My Little Bride

My Little Bride
Sekretaris baru



Setelah selesai berbicara akhirnya Randy dan Yuna pamit. Serta rencana Alin dan Yuna untuk mencari buku pun otomatis gagal.


Alin menarik kursi kemudian duduk di sebelah Keenan. "Mas?! Hari ini sibuk nggak?" Tanya Alin sedikit ragu-ragu.


"Kenapa memangnya?"


"Temani aku ke toko buku," ucap Alin merengek serta memasang raut wajah memelas.


Keenan gemas melihat tingkah Alin yang menggemaskan. Tidak biasanya Alin seperti itu. "Boleh.. tapi setelah makan siang nggak apa-apa kan? Mas masih ada kerjaan sekarang," Ucap Keenan sambil mengecek jadwalnya hari ini.


"Iya nggak apa-apa kok," Alin tersenyum senang.


Tiba-tiba lyra datang membawa beberapa dokumen. "Permisi... Maaf Pak, Ini laporan yang bapak minta,"


"Simpan saja di atas meja,"


"Baik Pak," Lyra lalu meletakan dokumen itu di atas meja Keenan.


"Sayang.. itu sekretaris baru Mas,"


Lyra tersenyum dan menunduk sopan ke arah Alin.


Alin pun membalas senyuman Lyra. "Alin," ucapnya kemudian mengulurkan tangan.


"Saya Lyra, Senang bertemu dengan anda. " Ucap Lyra seraya menyambut uluran tangan Alin.


"Oh iya Lyra. Setelah makan siang nanti saya langsung pulang, Sementara kamu bisa bantu-bantu di ruangan Pak Wira" Perintah Keenan.


"Baik Pak, Kalau begitu saya permisi Pak, Bu," Pamit Lyra kemudian meninggalkan ruangan.


"Mas?!" Panggil Alin nampak serius.


Keenan yang semula fokus pada berkas di tangannya seketika langsung menoleh. "Iya Kenapa sayang?"


"Emang muka aku kelihatan tua banget ya?" Tanya Alin memegangi kedua pipi nya.


Keenan memperhatikan Alin. tidak ada yang berubah dari wajah istrinya, malah semakin hari Alin terlihat semakin cantik di matanya. "Enggak kok sayang memangnya kenapa?" tanya Keenan mengerutkan dahinya.


"Itu.. Sekertaris Mas! Masa panggil aku ibu.. Memangnya muka aku tua banget ya?" Alin cemberut tak terima jika dirinya di panggil ibu.


"Sayang.. Mungkin dia menghormati kamu sebagai istri Mas, biar lebih sopan jadi panggil Ibu," Keenan memberi penjelasan.


"Ya sudah Mas selesaikan dulu pekerjaan ya," Keenan mengecup bibir Alin sekilas kemudian kembali pada pekerjaannya.


"Aku ke tempat Papa ya Mas, Kangen juga sama ruangan itu. Dulu bisa sampai seharian nungguin ayah kerja. " ucap Alin seraya berdiri.


"Ya sudah, Mas minta tolong sekalian bawa ini ya," Keenan tersenyum sambil memberikan sebuah map.


"Baik Pak Keenan, Kalau begitu saya permisi." ucap Alin mengambil map tersebut seraya menirukan gaya Lyra.


Keenan hanya tertawa melihat tingkah konyol istrinya. Dia tak menyangka gadis yang dulu menyebalkan dan selalu merepotkan nya jika datang ke kantor ternyata kini menjadi istrinya.


Tok... tok.. tok...


Alin mengetuk pintu ruangan Pak Wira. "Permisi Pak... Ini ada titipan dari Pak Keenan," ucap Alin seraya masuk karena kebetulan pintu ruangan dalam keadaan terbuka.


"Ya Ampun Nak," Pak Wira tertawa melihat kedatangan menantunya.


Terlihat Lyra dan sekretaris Pak juga Wira berada di ruangan sedang mengerjakan sesuatu.


"Apa kabar Pa?" Alin mencium tangan Papa mertuanya.


"Kabar baik sayang.. Tumben main ke kantor?" sindir Pak Wira sambil tersenyum karena sudah lama sekali Alin tidak datang ke kantor.


"Hehe iya Pa..Tadinya mau ke toko buku tapi belum buka jadi mampir dulu kesini, Tiba-tiba Alin kangen sama ruangan ini" Alin mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru ruangan. Tidak banyak yang berubah semenjak ayahnya mengundurkan diri.


Raut wajah Pak Wira berubah serius."Papa boleh minta tolong?"


"Minta tolong apa Pa?"


"Bantu Papa bujuk ayahmu biar kerja lagi di sini," pinta Pak Wira. Semenjak Pak Adi mengundurkan diri ia sering kewalahan mengurus pekerjaan walau sebenarnya ada Keenan yang membantu tapi dia butuh sosok Pak Adi yang juga sudah setia menemaninya selama 18 tahun.


"Nanti Alin coba ya Pa.. Tapi semua keputusan ada di tangan ayah," ucap Alin.


"Kalau begitu Alin permisi dulu ya Pa," Pamit Alin.


"Tunggu ini DP buat tugas kamu," Pak Wira memberikan segepok uang pecahan seratus ribuan.


"Wah... Banyak banget Pa..." ucap Alin dengan mata yang berbinar.


"Itu baru DP.. Kalau misi berhasil nanti Papa kasih lebih banyak lagi,"


"Baik kalau begitu... Saya akan melaksanakan tugas sebaik mungkin," ucap Alin formal.


"Kamu itu bisa saja," Pak Wira mengacak rambut Alin.


"Makasih ya Pa," Alin memeluk mertuanya kemudian benar-benar pamit.


Alin berjalan riang dengan segepok uang di tangannya.


"Mas?!" Panggil Alin saat memasuki ruangan Keenan. "Mas.. Aku di kasih uang sama Papa," ucap Alin memamerkan uang di tangannya dengan senyum yang merekah.


"Kamu nggak malak Papa kan?" selidik Keenan.


"Enggak lah... Aku sedang menjalankan tugas negara dari Papa. Kata Papa kalau misi ini berhasil aku bakal di kasih lebih banyak," ucap Alin tak henti tersenyum sambil membayangkan berapa banyak uang yang akan di berikan Papa mertuanya kalau seandainya misi berhasil.


"Misi apa? Papa nggak nyuruh yang aneh-aneh kan?" tanya Keenan cemas sekaligus penasaran.


Alin berbisik di telinga Keenan. "Misi rahasia," Alin tersenyum puas melihat Keenan yang penasaran. "Pokoknya mas tenang aja misi ini enggak menyalahi aturan syariat, adat dan budaya bangsa," ucap Alin meyakinkan.


***


Setelah selesai mencari buku Alin mengajak Keenan untuk mampir ke beberapa toko. Alin sekarang punya hobby baru yaitu berbelanja sama seperti perempuan pada umumnya.


"Kemeja ini bagus nggak mas?," Alin menempelkan sebuah kemeja di badan Keenan.


"Warna nya terlalu gelap," komentar Keenan.


"Nanti Aku kasih lampu LED biar terang," ucap Alin sambil meletakkan kembali kemeja tersebut ke tempatnya. Kemudian ia kembali mengambil sebuah kemeja yang ukurannya lebih besar dari ukuran yang Keenan pakai.


"Yang itu size nya kebesaran sayang,"


"Lagian aku mau beliin buat ayah kok bukan buat Mas, Ayah pasti seneng gak bakal komplen, " Kesal Alin, karena sedari tadi Keenan menolak kemeja yang Alin pilihkan karena memang tidak sesuai dengan selera Keenan.


"Jadi ngambek ceritanya," goda Keenan.


"Enggak," ucap Alin ketus kemudian mengambil beberapa potong kemeja dan membawanya ke kasir.


Keenan dan Alin kini dalam perjalanannya menuju rumah Pak Adi. Rupanya Alin segera melancarkan misi yang di berikan Papa mertuanya. Namun, sepanjang perjalanan Alin tak berbicara sepatah katapun.


"Nenek... " Panggil Alin saat memasuki rumah.


"Di dapur.. " Saut nenek Ida dari dapur.


Alin segera berjalan menuju dapur. Sedangkan Keenan meletakkan belanjaan yang sengaja Alin beli untuk nenek dan ayahnya.


"Kebetulan kamu datang. Ayo bantu nenek masak," pinta nenek meletakan sayur-sayuran yang hendak di cuci.


"Baru juga datang Nek," Protes Alin namun tetap mengerjakan apa uang di suruh nenek.


"Ayah pulang jam berapa Nek?" tanya Alin kemudian memulai misinya.


"Jam makan malam biasanya pulang, Kalian makan malam di sini ya," Pinta nenek.


"Siap Nek," jawab Alin tersenyum manis karena memang itu tujuannya datang kesini.


-


-


-


Jangan lupa like dan komen