kali meminta maaf dan menjelaskan situasi yang terjadi tadi pagi.
"Apa susahnya pesankan Taxi, Dengan begitu dia tidak perlu nyetir sendiri kan?" Kesal Alin saat mendengar alasan klasik dari Keenan. "Aku kemarin memang meminta mas buat tolong dia.. Tapi tidak harus sejauh itu, tidak sampai berbohong seperti ini."
Rasanya energi Alin telah terkuras habis karena mengomeli Keenan tanpa henti, Sementara Keenan hanya terdiam tak di beri kesempatan untuk membela diri.