My Little Bride

My Little Bride
Seiring berjalannya waktu



Malam semakin larut Alin belum juga pulang. Padahal Keenan telah menunggu nya dari sore dan bahkan ponsel Alin tidak aktif.


Tiba-tiba Alin masuk dengan santai menenteng beberapa paper bag di tangannya.


"Dari mana saja?" Tanya Keenan sedikit kesal pada Alin yang sedikitpun tak merasa bersalah karena pulang larut dan tak memberi kabar.


"Nggak dari mana-mana," jawab Alin acuh sambil berjalan melewati Keenan begitu saja.


"Mas tanya kamu dari mana?" Keenan menyusul Alin.


Alin kemudian berbalik. "Yakin mas mau tahu aku dari mana?" jawab Alin kesal.


"Tentu."


"Tadi aku belanja bulanan sama bibi, Terus makan siang di restoran A. Abis itu aku ngikutin mas ke rumah sakit, sampai ke apartemen sekretaris mas itu, Puas?!" ucap Alin dengan penuh penekanan.


"Tadi Lyra..."Belum selesai bicara Alin langsung memotong pembicaraan Keenan.


"Aku nggak minta penjelasan," Ucap Alin kemudian masuk ke dalam kamar.


Keenan duduk di samping Alin yang sedang membongkar belanjaan nya. "Mas mau jelasin semuanya biar kamu gak salah faham,"


"Nggak usah.. Aku gak mau tahu," jawab Alin datar.


"Kamu gak percaya sama Mas?"


"Iya aku percaya makanya aku gak minta penjelasan,"


Keenan tak begitu saja percaya apa yang di katakan Alin. Ia tahu kalau sebenarnya Alin sedang marah. "Mas minta maaf,"


Alin menghela nafas. Dan kata-kata yang keluar dari bibir Keenan membuat Alin semakin kesal. "Aku sudah bosan dengar kata maaf dari mas, Kenapa sih mas nggak pernah belajar dari kesalahan masa lalu? Mas memang niat baik sama orang tapi bisa saja orang mengsalah artikan kebaikan Mas." pada akhirnya Alin mengeluarkan apa yang sedari tadi mengganjal hatinya. Setelah merasa cukup lega akhirnya Alin memutuskan untuk mandi.


Keenan hanya diam mendengarkan ucapan Alin yang memang benar adanya. Tapi ia tak bisa begitu saja mengabaikan orang yang sedang kesulitan apalagi di hadapan matanya sendiri.


Setelah selesai mandi Alin kemudian tidur tanpa berbicara sepatah katapun pada pada suaminya.


Sedangkan Keenan tak bisa tidur memikirkan perkataan Alin tadi.


***


Pagi hari Alin telah bersiap untuk ke kampus. Melihat Keenan berpakaian santai membuat Alin penasaran. "Mas gak kerja?"


"Enggak... Mas mau ganti hari kemarin. Jadi seharian ini mas mau nungguin kamu,"


"Nggak usah maksain Mas... Paling sebentar lagi juga ada panggilan," Alin tahu betul akhir-akhir ini suaminya sangat sibuk. Apalagi papa Wira memutuskan untuk segera pensiun dan mempercayakan hotel-hotel nya pada Keenan.


Keenan mematikan ponselnya di hadapan Alin. "Sekarang gak akan ada lagi yang telpon," ucapnya kemudian memasukan ponsel kedalam saku.


Keenan mengantar Alin sampai gerbang kampus. Alin kemudian pamit turun.


Dari kejauhan Keenan melihat seseorang memberikan sebuket bunga pada Alin. Alin nampak menerima bunga itu. Kepalanya terasa mendidih, Dadanya terasa sesak tangannya mengepal ingin rasanya ia melayangkan tinju pada pria sialan itu.


Tapi Keenan tak bisa berbuat banyak. Ia tak ingin membuat keributan dan membuat Alin malu. Dengan perasaan marah ia kemudian meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.


"Bunga nya cantik.. Tapi sayang aku gak bisa menerimanya," Alin memberikan kembali buket bungan itu pada Devan.


"Kenapa sih lo selalu nolak pemberian gue?" Devan tersenyum kecut.


"Memang harus ada alasan kalau aku nolak?" Alin balik bertanya.


"Tentu saja," tantang Devan.


"Aku sudah punya suami.. Itu alasan aku kenapa gak mau terima pemberian dari kamu atau dari siapapun," jelas Alin.


Mendengar penuturan Alin bukan menyerah Devan malah tertawa. Ia tentu saja tak percaya dengan apa yang di katakan Alin. "Trik macam ini sudah basi. Aku gak percaya," Devan tak henti tertawa.


"Terserah! Aku gak minta kamu buat percaya. Yang penting aku sudah mengatakan yang sejujurnya," ucap Alin kemudian pergi.


"Apa lagi?" tanya Alin geram.


"Kita masih bisa berteman kan?" Kali ini Devan mengajak Alin untuk berteman agar bisa dekat dengan wanita itu.


"Tidak ada pertemanan murni antara laki-laki dan perempuan. Maaf," Alin kemudian pergi ia tak mau mengambil resiko. Di dunia ini apapun bisa berubah begitu juga dengan perasaan.


Sore hari Keenan cukup lama menunggu Alin di luar gerbang. Terlihat Alin berjalan bersama seorang teman wanita nya.


"Tania.. Gue duluan ya udah di jemput," Pamit Alin pada Tania.


"Ok.. Bye Alin,"


Tiba-tiba motor Devan berhenti di depan Alin dan Tania.


"Mau bareng?" Tawar Devan.


"Maaf aku sudah di jemput suamiku," jawab Alin ketus kemudian segera berjalan ke arah mobil Keenan.


"Lo temen Sabrina?" Tanya Devan pada Tania.


"Alin maksudnya?" Tania balik bertanya.


"Ya.. Cewek itu pokoknya," Devan menunjuk ke arah Alin.


"Iya kita satu kelas," jawab Tania jujur.


"Benar dia sudah menikah?" tanya Devan penasaran dengan kebenaran status Alin.


"Kalau itu aku kurang tahu. Tapi dia sempat bilang sudah menikah, Tapi kadang dia suka bilang kalau dia simpanan om-om," jawab Tania polos.


"Apa mungkin dia wanita yang seperti itu?" gumam Devan semakin penasaran.


Alin masuk ke dalam mobil. "Udah lama Mas?" kemudian ia memasang seatbelt.


"Hmmm," jawab Keenan sambil memperhatikan Tania yang mengobrol dengan Devan. Ia hapal betul laki-laki itu yang tadi pagi memberi bunga pada istrinya.


"Ya sudah ayo jalan," ajak Alin yang melihat Keenan hanya diam.


"Siapa laki-laki itu?" tanya Keenan kemudian.


"Laki-laki mana?"


"Yang tadi kasih kamu bunga,"


Alin mengangkat bahu. "Entah.. Aku nggak kenal, Kata anak-anak dia senior di sini." jawab Alin jujur.


"Gak kenal tapi ngasih bunga," Sindir Keenan.


Alin tahu kalau suaminya saat ini sedang cemburu. "Oh bukan cuma bunga sih.. Dia sering kasih kado-kado gitu," Alin sengaja membuat Keenan semakin panas.


"Sering?"


"Tiap hari malah," jawab Alin enteng.


Keenan membuka seatbelt dan hendak turun dari mobil. ingin sekali ia memberi pelajaran pada laki-laki yang telah mengganggu istrinya.


Alin segera menahan tangan Keenan. "Tapi aku tidak pernah sekalipun terima pemberiannya," ucap Alin kemudian.


"Mas.. Bagi aku jadi orang yang setia itu mudah. yang sulit itu menahan rasa cemburu. Mas ngerti kan bagaimana perasaan aku jika sudah merasakan nya sendiri? Aku gak pernah merespon dan gak pernah bersikap baik dengan dia. Lalu bagaimana dengan Mas? Mas itu selalu bersikap baik seolah memberi harapan. Perasaan gak pernah bisa di tebak mas, kita tak pernah tahu mungkin saja kedepannya mas bisa suka sama sekretaris mas itu" tutur Alin panjang lebar.


"Kamu ngomong apa sih? Mas gak akan suka sama dia," Keenan membela diri.


"Dulu mas juga gak suka kan sama aku?" Alin balik bertanya.


Keenan hanya diam. Dulu memang dirinya tak ada perasaan apapun pada Alin tapi ternyata rasa cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Mungkin ini yang selalu di takutkan oleh Alin selama ini.