
Randy baru saja sampai di bawah dengan susah payah ia menuruni jalan yang terjal namun, Yuna malah menyuruhnya untuk kembali naik. Bahkan kakinya saja masih terasa gemetar.
"Naik lagi Pak! Bukan dia orang yang kita cari," ucap Yuna sambil berlalu meninggalkan Randy.
Randy tidak begitu saja percaya pada gadis itu dia berusaha mendekati sopir namun sayang di halangi oleh petugas karena sopir dan juga mobilnya akan di evakuasi.
Randy menaruh curiga terhadap Yuna, Ia melihat dengan jelas gadis itu mengobrol dengan sopir bahkan terlihat sangat akrab.
***
"Sabar sayang.. Apa yang sudah terjadi itu semua kehendak Tuhan, Ketika ujian datang begitu berat Tuhan tahu kamu kuat menghadapi semua ini." Pak Adi mencoba menenangkan Alin yang sedari tadi tak henti menangis. Berbeda dengan tadi kini Alin terlihat begitu lemah tak berdaya.
Sementara Keenan hanya memeluk Alin dengan erat. Dia mencoba untuk tegar agar bisa menguatkan istrinya.
Mama Vero menangis tersedu-sedu di pelukan papa Wira bahkan Mama Vero sempat pingsan. Sementara Nenek Ida harus di rawat karena down dan kini di temani oleh Della dan juga sahabat Alin yang lain.
Alin memeluk dan mencium bayi nya untuk yang pertama dan terakhir kali. pelukan yang begitu erat dan hangat. Jika bisa Alin hentikan waktu mungkin akan ia lakukan. Sungguh ia tak ingin melepaskan pelukan ini. Alin merasa separuh jiwanya ikut hilang. Patah hati terbesar seorang ibu harus kehilangan anak yang selama ini di nantikan.
Lagi-lagi tepat hari ulang tahunnya ia harus kehilangan orang yang dia sayang. Bayi mungil itu hanya mampu bertahan satu hari dan menyisakan kesedihan seumur hidup.
***
Alin hanya duduk di kursi roda selama proses pemakan berlangsung, tatapan nya terlihat kosong. Alin meminta bayi nya di makamkan bersebelahan dengan sang Bunda.
Sebenarnya pihak rumah sakit belum mengijinkan Alin keluar area rumah sakit mengingat kondisinya yang masih belum stabil. Tapi ia bersikukuh ingin mengantar kepergian sang anak untuk yang terakhir kali. Dengan alasan kemanusiaan pihak rumah sakit pun akhirnya mengijinkan Alin keluar area rumah sakit.
...Teruntuk anak pertama ku......
...Terimakasih sudah hadir dalam hidupku....
...Meski tak banyak memori tentang dirimu....
...Kau telah menyempurnakan kodratku sebagai seorang wanita....
...9 bulan dalam rahim ku sudah sangat membuatku bahagia....
...Jika bisa aku meminta... Sebentar saja... Aku ingin mendekapmu dan mendengar tangisan pertamamu.....
...Bahkan kau belum sempat menangis di dunia ini bukan? Nyatanya hal itulah yang paling aku nantikan....
...Dan pada akhirnya aku harus merelakanmu pergi.....
...Walau hatiku hancur, dunia ku seakan runtuh tapi kehidupanku harus tetap berjalan......
...Biarkan aku membawamu dalam kenangan seumur hidupku.....
...Selamat terlelap dalam tidur panjangmu wahai putraku......
...Baby K... Kami akan selau menyanyangimu walau kita hidup di dunia yang berbeda....
Rintik hujan mengiringi kepergian sang bayi siang itu. Langitpun seolah ikut menangis seperti tahu apa yang di rasakan Alin saat ini.
Setelah prosesi pemakaman selesai Alin, Keenan beserta keluarga kembali ke rumah sakit.
***
"Randy... Segera cari bedebah itu!" ucap Keenan di penuhi dengan emosi.
Randy menepuk pundak Keenan meminta Keenan untuk lebih tenang. "Iya Bro.. Tenang dulu, gue gak bakal biarin dia lolos," Seketika dia teringat Yuna. Ya, gadis itu menjadi saksi kunci.
Sebelumnya ia belum sempat menanyakan pada Yuna karena terlalu panik saat mendapat kabar bahwa anak Keenan sudah meninggal.
Yuna memang ikut saat proses pemakaman namun ia langsung pulang kerumah setelah pemakaman selesai.
Bukan hal yang sulit bagi Randy untuk mengetahui dimana rumah Yuna.
Randy telah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Yuna. Kemudian ia segera menelpon gadis itu.
Yuna masih terdiam mengamati nomer baru yang kini sedang menelponnya. Kemudian ia melihat keluar jendela dan benar saja Randy berada di sana.
Yuna segera berlari keluar rumah dengan pakaian rumahan yang biasa ia kenakan dengan rambut yang masih basah karena baru saja selesai mandi.
"Masuk!," Randy mengisyaratkan agar Yuna segera masuk ke dalam mobilnya.
Yuna hanya menurut. Hawa dingin menyeruak saat Yuna masuk kedalam entah itu karena AC mobil yang menyala atau dia yang baru saja selesai mandi.
"Lo tau kan siapa dalanga utama nya?" tanya Randy masih dengan sikapnya dingin dan misterius.
Yuna hanya terpdiam, Ia terlalu takut untuk menjawab. Randy yang kini di hadapannya berbeda dengan Randy yang tadi ia temui. Yuna menjadi berpikir apakah Randy ini manusia atau dispenser. Terkadang bersikap hangat dan konyol namun, terkadang bersikap dingin dan menakutkan.
"Jawab!"
Yuna mengangguk.
Dengan tatapan tajam dan mengintimidasi Randy bertanya lagi pada Yuna. "Kenapa lo biarin orang itu lolos? apa lo bersekongkol sama mereka?"
Dengan cepat ia menggeleng. "Bukan dia pelakunya.. Aku mengenal Om Gani, dia rekan kerja papa dia nggak tahu apapun tentang kecelakaan itu. Tadi pagi ia hanya di suruh mengantar mobil ke proyek di perbatasan kota, Namun semua itu hanya jebakan semata mobilnya di tabrak sampai masuk jurang untuk menghilangkan jejak dan beruntung dia masih hidup. Sama halnya dengan istrinya Pak Keenan Om Gani hanya korban. Dan pelaku utama nya adalah... "
"Siapa?" Randy nampak tak sabar.
"Julia... Julia yang nabrak istri Pak Keenan dan om Gani," Jawab Yuna cepat.
"Brengs*k!" umpat Randy kesal. "Gue gak bakalan biarin wanita siluman itu lolos," Randy segera menacap gas mencari keberadaan Julia.
"Eh... Mau kemana?" Tanya Yuna panik.
"Cari Julia... kemana lagi," Ucap Randy fokus pada kemudi nya.
"Udah gila ya? masa aku keluar pakai baju kaya gini? " Ucap Yuna Kesal.
Randy segera menginjak rem. Sedari tadi ia tak memperhatikan penampilan Yuna.
"Astaga!" Randy mata Randy melotot kaget melihat Yuna hanya memakai kaos over size dan celana hotpants yang nyaris tak terlihat karena tertutup baju serta handuk yang masih tergantung di leher nya. "Lo bisa gak sih gak nodain mata gue?" Randy mengambil handuk dari leher Yuna kemudian melemparnya menutupi paha gadis itu.
Yuna hanya mendelik kesal.
Kemudian Randy memutar balik mobilnya. Namun, ia tetap meminta bantuan gadis itu untuk mencari keberadaan Julia karena memang Randy tidak mengenal Julia secara langsung.
"Pasti dia mau kabur sekarang," Randy melaju dengan kecepatan tinggi setelah mengetahui Julia pergi ke arah bandara dari GPS yang sempat di pasang Yuna di mobil Julia.
Yuna memang sempat merencanakan ingin mencelakai Julia. Tapi niat itu urungkan, ia sadar tak ada bedanya dia dengan Julia jika membalasnya dengan kejahatan juga.
Randy dan Yuna berlari ke pusat informasi untuk menanyakan penerbangan atas nama Julia. Sebenarnya bukan hal yang sulit untuk Randy mencari informasi karena dia sudah terbiasa melakukan itu dan lagi dia punya kenalan orang dalam yang sangat berpengaruh sehingga memudahkannya.
Setelah cukup mendapatkan informasi mereka segera bergegas ke Terminal dimana Julia menunggu pesawat.
"Itu dia!" Tunjuk Yuna pada seorang wanita yang berdiri memegang sebuah koper besar.
Bersambung....
-
-
-
Maaf ya author ijin taro bawang di chapter ini..
Author pun ikut nangis pas nulisnya... hehehe
Jangan lupa like dan komen biar author lebih semangat lagi nulisnya....