
Cuaca pagi cukup cerah hari itu walaupun matahari tak sepenuhnya menampakkan sinarnya karena sebagian tertutup awan.
Setelah cukup lelah berjalan Alin memutuskan untuk duduk sejenak di sebuah bangku di pinggir jalan yang letaknya tak begitu jauh dari rumahnya mungkin hanya berjarak sekitar 200 meter.
Melihat di sebrang jalan ada penjual gula kapas yang sedang di kerumuni anak-anak membuat Alin ikut tergiur. "Mas.. Mau itu," Alin menunjuk ke tempat di mana pedadang tersebut berada.
Keenan menengok ke tempat yang di tunjuk Alin. "Gula kapas?" tanya Keenan memastikan karena Alin memang tidak menyukai makanan manis.
Alin mengangguk. "Iya Mas.. kelihatan nya enak banget," Alin menelan ludah ketika melihat seorang anak perempuan yang sedang memakan gula kapas.
"Yasudah Mas belikan. Tunggu di sini jangan kemana-mana," pinta Keenan.
Keenan ikut mengantri di antara kerumunan anak-anak. Sesekali ia melihat ke arah Alin untuk memastikan istrinya masih berada di tempatnya.
Alin tersenyum melambaikan tangan saat Keenan melihat ke arahnya. Dan mereka saling melampar senyuman seolah sedang berbicara lewat tatapan mata.
Pesanannya selesai Keenan memilih gula kapas warna biru sesuai permintaan Alin. Tiba-tiba ponselnya berdering ternyata dari Alin segera ia melihat ke arah Alin yang ternyata sudah berdiri di sebrang jalan.
Alin memberi kode agar Keenan segera mengangkat telpon darinya.
"Sayang tunggu di bangku saja," ucap Keenan dengan nada khawatir saat panggilannya terhubung.
"Alin bosen Mas.. Alin nyebrang ke situ ya," ucap Alin memaksa.
Kondisi jalan memang sepi dari kendaraan karena itu hanya jalan perumahan bukan jalan raya.
"Enggak! Mas nyebrang sekarang," tolak Keenan.
"Mas tunggu saja di situ.. Jangan di tutup telponnya," ucap Alin kemudian ia menengok kanan kiri memastikan tidak ada kendaraan lewat, kemudian ia berjalan dengan senyum yang tak henti mengembang.
Keenan hanya tersenyum seakan terhipnotis dengan senyum manis Alin pagi itu. Menurut Keenan Alin terlihat berbeda hari ini, dia terlihat sangat cantik dengan wajah yang lebih berseri mungkin karena hari ini Alin memakai sedikit make up karena biasanya Alin begitu malas berdandan.
Brak....
Tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dan menabrak Alin hingga ia terpental sejauh dua meter.
Keenan begitu shock melihat kejadian di depan matanya sampai ponsel dan gula kapas yang di pegang nya terjatuh. Dengan segera ia berlari ke arah Alin.
"Sayang," Keenan mengangkat kepala Alin ke atas pangkuannya terlihat darah segar mengalir dari kepalanya.
Alin memegang perutnya "Selamatkan anak kita Mas..," hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Alin sebelum akhirnya ia menutup mata.
Keenan melihat dress putih yang di pakai Alin sudah basah berlumuran darah.
Dengan segera Keenan membawa Alin kerumah sakit di bantu oleh warga sekitar.
***
"Bagaimana kondisi Alin?" tanya Mama Vero panik saat tiba di rumah sakit apalagi melihat kaos putih yang di pakai putranya berlumuran darah.
Keenan memang segera menghubungi keluarganya dan juga keluarga Alin saat perjalanan menuju rumah sakit. Ia tak bisa berkata-kata namun terlihat jelas dari raut wajahnya tersirat kesedihan dan juga penyesalan yang teramat dalam.
Mama Vero segera memeluk putra kesayangannya. Memberikan ketenangan untuk Keenan.
Keenan menangis di pelukan ibunya. " Ini salah Keenan Ma," ucapnya terisak.
"Tenang dulu sayang, Kita do'akan yang terbaik untuk Alin," Mama Vero mengusap punggung Keenan.
Begitu juga dengan Pak Wira yang tak mampu berkata-kata, ia menepuk-nepuk bahu Keenan memberikan rasa nyaman agar putranya bisa sedikit lebih tenang.
Tak berselang lama datanglah Pak Adi berserta Nenek Ida. Terlihat jelas nenek Ida menangis mungkin sejak tadi saat Keenan menelponnya.
"Bagaimana Alin?" Tanya Pak Adi tak kalah panik.
"Masih dalam penanganan Dokter," jawab Pak Wira.
"Bro!," ucap Randy dengan napas tersengal akibat berlari. Randy datang bersama Yuna yang tak sengaja bertemu dengannya di parkiran tadi.
"Ran.. cepat cari orang yang nabrak Alin Ran," ucap Keenan berapi-api.
"Keluarga Ny. Sabrina?" tanya seorang perawat keluar dari ruangan.
"Iya," Jawab mereka serempak.
"Pasien saat ini banyak sekali mengeluarkan darah. Untuk itu beliau membutuhkan sedikitnya 4 kantong darah. Dan kebetulan stok di rumah sakit hanya ada 2 kantong saja, Di harapkn pihak keluarga bisa segera mencari di PMI terdekat," jelas perawat.
"Golongan darahnya apa?" tanya Pak Wira.
"A+ sama seperti bundanya," jawab Pak Adi cepat.
"Saya A+," ucap Yuna spontan. "Ambil darah saya saja sus," Yuna begitu yakin.
"Serius Lo Cil?" tanya Randy Kemudian.
Yuna mengangguk, "Ayo Sus jangan buang waktu," kemudian Yuna mengikuti perawat ke tempat di mana pengambilan darah.
Randy spontan mengikuti gadis itu.
"Maafkan Keenan ya Yah.. Keenan lalai menjaga Alin," ucap Keenan masih terisak.
"Nggak ada yang salah. Mungkin ini semua sudah takdir. yang terpenting saat ini kita do'akan untuk keselamatan Alin dan juga bayi kalian". Pak Adi memang sedih namun juga tak mungkin menyalahkan Keenan. Semua yang terjadi sudah kehendak Tuhan.
***
"Mudah-mudahan istrinya Pak Keenan enggak Kenapa-kenapa ya," ucap Yuna lirih ia masih begitu lemas setelah pengambilan darah barusan.
"Jangan banyak ngomong dulu, Lo istirahat aja," ucap Randy yang setia menemani Yuna sedari tadi.
Yuna memutar bola mata malas "Galak banget si," kemudian ia memiringkan tubuhnya membelakangi Randy.
"Makasih ya Cil," ucap Randy kemudian. Ia tak menyangka gadis itu punya rasa empati yang tinggi pada orang yang belum ia kenal. Bahkan Randy dan Keenan memperlakukannya kurang baik tempo hari.
Tidak ada jawaban dari Yuna membuat Randy sedikit khawatir.
"Cil... Cil..," panggil Randy menepuk bahu Yuna.
Masih tetap sama tidak ada jawaban dari Yuna, bahkan tubuhnya tak bereaksi apapun saat Randy menggoncang tubuhnya kencang.
Penasaran Randy berpindah tempat tepat di hadapan Yuna. Randy melihat gadis itu ternyata tertidur. "Syukurlah masih hidup ini Bocil," ucapnya lega setelah menempelkan jari telunjuknya di lubang hidung Yuna.
Kemudian ia meraih ponselnya untuk mencari informasi si penabrak.
***
Perasaan Keenan sungguh kacau saat ini. sedari tadi ia hanya mondar-mandir di depan ruangan operasi. Berharap salah seorang dokter atau perawat keluar agar bisa menanyakan kondisi istrinya.
Beberapa kali Pak Adi dan Pak Wira meminta Keenan agar lebih tenang. Berbeda dengan Mama Vero dan Nenek mereka sedari tadi tak henti memanjatkan do'a-do'a untuk keselamatan Alin dan bayi nya.
"Coba saja Keenan nggak ninggalin Alin waktu itu, mungkin kejadiannya gak kaya gini," Keenan terus saja menyalahkan dirinya sendiri.
"Cukup Ken.. Percuma saja menyesal itu tak akan mengubah apapun saat ini," Pak Wira mulai jengan mendengar Keenan yang sedari tadi menyalahkan dirinya sendiri.
Keenan terdiam. Betul apa yang di katakan Ayahnya.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka, Seorang perawat keluar dari pintu....
-
-
-
Jangn lupa like, komen dan vote....
Mohon maaf atas keterlambatan update di karenakan author sedang drop... Dan untuk kalian jangan lupa jaga kesehatan ya.. Maaf bila masih banyak typo berserakan.