My Little Bride

My Little Bride
Kejutan



Setelah beberapa hari mengadakan seleksi calon sekretaris yang cukup rumit dan panjang terpilih lah 3 orang calon yang akan mengikuti interview secara langsung dengan Keenan.


Satu persatu calon karyawan masuk dan mengikuti wawancara. Setelah mempertimbangkan secara matang dan melihat pengalaman dari setiap calon akhirnya Keenan memilih satu orang yang akan bekerja dengannya.


Wanita bernama Lyra berusia 28 tahun berstatus sudah menikah, dan sudah berpengalaman menjadi sekretaris lebih dari empat tahun di perusahaan ternama.


"Terimakasih atas kepercayaan bapak terhadap saya," ucap Lyra mengangguk sopan. Dia tak menyangka akan di terima melihat dari saingannya para wanita muda, membuat dirinya sempat tak percaya diri.


Hari pertama bekerja berjalan cukup lancar. Keenan tak perlu bersusah payah menjelaskan soal pekerjaan karena lyra sudah cukup pengalaman.


Hari ini Keenan sengaja pulang lebih awal, karena beberapa hari terakhir sering pulang larut malam. Sebelum pulang ke rumah ia mampir ke toko perhiasan dan toko bunga terlebih dahulu.


Entah mengapa hari itu Keenan mendadak menjadi pria yang romantis. Sebelumnya dia tak pernah membeli perhiasan untuk istrinya. Bahkan seingatnya terkahir Keenan memberi bunga saat Alin ulangtahun dan itupun waktu istrinya dalam keadaan koma.


***


Keenan segera mencari Alin saat memasuki rumah. Biasanya Alin sudah menunggu dan duduk di sofa ruang tamu tapi tidak hari ini. Mungkin karena sebelumnya ia memang tak memberitahu Alin jika pulang lebih awal.


Keenan segera naik ke lantai dua, ia setengah berlari menaiki anak tangga rasanya tak sabar ingin segera bertemu istri tercinta.


Namun sayang ternyata Alin juga tidak berada di kamar. Kemudian dia segera mencari bi Inah untuk menanyakan keberadaan Alin.


"Bi... Alin kemana?" tanya Keenan begitu bertemu bi Inah di halaman belakang.


"Neng Alin tadi pergi sama nyonya," jawab Bi Inah.


"Pergi?! Kok nggak bilang? Alin bilang pergi kemana?" tanya Keenan beruntun.


BI Inah bingung harus menjawab dari mana dulu. "Anu Den... Neng Alin nggak bilang mau pergi kemana. Tadi kelihatan buru-buru sama nyonya," Jawab Bi Inah.


Keenan segera merogoh ponsel di dalam saku celananya. "Alin di mana Ma?" Tanya Keenan saat panggilan terhubung.


"Lagi belajar nyetir sama Mama," jawab Mama Vero santai.


"Belajar nyetir? Dimana? Keenan kesitu sekarang," Tanya Keenan segera bergegas mengambil kunci mobil.


Niat hati memberi kejutan ternyata malah dirinya sendiri yang terkejut. Keenan segera menyusul Alin dan Mama Vero setelah sebelumnya di beri alamat tempat mereka belajar menyetir.


Sesampainya di tempat Keenan melihat mobil yang biasa Mama Vero pakai terparkir di pinggir lapangan yang cukup luas. Keenan segera menghampiri mobil tersebut.


Keenan mengetuk kaca memastikan apakah benar Alin ada di dalam, Kemudian Alin menurunkan kaca mobil.


"Udah pulang Mas?" Tanya Alin cengengesan.


"Sayang! Mas kan sudah bilang jangan... "


"Ken!" panggil mama Vero tiba-tiba membuat ucapan Keenan terhenti.


Keenan menghela napas. percuma dia menasehati Alin, karena Mama Vero pasti akan membelanya.


"Kenapa nggak bilang dulu.. Mas khawatir cari kamu di rumah nggak ada," ucap Keenan lembut kemudian membuka pintu mobil.


"Kalau bilang Mas pasti nggak di bolehin," jujur Alin.


"Nggak apa-apa Ken.. Apa salahnya belajar nyetir. Buat jaga-jaga siapa tahu ada hal mendesak atau hal lainnya yang mengharuskan Alin untuk nyetir sendiri, Bisa nyetir bukan berarti harus bawa mobil kan. sama seperti Mama yang selalu pakai supir kemana-mana padahal Mama bisa nyetir juga." nasehat Mama Vero panjang lebar.


Keenan mengalah. Percuma berdebat dengan dua orang wanita pasti dia akan kalah. Karena mereka memegang prinsip wanita tidak pernah salah. "Ya sudah.. sudah sore belajar nya di lanjut besok saja ya,"


Alin mengangguk. "Makasih ya Ma udah ngajarin Alin... " kemudian ia memeluk ibu mertuanya.


***


Akhirnya Keenan dan Alin pulang ke rumah.


Alin mengambil se buket bunga yang berada di atas kasur. "Bunga dari siapa ini Mas?" Kemudian ia mencium wangi bunga-bunga tersebut.


"Dari Mas.. buat kamu," jawab Keenan datar.


"Buat aku?" tanya Alin tak percaya. matanya berbinar menggambarkan kebahagiaan.


"Makasih Mas...," ucap Alin senang.


Keenan mengeluarkan sebuah kotak dari saku jas nya. "Dan satu lagi..." kemudian memberikan nya pada Alin


"Apa itu?" tanya Alin penasaran kemudian mengambil kotak tersebut dan membukanya.


"Waahh bagus banget," ucap Alin kagum.


Keenan kemudian mengambil isi kotak tersebut. "Sini Mas pasangkan,"


Alin tersipu ketika Keenan memasangkan sebuah kalung padanya.


"Sudah selesai... cantik," puji Keenan kemudian menciumi leher jenjang istrinya.


"Mas ih... " Alin merasa geli karena Keenan tak henti menciumi lehernya. "Terimakasih," ucap Alin terharu.


"Maaf Mas nggak bisa jadi suami yang romantis, yang selalu kasih hadiah dan kejutan.." ucap Keenan merasa bersalah.


Alin segera menggeleng "Aku nggak masalah gak punya suami yang tak romantis.. Apa yang Mas lakuin buat aku sudah lebih cukup. Aku lebih senang mempunyai suami yang bertanggung jawab, yang selalu ada buat aku, memahami aku dan menjadi sandaran saat aku terpuruk, melengkapi segala kekurangan ku, Karena yang mas lakuin adalah sebuah tindakan bukan hanya kata-kata manis," Alin memeluk suaminya


"Terimakasih sayang.. hadirmu telah menyempurnakan hidupku.." Keenan membalas pelukan Alin.


"Oh iya.. masalah aku belajar nyetir Mas nggak marah kan?" tanya Alin takut.


"Siapa bilang?! Karena kamu pergi tanpa ijin jadi harus di hukum," ucap Keenan tiba-tiba berubah tegas.


Alin memelas. "Astaga! sama istri kok tega,"


"Salah tetap salah," ucap Keenan penuh penegasan.


Alin hanya pasrah. "Ya udah hukum aja.. Asal jangan suruh cambukin sapi sampai jadi abon, aku gak sanggup" gumam Alin.


Keenan tertawa mendengar celotehan Alin. "Enggak kok.. Hukumannya gak seberat itu."


" Terus apa?" Alin penasaran.


Kemudian Keenan berbisik di telinga Alin.


"Serius?!" tanya Alin membulatkan matanya.


-


-


-


Jangan lupa like dan komen...